Sejarah Tokoh Seni Mozart


 

mozart.jpg

 

Mozart, yang dikenal memiliki kemampuan tala mutlak (mengenal nada dengan tepat tanpa bantuan alat), mengenal musik sejak lahir. Ayahnya, Johann Georg Leopold Mozart adalah komponis penting pada jamannya, salah satu karyanya yang paling penting adalah Kindersinfonie (“Simfoni Anak-Anak”). Wolfgang adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara yang meninggal prematur.Hanya dia dan Maria Anna Mozart (“Nannerl”) yang bertahan hidup sampai dewasa. Sewaktu berumur empat tahun, Mozart sudah mampu memainkan harpsichord dan melakukan improvisasi pada karya-karya musik pendahulunya. Dia bahkan menulis komposisinya yang pertama saat berumur lima tahun. Karya-karyanya antara lain adalah Violin Sonata, dan beberapa Minuet. Leopold mengumpulkan semua komposisi ini tanpa sepengetahuan anaknya. Demikian halnya dengan Nannerl, dia juga adalah pemain piano yang sangat handal. Leopold yang menemukan bakat kedua anaknya merasa “terpanggil” untuk memamerkan mereka ke seluruh Eropa.

Bermain piano di depan Raja Bayern

Mozart kemudian dibawa untuk bermain piano di depan raja Bayern di München. Pada bulan September 1762, Leopold mengambil cuti panjang dari jabatannya untuk mempromosikan anaknya kepada raja-raja. Mereka lalu berangkat ke Wina. Di sana Mozart bermain piano di depan Ratu Maria Theresia yang terpukau akan keahlian permainan Mozart dan Nannerl. Setelah konser ini, Mozart harus mengikuti konser yang cukup panjang selama tiga tahun yaitu Paris (1763, 1765) dan London (17641765). Di tempat-tempat tersebut, Mozart mengadakan konser di depan raja-raja dan juga diuji oleh mereka. Antara lain dengan mengimprovisasi tema-tema yang diberikan oleh penguji dengan mata yang ditutup selembar kain. Mozart disambut sebagai anak ajaib di segala tempat. Di London, dia juga bertemu dengan anak dari Johann Sebastian Bach, yaitu Johann Christian Bach yang sering dipanggil sebagai English Bach. Mozart memainkan piano sonata dalam empat tangan sembari duduk di pangkuan Bach.

Simfoni-simfoni dari Bach dan Carl Friedrich Abel memengaruhi simfoni-simfoni Mozart yang pertama (K.16 & K.19), yang pada tahun 1764 & 1765. Pada 1767, Mozart menggubah beberapa piano sonata dari komponis-komonis lain dan membuatnya menjadi empat buah piano Concerto pertamanya (K.37, K.39, K.40, K.41). Pada tahun 1768, atas permintaan Kaisar Wina, Mozart menggubah Opera buffa (komik opera), La Finta Semplice (namun tak terpentaskan) dan operetta Bastien und Bastienne.

Masa terakhir (1784-1791)

 

W. A. Mozart, 1789

Puncak karier Mozart terdapat pada masa 17841786. Mozart sangat rajin menggubah. Dia membuat duabelas Concerto dan dianggap para musikolog sebagai karyanya yang paling penting. Walau Kaisar Joseph II ikut mendengar konser Mozart, hal itu sama sekali tak membantu keuangannya. Mozart diberi jabatan sebagai pemusik istana dengan gaji yang tak terlalu besar.

Pementasan di Praha

Le Nozze di Figaro (“Pernikahan Figaro”) dipentaskan pertama kali di Wina pada tahun 1786 dan meraih sukses sehingga Mozart membawanya ke Praha (ibukota Ceko) dengan kesuksesan lebih besar lagi.

Mozart menggubah beberapa karya lagi antara lain K. 505, Simfoni No. 38 in D Major ‘Prague’. Berkat kesuksean Le Nozze di Figaro, Mozart bersemangat untuk membuat opera baru antara lain Don Giovanni, sebuah komik opera. Mozart untuk pertama kali memakai trombon pada operanya, hal inilah yang mengakibatkan munculnya efek yang cukup dramatis. Pada tahun 1787, Leopold meninggal dunia dan cukup memengaruhi karya Mozart.

Simfoni-simfoni terakhir Mozart

Simfoni-simfoni terakhir Mozart, Simfoni No. 39, 40, dan 41 ‘Jupiter’ tak diketahui secara pasti apakah mereka dipentaskan sebelum Mozart meninggal atau tidak. Pada musim semi tahun 1789, Mozart pergi ke Berlin tampil sebagai pianis di depan Pangeran Sachsen diDresden, dia juga bermain organ di Thomaskirche di Leipzig. Dia juga memainkan konser privat di depan Friedrich Wilhelm II, di kunjungannya ke Potsdam dan Berlin. Wilhelm II memintanya membuat enam kuartet piano dan enam piano sonata yang sayangnya tak sempat terselesaikan oleh Mozart.

 

363px-mozart-birth-500pix

Kembali ke Wina dan akhir hayat Mozart

Kembali ke Wina, Mozart mementaskan operanya, Die Zauberflote (“Seruling Ajaib”). Opera ini sukses besar, libretto-nya ditulis oleh Emanuel Schikaneder (1751-1812). Setelah opera ini selesai, Mozart mendapat pesanan dari Pangeran Franz von Walsegg untuk membuat sebuah Requiem yang bermaksud menjadikan komposisi tersebut sebagai karyanya untuk mengenang istrinya yang telah meninggal. Mozart tak sempat menyelesaikan karya besar ini lalu diteruskan oleh muridnya, Franz Xaver Süssmayr. Menurut beberapa sumber, Mozart tak sanggup menyanyikan bagian Lacrimosa saat sedang memainkan lagu ini dengan teman-temannya. Dari musiknya yang kelam, Franz Beyer mengomentari, dalam album Requiem ‘Aku bisa mendengar suara Mozart, yang berbicara untuk kepentingannya sendiri, dengan keadaan yang mendesak, seperti anak kecil yang sakit dan melihat ibunya dengan penuh harapan dan ketakutan akan perpisahan. Mozart juga mengalami takut akan kematian. Pada tanggal 5 Desember 1791, Mozart meninggal, jam satu pagi.

Sebab-musabab Mozart meninggal tak pernah tercatat dengan jelas. Para musikolog membuat beberapa dugaan kemungkinan kenapa kuburan Mozart tak diketahui letaknya.

  1. Mozart diracuni Salieri yang merupakan saingannya. Ada jurnal di Eropa yang mengatakan Salieri mengakuinya sebelum ia meninggal di tempat tidurnya (1825), walau ada cerita lain yang menentang hal ini.
  2. Pada pemakaman Mozart terdapat badai salju sehingga keluarganya tak bisa mengikuti pemakaman. Cerita ini dibantah oleh catatan cuaca Wina.
  3. Tubuh Mozart dipindahkan ke tempat lain karena keluarganya tak membayar ongkos penguburan.

 

Sumber

Advertisements

Hari Kereta Api Nasional

hadapi-natal-dan-tahun-baru-pt-kai-siapkan-gerbong-tambahan-2y5ql6d12bvyyodlzli616

 

Kereta api adalah bentuk transportasi rel yang terdiri dari serangkaian kendaraan yang ditarik sepanjang jalur kereta api untuk mengangkut kargo atau penumpang. Gaya gerak disediakan oleh lokomotif yang terpisah atau motor individu dalam beberapa unit.

Meskipun propulsi historis mesin uap mendominasi, bentuk-bentuk modern yang paling umum adalah mesin diesel dan listrik lokomotif, yang disediakan oleh kabel overhead atau rel tambahan. Sumber energi lain termasuk kuda, tali atau kawat, gravitasi, pneumatik, baterai, dan turbin gas. Rel kereta api biasanya terdiri dari dua, tiga atau empat rel, dengan sejumlah monorel dan guideways maglev dalam campuran. Kata ‘train’ berasal dari bahasa Perancis Tua trahiner, dari bahasa Latin trahere ‘tarik, menarik’.

Ada berbagai jenis kereta api yang dirancang untuk tujuan tertentu. Kereta api bisa terdiri dari kombinasi satu atau lebih dari lokomotif dan gerbong kereta terpasang, atau beberapa unit yang digerakkan sendiri (atau kadang-kadang pelatih bertenaga tunggal atau diartikulasikan, disebut sebuah kereta mobil).

Kereta pertama dengan bentuk ditarik menggunakan tali, gravitasi bertenaga atau ditarik oleh kuda. Dari awal abad ke-19 hampir semuanya didukung oleh lokomotif uap. Dari tahun 1910-an dan seterusnya lokomotif uap mulai digantikan oleh kurang dan bersih (tetapi lebih kompleks dan mahal) lokomotif diesel dan lokomotif listrik, sementara pada waktu yang sama beberapa kendaraan unit yang digerakkan sendiri baik sistem tenaga menjadi jauh lebih umum dalam pelayanan penumpang.

Sejarah perkeretaapian sama seperti sejarah alat transportasi umumnya yang diawali dengan penemuan roda. Mulanya dikenal kereta kuda yang hanya terdiri dari satu kereta (rangkaian), kemudian dibuatlah kereta kuda yang menarik lebih dari satu rangkaian serta berjalan di jalur tertentu yang terbuat dari besi (rel) dan dinamakan sepur. Ini digunakan khususnya di daerah pertambangan tempat terdapat lori yang dirangkaikan dan ditarik dengan tenaga kuda.

Setelah James Watt menemukan mesin uap, Nicolas Cugnot membuat kendaraan beroda tiga berbahan bakar uap. Orang-orang menyebut kendaraan itu sebagai kuda besi. Kemudian Richard Trevithick membuat mesin lokomotif yang dirangkaikan dengan kereta dan memanfaatkannya pada pertunjukan di depan masyarakat umum.

George Stephenson menyempurnakan lokomotif yang memenangi perlombaan balap lokomotif dan digunakan di jalur Liverpool-Manchester. Waktu itu lokomotif uap yang digunakan berkonstruksi belalang. Penyempurnaan demi penyempurnaan dilakukan untuk mendapatkan lokomotif uap yang lebih efektif, berdaya besar, dan mampu menarik kereta lebih banyak.

Penemuan listrik oleh Michael Faraday membuat beberapa penemuan peralatan listrik yang diikuti penemuan motor listrik. Motor listrik kemudian digunakan untuk membuat trem listrik yang merupakan cikal bakal kereta api listrik. Kemudian Rudolf Diesel memunculkan kereta api bermesin diesel yang lebih bertenaga dan lebih efisien dibandingkan dengan lokomotif uap.

Seiring dengan berkembangnya teknologi kelistrikan dan magnet yang lebih maju, dibuatlah kereta api magnet yang memiliki kecepatan di atas kecepatan kereta api biasa. Jepang dalam waktu dekade 1960-an mengoperasikan KA Super Ekspress Shinkanzen dengan rute Tokyo-Osaka yang akhirnya dikembangkan lagi sehingga menjangkau hampir seluruh Jepang. Kemudian Perancis mengoperasikan kereta api serupa dengan nama TGV.

 

Pengumuman-Rekrut-Kereta-Api-1.jpg

 

Jenis-jenis kereta api

Dari segi propulsi (tenaga penggerak)

  1. Kereta api uap
  2. Kereta api diesel Terdiri dari:  Kereta rel diesel elektrik (KRDE) dan Kereta rel diesel elektrik (KRDE)
  3. Kereta Rel Listrik
  4. Kereta Magnetic Levitation (MAGLEV)

Dari segi rel

  1. Kereta api rel konvensional
    Kereta api rel konvensional adalah kereta api yang biasa kita jumpai. Menggunakan rel yang terdiri dari dua batang baja yang diletakkan di bantalan kayu jati yang keras. Di daerah tertentu yang memliki tingkat ketinggian curam, digunakan rel bergerigi yang diletakkan di tengah tengah rel tersebut serta menggunakan lokomotif khusus yang memiliki roda gigi, dan hanya ada di pulau Pulau Sumatera & jawa
  2. Kereta api monorel
    Kereta api monorel (kereta api rel tunggal) adalah kereta api yang jalurnya tidak seperti jalur kereta yang biasa dijumpai. Rel kereta ini hanya terdiri dari satu batang besi. Letak kereta api didesain menggantung pada rel atau di atas rel. Karena efisien, biasanya digunakan sebagai alat transportasi kota khususnya di kota-kota metropolitan dunia dan dirancang mirip seperti jalan layang.

Dari segi di atas/di bawah permukaan tanah

  1. Kereta api permukaan (surface)
    Kereta api permukaan berjalan di atas tanah. Biaya pembangunannya untuk kereta permukaan adalah yang termurah dibandingkan yang di bawah tanah atau yang layang.
  2. Kereta api layang (elevated/viaduct)
    Kereta api layang berjalan di atas dengan bantuan tiang-tiang, hal ini untuk menghindari persilangan sebidang, agar tidak memerlukan pintu perlintasan kereta api. Biaya yang dikeluarkan sekitar 3 kali dari kereta permukaan dengan jarak yang sama. Di Jakarta ada satu lintasan dari Manggarai ke Kota lewat stasiun Gambir. Pada lintas tengah ini, Manggarai – Kota, tidak ada pintu perlintasan kereta api. Rencana semula untuk lintas timur (Jatinegara – Senen – Kota) dan lintas barat (Manggarai – Tanah Abang), juga akan dilayangkan belum dapat direalisasikan, sehingga hanya lintas tengah saja yang diselesaikan sementara ini.
  3. Kereta api bawah tanah
    Kereta api bawah tanah adalah kereta api yang berjalan di bawah permukaan tanah. Disebut pula Subway, Underground, Metro dan MRT. Kereta jenis ini dibangun dengan membangun terowongan-terowongan di bawah tanah sebagai jalur kereta api. Biasanya digunakan pada kota-kota besar (metropolitan) seperti New York, Tokyo, Paris, Seoul dan Moskwa. Selain itu ia juga digunakan dalam skala lebih kecil pada daerah pertambangan. Biaya yang dikeluarkan sangat mahal, karena untuk menembus 20 meter di bawah permukaan perlu biaya 7 kali lipat daripada kereta permukaan. Di Jepang pembangunan lintas subway telah dimulai sejak tahun 1905. Di Jakarta sendiri pembangunan kereta bawah tanah (MRT) baru dimulai pada 2013 dan akan selesai 2018.

 

 

Sumber

Tahap Perkembangan Sosial Anak Usia Batita

hH2EXUL73x.jpg
Saat anak masih berusia 2 tahun dan sering mengatakan, “Itu punyaku,” jangan di

marahi karena menganggap ia tak mau berbagi dengan teman sepermainannya. Belum tentu seperti itu, lho, Ma, karena anak-anak di usia itu ternyata memang belum memahami apa itu berbagi. Begitu pula ketika ia masih suka merebut mainan adiknya, dan membuat Mama uring-uringan, menganggap ia tak bisa menjadi kakak yang baik. Belum tentu juga hal itu disebabkan ia tak sayang kepada adiknya. Bisa jadi, ia memang belum memiliki keterampilan sosial empati di usianya tersebut.

Oleh karena itu, pahami dahulu tahapan perkembangan sosial anak sesuai usia. Lalu, maksimalkan potensi yang ia miliki. Membimbing keterampilan sosial anak sesuai tahapan usianya terbukti lebih efektif mengasah sisi positif kepribadian dirinya. Tentu saja, hal itu lebih baik ketimbang sekadar menggunakan subjektivitas Anda dalam mendidik. Berikut ini adalah kemampuan sosial anak sesuai perkembangan usianya.

 

IMG_1108 - Copy.JPG
1 TAHUN
Di usia ini, anak sudah mengembangkan banyak kemampuan sosial, Ma. Kendati belum banyak mengucapkan kata-kata, mereka sudah memiliki dasar kemampuan sosial yang dapat menunjang pergaulannya kelak, antara lain:
  • Berinteraksi dengan orang lain. Pernahkah anak mengulurkan mainannya kepada Mama? Saat itu sebenarnya anak mencoba berinteraksi dengan orang lain di dekatnya. Menurut Dr. Heather Wittenberg, Psy.D, psikolog perilaku di Behavioral Health Services of Maui, Hawaii, Amerika Serikat, “Di usia 1 tahun, anak sudah mampu berinteraksi, namun belum memahami konteks sosial yang rumit, seperti berbagi. Jadi, jangan berharap terlalu banyak. Misal, meminta ia berbagi dengan anak lain.”
  • Mengungkapkan keinginan.  Menurut Maria Kalpidou, Ph.D., profesor psikologi dari Assumption College- Worcester, Massachusetts, Amerika Serikat, kendati belum fasih mengucapkan kalimat-kalimat yang sesuai dengan maksud hatinya, anak berusia satu tahun sebenarnya sudah bisa memahami dasar berkomunikasi, yakni mengungkapkan keinginannya kepada orang lain. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua sering berinteraksi dengan anak agar bisa memahami apa yang ia ungkapkan, sehingga anak pun menjadi semakin terpacu mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi.
  • Mengenali orang-orang sekitar. Saat disapa oleh kakek dan neneknya, si mbak, atau tetangga yang kerap mengajak berinteraksi, ia akan tersenyum atau menatap lekat-lekat untuk menunjukkan bahwa ia nyaman melihat orang-orang yang memang sudah ia kenal. Namun, ketika ada orang baru yang mengajaknya bercanda, sontak ia menangis karena takut terhadap orang asing. Ini merupakan salah satu kemampuan sosial anak, yakni mengenali dan mengamati orang lain.
2 TAHUN
Anak mulai memiliki kemampuan untuk mengaitkan dirinya dengan hal-hal di sekitarnya. Pada usia ini, anak sudah dapat:
  • Merasakan kebersamaan. Saat diajak bermain secara paralel dengan anak lain, ia sudah dapat merasakan kebersamaan, kendati ia tidak selalu bermain bersama anak-anak lain.
  • Menuntut kepemilikan dan teritori.  Saat anak berebut mainan dengan teman sebayanya, dan mengatakan, “Ini punyaku,” berarti ia sudah mulai memahami soal kepemilikan dan menuntut pengakuan orang lain atas dirinya. “Tetapi hal ini sebenarnya adalah refleksi pemikiran egosentris karena perilaku itu disetir oleh keinginannya,” ujar Dr. Kalpidou. Sebagai orang tua, Anda perlu menjadi role model dengan menunjukkan contoh cara berbagi bersama pasangan Anda, sehingga anak pun akan memiliki referensi tindakan sosial yang baik.
  • Mengembangkan hubungan dengan lebih banyak orang.  Jika di usia satu tahun anak mampu berinteraksi dengan satu hingga dua orang yang ada di hadapannya, di usia dua tahun, ia sudah mulai mampu berinteraksi dengan lebih dari satu orang yang ada di hadapannya. Misalnya, saat Mama mengajak anak ke supermarket, dan terlibat perbincangan dengan orang lain, anak sudah bisa memerhatikan orang yang mengajak Mama berbicara. ”Pada usia ini anak sudah lebih nyaman dengan kehadiran orang lain. Kendati beberapa anak masih sulit bertemu orang asing, jangan melabel mereka sebagai ‘pemalu’. Yang terjadi sebenarnya, mereka hanya sedikit lambat beradaptasi sehingga butuh lebih banyak waktu untuk berkenalan,” ujar Dr. Wittenberg.
3 TAHUN
Di usia ini, anak mulai menjajal berteman dengan anak-anak yang lain. Tak perlu heran, ya, Ma, anak di usia ini memang sudah mampu…
  • Mengingat dan membutuhkan teman. Anak mulai bermain dengan teman sepermainan yang disukai. “Oleh karena itu, beri anak lebih banyak kesempatan bersama teman sebayanya, dan bimbing ia mengatasi situasi sosial tertentu. Misalnya, beri aturan bermain bersama dan bergantian,” ujar Dr. Wittenberg.
  • Berimajinasi.  Anak sudah bisa berimajinasi dan melakukan permainan yang melibatkan imajinasi, seperti bermain peran, bongkar pasang baju, dan sejenisnya.
  • Berempati.  Saat berusia 3 tahun, anak mulai memahami berbagai emosi yang berbeda  dari orang tuanya. Melihat Mama menangis, tertawa, atau terpekik takut saat menonton acara televisi, ia pun belajar mengartikan perasaannya sendiri, juga perasaan orang lain. Hal ini menjadi dasar anak mengembangkan kemampuan berempati. Kendati dalam praktiknya, anak masih sulit berbagi di usia ini.

 

Sumber 

Peran Indonesia Dalam Perdamaian Dunia

img_9548.jpg

Kontingen Garuda disingkat KONGA atau Pasukan Garuda adalah pasukan Tentara Nasional Indonesia yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di negara lain. Indonesia mulai turut serta mengirim pasukannya sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB sejak 1957.

Sejarah

Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Mesir segera mengadakan sidang menteri luar negeri negara-negara Liga Arab. Pada 18 November 1946, mereka menetapkan resolusi tentang pengakuan kemerdekaan RI sebagai negara merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan tersebut adalah suatu pengakuan de jure menurut hukum internasional.

Untuk menyampaikan pengakuan ini Sekretaris Jenderal Liga Arab ketika itu, Abdurrahman Azzam Pasya, mengutus Konsul Jenderal Mesir di India, Mohammad Abdul Mun’im, untuk pergi ke Indonesia. Setelah melalui perjalanan panjang dan penuh dengan rintangan terutama dari pihak Belanda maka akhirnya ia sampai ke Ibu Kota RI waktu itu yaituYogyakarta, dan diterima secara kenegaraan oleh Presiden Soekarno dan Bung Hatta pada 15 Maret 1947. Ini pengakuan pertama atas kemerdekaan RI oleh negara asing.

Hubungan yang baik tersebut berlanjut dengan dibukanya Perwakilan RI di Mesir dengan menunjuk HM Rasyidi sebagi Charge d’Affairs atau “Kuasa Usaha”. Perwakilan tersebut merangkap sebagai misi diplomatik tetap untuk seluruh negara-negara Liga Arab. Hubungan yang akrab ini memberi arti pada perjuangan Indonesia sewaktu terjadi perdebatan di forum Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB yang membicarakan sengketa Indonesia-Belanda, para diplomat Arab dengan gigih mendukung Indonesia.

Presiden Sukarno membalas pembelaan negara-negara Arab di forum internasional dengan mengunjungi Mesir dan Arab Saudi pada Mei 1956 dan Irak pada April 1960. Pada 1956, ketika Majelis Umum PBB memutuskan untuk menarik mundur pasukan Inggris, Prancis dan Israel dari wilayah Mesir, Indonesia mendukung keputusan itu dan untuk pertama kalinya mengirim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB ke Mesir yang dinamakan dengan Kontingen Garuda I atau KONGA I.

Daftar kontingen52

Kontingen Garuda I

Kontingen Garuda I dikirim pada 8 Januari 1957 ke Mesir. Kontingen Garuda Indonesia I terdiri dari gabungan personel dari Resimen Infanteri-15 Tentara Territorium (TT) IV/Diponegoro, serta 1 kompi dari Resimen Infanteri-18 TT V/Brawijaya di Malang. Kontingen ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Infanteri Hartoyo yang kemudian digantikan oleh Letnan Kolonel Infanteri Suadi Suromihardjo, sedangkan wakilnya Mayor Infanteri Soediono Suryantoro. Kontingen Indonesia berangkat tanggal 8 Januari 1957 dengan pesawat C-124 Globe Master dari Angkatan Udara Amerika Serikat menuju Beirut, ibukota Libanon. Dari Beirut pasukan dibagi dua, sebagian menuju ke Abu Suweir dan sebagian ke Al Sandhira. Selanjutnya pasukan di El Sandhira dipindahkan ke Gaza, daerah perbatasan Mesir dan Israel, sedangkan kelompok Komando berada di Rafah. Kontingen ini mengakhiri masa tugasnya pada tanggal 29 September 1957. Kontingen Garuda I berkekuatan 559 pasukan.

Kontingen Garuda II

Konga II dikirim ke Kongo pada 1960 dan dipimpin oleh Letkol Inf Solichin GP. Konga II berada di bawah misi UNOC.KONGA II berjumlah 1.074 orang dipimpin Kol. Prijatna(kemudian digantikan oleh Letkol Solichin G.P) bertugas di Kongo September 1960 hingga Mei 1961.

Kontingen Garuda III

Konga III dikirim ke Kongo pada 1962. Konga III berada di bawah misi UNOC dan dipimpin oleh Brigjen TNI Kemal Idris dan Kol Inf Sobirin Mochtar.KONGA III terdiri atas 3.457orang dipimpin oleh Brigjen TNI Kemal Idris, kemudian Kol. Sabirin Mochtar. KONGA III terdiri atas Batalyon 531/Raiders, satuan-satuan Kodam II/Bukit Barisan, Batalyon Kavaleri 7, dan unsur bantuan tempur. Seorang Wartawan dari Medan, H.A. Manan Karim (pernah menjadi Wkl. Pemred Hr Analisis) turut dalam kontingen Garuda yang bertugas hingga akhir 1963. Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani pernah berkunjung ke Markas Pasukan PBB di Kongo (ketika itu bernama Zaire) pada tanggal 19 Mei 1963. Komandan Yon Kavaleri 7 Letkol GA. Manulang gugur di Kongo.

Kontingen Garuda IV

Konga IV dikirim ke Vietnam pada 1973. Konga IV berada di bawah misi ICCS dan dipimpin oleh Brigjen TNI Wiyogo Atmodarminto.Pada tanggal 23 Januari 1973 pasukan Garuda IV diberangkatkan ke Vietnam yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal TNI Wiyogo Atmodarminto, yang merangkap Deputi Militer Misriga dengan kekuatan 294 orang yang terdiri dari anggota ABRI dan PNS Departemen Luar Negeri. Kontingen Garuda IV ini merupakan Kontingen ICCS (International Commission of Cantre and Supervision) pertama yang tiba di Vietnam. Tugas kontingen Garuda IV adalah mencegah pelanggaran-pelanggaran, menjaga status quo, mengawasi evakuasi pasukan dan alat-alat perang serta mengawali pertukaran tawanan perang.

Kontingen Garuda V

Konga V dikirim ke Vietnam pada 1973. Konga V berada di bawah misi ICCS dan dipimpin oleh Brigjen TNI Harsoyo.

Kontingen Garuda VI

Konga VI dikirim ke Timur Tengah pada 1973. Konga VI berada di bawah misi UNEF dan dipimpin oleh Kol Inf Rudini. Kontingen Garuda Indonesia VI di resmikan oleh Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Pangabean. Tugas pokok Kontingen Garuda Indonesia sebagai peace keeping force atau “Pasukan Pemelihara Perdamaian”. Komposisi Kontingen tersebut berintikan Yonif 512/Brigif Kodam VIII/Brawijaya dengan kekuatan 466 orang, dibawah pimpinan Kolonel Inf. Rudini. Sebagai Komandan Komando Taktis, ditunjuk Mayor Basofi Sudirman. Selain pengiriman Kontingen, atas permintaan PBB diberangkatkan pula Brigadir Jenderal Himawan Sutanto sebagai Komandan Brigade Selatan Pasukan PBB di Timur Tengah, pada tanggal 13 Desember 1973. Kontingen Garuda Indonesia VI tiba kembali di Indonesia setelah menyelesaikan tugasnya di Timur Tengah selama sembilan bulan. Pada tanggal 31 September 1974, Kasum Hankam Marsdya TNI Sudharmono atas nama Menhankam/Pangab membubarkan Kontingen Garuda Indonesia VI dan selanjutnya diserahkan kepada kesatuan masing-masing.

Kontingen Garuda VII

Konga VII dikirim ke Vietnam pada 1974. Konga VII berada di bawah misi ICCS dan dipimpin oleh Brigjen TNI S. Sumantri.

Kontingen Garuda VIII

Kontingen Garuda VIII dikirim dalam rangka misi perdamaian PBB di Timur Tengah paska Perang Yom Kippur antara Mesir dan Israel yang berlangsung dari tanggal 6 sampai dengan 26 Oktober 1973, dengan tercapainya gencatan senjata di kilometer 101 dan disusul dengan keluarnya resolusi PBB 340[1]. Kontingen Garuda VIII bertugas di daerah penyangga PBB di Semenanjung Sinai tersebut dikirim dalam 9 gelombang rotasi, dan setiap rotasi bertugas selama 6 bulan. Negara yang berkontribusi dalam pasukan perdamaian dalam wadah UNEF II tersebut yaitu dari Australia, Austria (penerbangan), Kanada (logistik), Finlandia (pasukan), Ghana (pasukan), Indonesia (pasukan), Irlandia,Nepal, Panama, Peru, Polandia (logistik), Senegal dan Swedia (pasukan)[2].

Kontingen Garuda VIII/1

Konga VIII/1 dikirim ke Timur Tengah pada 1974. Konga VIII/1 berada di bawah misi UNEF II dan dipimpin oleh Kol Art Sudiman Saleh.

Kontingen Garuda VIII/2

Konga VIII/2 dikirim ke Timur Tengah pada 1975. Konga VIII/2 berada di bawah misi UNEF II dan dipimpin oleh Kol Inf Gunawan Wibisono. Berintikan anggota TNI dari kesatuan KOSTRAD, yaitu dari YONIF LINUD 305/Tengkorak-BRIGIF LINUD 17/KOSTRAD.

Kontingen Garuda VIII/3

Konga VIII/3 dikirim ke Timur Tengah pada 1976. Konga VIII/3 berada di bawah misi UNEF II dan dipimpin oleh Kol Inf Untung Sridadi.

Kontingen Garuda VIII/4

Konga VIII/4 dikirim ke Timur Tengah pada 1976. Konga VIII/4 berada di bawah misi UNEF II dan dipimpin oleh Kol Inf Suhirno.

Kontingen Garuda VIII/5

Konga VIII/5 dikirim ke Timur Tengah pada 1977. Konga VIII/5 berada di bawah misi UNEF II dan dipimpin oleh Kol Kav Susanto Wismoyo.

Kontingen Garuda VIII/6

Konga VIII/6 dikirim ke Timur Tengah pada 1977. Konga VIII/6 berada di bawah misi UNEF II dan dipimpin oleh Kol Inf Karma Suparman. Inti pasukan Garuda VIII/6 ini adalah dari kesatuan Yonif 700 Linud (Ujung Pandang) dibawah pimpinan Letkol Inf Sarmono (dalam kontingen menjabat sebagai Wakil Komandan Kontingen). Untuk meningkatkan komando dan pengendalian pasukan maka markas kontingen yang semula berada di Kota Suez diajukan ke tengah-tengah buffer zone yaitu di Wadi Reina, Semenanjung Sinai.

Kontingen Garuda VIII/7

Konga VIII/7 dikirim ke Timur Tengah pada 1978. Konga VIII/7 berada di bawah misi UNEF II dan dipimpin oleh Kol Inf Sugiarto.

Kontingen Garuda VIII/

Konga VIII/8 dikirim ke Timur Tengah pada 1978. Konga VIII/8 berada di bawah misi UNEF II dan dipimpin oleh Kol Inf R. Atmanto.

Kontingen Garuda VIII/9

Konga VIII/9 dikirim ke Timur Tengah pada 1979. Konga VIII/9 berada di bawah misi UNEF II dan dipimpin oleh Kol Inf RK Sembiring Meliala.

Kontingen Garuda IX

Kontingen Garuda IX/1

Konga IX/1 dikirim ke IranIrak pada 1988. Konga IX/1 berada di bawah misi UNIIMOG dan dipimpin oleh Letkol Inf Endriartono Sutarto.

Kontingen Garuda IX/2

Konga IX/2 dikirim ke Iran-Irak pada 1989. Konga IX/2 berada di bawah misi UNIIMOG dan dipimpin oleh Letkol Inf. Fachrul Razi.

Kontingen Garuda IX/3

Konga IX/3 dikirim ke Iran-Irak pada 1990. Konga IX/3 berada di bawah misi UNIIMOG dan dipimpin oleh Letkol Inf Jhony Lumintang.

Kontingen Garuda X

Konga X dikirim ke Namibia pada 1989. Konga X berada di bawah misi UNTAG dan dipimpin oleh Kol Mar Amin S.

Kontingen Garuda XI

Kontingen Garuda XI/1

Konga XI/1 dikirim ke Irak-Kuwait pada 1992. Konga XI/1 berada di bawah misi UNIKOM dan dipimpin oleh Letkol Inf Albert Inkiriwang.

Kontingen Garuda XI/2

Konga XI/2 dikirim ke Irak-Kuwait pada 1992. Konga XI/2 berada di bawah misi UNIKOM dan dipimpin oleh May CZI TP Djatmiko. Setelah Kontingen Garuda XI-1 mengakhiri masa tugasnya pada tanggal 23 April 1992 kemudian tugas selanjutnya diserahkan kepada Kontingen Garuda XI-2 untuk melaksanakan tugas sebagai pasukan pemelihara perdamaian PBB di wilayah Irak-Kuwait sebagaimana Kontingen Garuda XI-1. Kontingen gelombang kedua ini berangkat pada tanggal 23 April 1992.Penugasan Kontingen Garuda XI-2 berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 687 tanggal 3 April 1992 pada paragraf 5 tentang pembentukan dan tugas-tugas yang dilaksanakan Unikom dan Surat Perintah Panglima ABRI Nomor Sprin 1024/IV/1992.Sebagai Komandan Kontingen Garuda XI-2 adalah Mayor Czi Toto Punto Jatmiko. Personel anggota Kontingen Garuda XI-2 terdiri dari 6 perwira. Sebagai duta bangsa prestasi yang berhasil dicapai Kontingen Garuda XI-2 adalah berperan mengembalikan personel Amerika Serikat yang ditangkap oleh Polisi Irak di wilayah Kuwait. Di samping itu Kontingen Garuda XI-2 berhasil membujuk suku Bieloven untuk tidak melaksanakan kegiatan pasar gelap. Pada tanggal 23 April 1991 Kontingen Garuda XI-2 telah selesai melaksanakan tugas dan kembali ke tanah air dan mereka kemudian mendapatkan bintang Satyalencana Santi Dharma dari pemerintah.

Kontingen Garuda XI/3

Konga XI/3 dikirim ke Irak-Kuwait pada 1993. Konga XI/3 berada di bawah misi UNIKOM dan dipimpin oleh May Kav Bambang Sriyono. Garuda XI-2 mengakhiri masa tugasnya pada tanggal 23 April 1992, maka Kontingen Garuda XI-3 menggantikan Kontingen Garuda XI-2 untuk melaksanakan tugas sebagai pasukan pemelihara perdamaian PBB di wilayah Irak-Kuwait. Kontingen ini beranggotakan enam orang perwira ABRI di bawah pimpinan Mayor Kav. Bambang Sriyono. Mereka berangkat ke wilayah Irak-Kuwait pada tanggal 19 April 1993 dan kembali ke tanah air pada tanggal 25 April 1994.Atas permintaan Dewan Keamanan PBB pada tanggal 10 Oktober 1993 Pemerintah Indonesia mengirimkan Letkol Inf. Hasanudin sebagai anggota Staf UNIKOM. Ia termasuk Kontingen Garuda XI/UNIKOM dan berhasil melaksanakan tugas dengan baik. Pada tanggal 17 Oktober 1994 kontingen ini kembali ke tanah air.

Kontingen Garuda XI/4

Konga XI/4 dikirim ke Irak-Kuwait pada 1994. Konga XI/4 berada di bawah misi UNIKOM dan dipimpin oleh May Inf Muh. Mubin.

Kontingen Garuda XI/5

Konga XI/5 dikirim ke Irak-Kuwait pada 1995. Konga XI/5 berada di bawah misi UNIKOM dan dipimpin oleh May CPL Mulyono Esa.

Kontingen Garuda XII

Kontingen Garuda XII/A

Konga XII/A dikirim ke Kamboja pada 1992. Konga XII/A berada di bawah misi UNTAC dan dipimpin oleh Letkol Inf Erwin Sujono.

Kontingen Garuda XII/B

Konga XII/B dikirim ke Kamboja pada 1992. Konga XII/B berada di bawah misi UNTAC dan dipimpin oleh Letkol Inf Ryamizard Ryacudu.

Kontingen Garuda XII/C

Konga XII/C dikirim ke Kamboja pada 1993. Konga XII/C berada di bawah misi UNTAC dan dipimpin oleh Letkol Inf Darmawi Chaidir.

Kontingen Garuda XII/D

Konga XII/D dikirim ke Kamboja pada 1993. Konga XII/D berada di bawah misi UNTAC dan dipimpin oleh Letkol Inf Saptaji Siswaya dan Letkol Inf Asril Hamzah Tanjung. Pada tanggal 20 Januari 1993 Kontingen Garuda XII-D diberangkatkan ke Kamboja untuk menggantikan Kontingen Garuda XII-C. Kontingen Garuda XII-D dipimpin oleh Letkol Inf. Saptadji dan wakilnya Mayor Inf. Suryo Sukanto. Jumlah personel 850 orang terdiri atas 390 orang dari Yonif 303/SSM Kostrad, 213 orang anggota Korps Marinir TNI AL dan 217 orang anggota ABRI dari berbagai kesatuan. Selama penugasan terjadi penyusutan lima orang personel, karena tiga orang menderita kecelakaan ranjau, satu orang kecelakaan lalu lintas dan satu orang sakit. Untuk menggantikan personel tersebut dikirim 63 orang, sehingga pada akhir penugasan berjumlah 908 personel.

Kontingen Garuda XII (Civpol)

Konga XII dikirim ke Kamboja pada 1992. Konga XII berada di bawah misi UNTAC (civil police) dan dipimpin oleh Kol Pol Drs S. Tarigan dan Kol Pol Drs Rusdihardjo.

Kontingen Garuda XIII[sunting | sunting sumber]

Konga XIII dikirim ke Somalia pada 1992. Konga XIII berada di bawah misi UNOSOM dan dipimpin oleh May Mar Wingky S.

Kontingen Garuda XIV

Kontingen Garuda XIV/1

Konga XIV/1 dikirim ke Bosnia-Herzegovina pada 1993. Konga XIV/1 berada di bawah misi UNPROFOR dan dipimpin oleh Letkol Inf Eddi Budianto.

Kontingen Garuda XIV/2

Konga XIV/2 dikirim ke Bosnia pada 1994. Konga XIV/2 berada di bawah misi UNPROFOR dan dipimpin oleh Letkol Inf Tarsis K.

Kontingen Garuda XIV/3

Konga XIV/3 dikirim ke Bosnia pada 1994. Konga XIV/3 berada di bawah misi UNPROFOR.

Kontingen Garuda XIV/4

Konga XIV/4 dikirim ke Bosnia pada 1994. Konga XIV/4 berada di bawah misi UNPROFOR (civil police) dan dipimpin oleh Letkol Pol Drs Suhartono.

Kontingen Garuda XIV/5

Konga XIV/5 dikirim ke Bosnia pada 1994. Konga XIV/5 berada di bawah misi UNPROFOR dan dipimpin oleh Letkol Art Mazni Harun.

Kontingen Garuda XIV/A

Konga XIV/A dikirim ke Bosnia pada 1994. Konga XIV/A berada di bawah misi UNPROFOR (Yokes) dan dipimpin oleh Letkol CKM dr Heridadi. Konga XIV/A ini merupakan petugas kesehatan.

Kontingen Garuda XIV/B

Konga XIV/B dikirim ke Bosnia pada 1994. Konga XIV/B berada di bawah misi UNPROFOR (Yonkes) dan dipimpin oleh Letkol CKM dr Budi Utoyo. Konga XIV/B ini merupakan pasukan yang bertugas mendukung misis kesehatan. pasukan kesehatan ini pun di dukung oleh beberapa personel dari zeni(lettu CZI Deni dkk ),Hub (kapten Chb Sarjuno Dkk), Pal ( lettu Cpl Herry Dkk ), Bekang ( kapten CBA Eko Sedaryanto Dkk ), pasukan ini merupakan gabungan tim kesehatan dari beberapa matra yakni TNI AD, TNI AU, TNI AL. tergabung dalam satu kontingen garuda XIV/B, lagu mars konga kebanggaan Indonesia di ciptakan oleh Lettu Ckm Hasyim, yang saat ini menjabat di Denkes Garut. Wassalam. salam garuda

Kontingen Garuda XIV/C

Konga XIV/C dikirim ke Bosnia pada 1995. Konga XIV/C berada di bawah misi UNPROFOR (Yon Zeni) dan dipimpin oleh Letkol CZI Anwar Ende. Konga XIV/C ini adalah dariBatalyon Zeni.

Kontingen Garuda XV

Konga XV dikirim ke Georgia pada 1994. Konga XV berada di bawah misi UNOMIG dan dipimpin oleh May Kav M. Haryanto. Kontingen Garuda XV pada awalnya merupakan kontingen para Military Observer yang bertugas di bawah misi United Nations Observer for Military in Georgia (UNOMIG). Bertugas di Rep. of Georgia untuk mengawasi perjanjian damai antara Rep. of Georgia dan Rep. of Abkhazia (Self Autonomous), yang merupakan upaya pemecahan diri dari sebagian wilayah. Pertama kali misi ini di kirimkan pada tahun 1994 dan berakhir tahun 2009.

Kontingen Garuda XVI

Konga XVI dikirim ke Mozambik pada 1994. Konga XVI berada di bawah misi UNOMOZ dan dipimpin oleh May Pol Drs Kuswandi. Kontingen ini terdiri dari 15 pasukan.

Kontingen Garuda XVII

Konga XVII dikirim ke Filipina pada 1994. Kontingen ini bertugas dari 17 Juni 1994 sampai 28 Desember 1994. KONGA XVII dipimpin oleh Brigjen TNI Asmardi Arbi, bertugas di Filipina sebagai pengawas gencatan senjata setelah adanya perundingan antara MNLF pimpinan Nur Misuari dengan pemerintah Filipina.

Kontingen Garuda XVIII

KONGA XVIII dikirim ke Tajikistan pada November 1997. Kontingen ini terdiri dari 8 perwira TNI yang dipimpin oleh Mayor Can Suyatno.

Kontingen Garuda XIX

Kontingen Garuda XIX/1

Konga XIX/1 dikirim ke Sierra Leone pada 19992002. Konga XIX/1 beranggotakan 10 perwira TNI dipimpin oleh Letkol K. Dwi Pujianto dan bertugas sebagai misi pengamat (observer mission).

Kontingen Garuda XIX/2

Konga XIX/2 dikirim ke Sierra Leone pada 1999-2002. Konga XIX/2 beranggotakan 10 orang dipimpin oleh Letkol PSK Amarullah. Konga XIX/2 bertugas sebagai misi pengamat.

Kontingen Garuda XIX/3

Konga XIX/3 dikirim ke Sierra Leone pada 1999-2002. Konga XIX/3 beranggotakan 10 perwira dipimpin oleh Letkol (P) Dwi Wahyu Aguk. Konga XIX/3 bertugas sebagai misi pengamat.

Kontingen Garuda XIX/4

Konga XIX/4 dikirim ke Sierra Leone pada 1999-2002. Konga XIX/4 beranggotakan 10 perwira dan dipimpin oleh Mayor CZI Benny Oktaviar MDA. Konga XIX/4 bertugas sebagai misi pengamat. [1]

Kontingen Garuda XX

Kontingen Garuda XX/A

Konga XX/A dikirim ke Bungo, Kongo pada 6 September 2003 dan bertugas selama 1 tahun. Konga XX/A berjumlah 175 prajurit dari Kompi Zeni dibawah pimpinan Mayor CZIAhmad Faizal. [2]

Kontingen Garuda XX/B

Konga XX/B bertugas di Republik Demokratik Kongo. Konga XX/B berasal dari Kompi Zeni. [3]

Kontingen Garuda XX/C

Konga XX/C dikirim ke Republik Demokratik Kongo pada 28 September 2005. Konga XX/C berjumlah 175 personel dan dipimpin Mayor Czi Demi A. Siahaan. Konga XX/C berasal dari Kompi Zeni. [4]

Sebagai Military Observer (Milobs) di MONUC Congo)tahun 2005-2006 yang bertugas di Riverine Section sebagai Team Leader di kapal-kapal MONUC melaksanakan patroli di sungai Congo dari Kinshasa – Mbandaka – Kisangani 1. Mayor Laut (E) Ir. Wahyu Broto 2. Mayor Mar Werijon

Kontingen Garuda XX/D

Konga XX/D rencananya akan diberangkatkan ke Republik Demokratik Kongo untuk menggantikan Konga XX/C yang telah bertugas selama hampir satu tahun. Konga XX/D berjumlah 175 personel dan dipimpin oleh Mayor Czi Jamalulael. Konga XX/D berasal dari Kompi Zeni yang terdiri dari kelompok komando 27 orang, tim kesehatan 11 orang, ton bantuan 30 orang, ton 1 Zikon 22 orang, ton 2 Zikon 22 orang, ton 3 Zikon 22 orang dan ton Alberzi 41 orang [5].

Kontingen Garuda XXI

Kontingen Garuda XXI merupakan kontribusi TNI dalam misi perdamaian PBB di Liberia (UNMIL) yang terdiri dari perwira AD, AL, AU yang terlatih dalam misi PBB dan mempunyai kecakapan khusus sebagai pengamat militer (UN military observer).

Konga XXI sampai saat ini 2009 sudah masuk gelombang ke-6:

  1. Konga XXI-1 dipimpin oleh Letkol Lek. Bayu Roostono, bertugas tahun 2003-2004 dalam periode DDRR, pasca perang sipil II.
  2. Konga XXI-2 dipimpin oleh Letkol (L) Putu Angga, bertugas tahun 2004-2005 dalam periode pasca pemilu dan pemilu.
  3. Konga XXI-3 dipimpin oleh Letkol (L) Supriatno, beserta dua orang perwira lainnya yaitu Mayor Inf Fritz Pasaribu dan Mayor Pnb Andri G. bertugas tahun 2005-2006 dalam periode pemulihan keamanan, rekonstruksi, pemilu dan pemerintahan demokratis pertama semenjak perang sipil 14 tahun.
  4. Konga XXI-4 dipimpin oleh Letkol Kav. Hilman Hadi, beserta dua orang perwira lainnya yaitu Mayor Mar Beni dan Kapten Adm Tri Ambar Nugroho, bertugas tahun 2006-2007, sudah memasuki tahap konsolidasi setelah berhasil melewati tahap DDRR.
  5. Konga XXI-5 dipimpin oleh Letkol Lek. Joseph Rizki P., bertugas tahun 2007-2008, di saat misi UNMIL memulai tahap drawdown.

Kontingen Garuda XXI dalam melaksanakan tugasnya senantiasa didukung oleh Perhimpunan Masyarakat Indonesia di Liberia (PERMIL) termasuk beberapa staf Internasional yang berasal dari Indonesia.

Kontingen Garuda XXII

Kontingen Garuda XXII merupakan kontribusi TNI dalam misi perdamaian PBB di Sudan (UNMIS) yang terdiri dari perwira AD, AL, AU yang bertugas khusus sebagai pengamat militer (UN Military Observer). Sekarang ini Konga XXII juga berkontribusi untuk UNAMID (Darfur).

Kontingen Garuda XXII/G berjumlah 6 personel TNI yang bertugas sebagai UNMO (UN Military Observer)untuk UNMIS (United Nations Mission In Sudan) yang terdiri dari: Mayor Inf Tri Saktiyono, Mayor Laut (E) Danny Bachtera, Mayor Adm Mirza Hus’an, Mayor Arh I Made Kusuma Dhyana Graha, Mayor Tek Lully Hermawan, dan Kapten Laut (E) Ertawan Juliadi. Periode Penugasan Konga XXII/G ini terhitung mulai tanggal 9 Februari 2008 sampai dengan 8 Februari 2009.

Kontingen Garuda XXII/H berjumlah 3 personel TNI yang bertugas sebagai UNMO (UN Military Observer)untuk UNMIS (United Nations Mission In Sudan) yang terdiri dari: Mayor Arm Ari Estefanus , Mayor Laut (P) Robert Marpaung , Mayor Lek Johni Purwnato. Periode penugasan Konga XXII-H/08 terhitung mulai 23 Agustus 2008 – 22 Agustus 2009. Dengan Tugas pokok : Monitorir , Verifikasi dan Implementasi Perjanjian Damai Komprehensif (Comprehensive Peace Agreement/CPA) dengan sasaran yaitu Proses Gencatan senjata , Proses DDR ,Sensus , Pemilu dan Referendum. Dalam kurun tersebut terjadi beberapa peristiwa penting : Indictment Presiden Baasyir, Malakal Assault , PCA Abyei dan penolakan hasil Pemilu oleh SPLM.

Kontingen Garuda XXII/I berjumlah 3 personel TNI yang bertugas sebagai UNMO (UN Military Observer)untuk UNMIS (United Nations Mission In Sudan) yang terdiri dari: Mayor Inf Freddino Silalahi, Mayor Laut (adm) Tarmizi dan, Mayor (psk) Nana Setiawan. Periode Penugasan Konga XXII/I ini terhitung mulai tanggal 4 September 2008 sampai dengan 3 September 2009. Tugas Pokok para Milobs adalah mengawasi gencatan senjata antara tentara SAF (pemerintah)& SPLA (pemberontak)untuk mendukung pelaksanaan Referendum pada tahun 2011 nantinya.

Kontingen Garuda XXIII/A

Konga XXIII/A bertugas sebagai bagian dari Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) dan rencananya akan berangkat pada akhir September 2006 tetapi kemudian ditunda karena PBB menunda keberangkatan pasukan perdamaian dari negara-negara Asia sehingga akhirnya pasukan dikembalikan lagi ke kesatuannya masing-masing. Kontingen Garuda XXIII/A dipimpin oleh Kolonel Surawahadi dan terdiri dari 850 personel TNI. Anak pertama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyonojuga ikut serta dalam pasukan ini.

Kontingen Garuda XXIII-B/UNIFIL[sunting | sunting sumber]

Bertugas di Lebanon Selatan pada tahun 2007 – 2008 di bawah komando Letkol Inf A M Putranto, S.Sos sebagai Dansatgas dan Letkol Mar Ipung Purwadi sebagai Wadansatgas. Satgas Yonif Mekanis TNI Konga XXIII-B/UNIFIL berkekuatan 850 personel dengan komposisi personel: 541 AD, 242 AL, 63 AU, 1 Kemhan dan 3 Deplu.

Kontingen Garuda XXIII/C

Bertugas di Lebanon Selatan pada tahun 2008 – 2009 dibawah UNIFIL

Kontingen Garuda XXIII/D

Bertugas di Lebanon Selatan pada tahun 2009 – 2010 dibawah UNIFIL Bertugas di Lebanon Selatan pada tahun 2009 – 2010 di bawah Pimpinan Letkol Inf Andi Perdana Kahar (Akmil 1992) sebagai Dansatgas dan Letkol Mar Guslin Kamase (AAL 1993) sebagai Wadansatgas. Satgas Yonif Mekanis TNI Konga XXIII-D/UNIFIL berkekuatan 1000 personel dengan main body dari Yonif Raider 323/13/1 Kostrad.

Kontingen Garuda XXIII/E

Bertugas di Lebanon Selatan pada tahun 2010- 2011 dibawah UNIFIL, pimpinan Letkol Inf Hendy Antariksa. Untuk pertama kalinya Konga XXIII-E selain mendapat UN Medal seperti Konga pada umumnya, juga mendapatkan Brevet Kehormatan UNIFIL dari Komandan Sektor Timur UNIFIL. Selain itu, Konga XXIII-E juga mendapatkan kepercayaan perluasan 5 wilayah binaan.

Kontingen Garuda XXIV

Bertugas di Nepal. Kontingen Garuda XXIV merupakan kontribusi TNI dalam misi perdamaian PBB di Nepal (UNMIN) yang terdiri dari perwira AD, AL, AU yang terlatih dan dibekali ilmu dalam misi PBB serta mempunyai kecakapan khusus sebagai pengamat militer (UN military observer).

Konga XXIV sampai misi terakhir 2011 adalah gelombang ke-4:

  1. Konga XXIV-1 dipimpin oleh Mayor , beserta 5 orang perwira lainnya bertugas selama 1 tahun dari tahun 2007-2008, pasca perang tahun 2006.
  2. Konga XXIV-2 dipimpin oleh Kol Laut (T) (Anumerta) Sondang Dodi Irawan, beserta lima orang perwira lainnya Mayor Laut (E) Ir. Wahyu Broto, Mayor Arh M Fahmi Rizal Nasution, Mayor Pnb Lubis, Mayor Supomo dan Mayor Inf Mulyaji bertugas selama 1 tahun 6 bulan 2 minggu dari tahun 2008-2009 dalam periode pasca pemilu dan pemilu.
  3. Konga XXIV-3 dipimpin oleh Mayor Kav Arief Munandar, beserta empat orang perwira lainnya yaitu Mayor Inf Budi Prasetyo, Mayor Kav Sindhu Hanggara, Mayor Arh IGN Wahyu Jatmiko dan Mayor Adm Djoko Nugroho bertugas selama 1 tahun dari tahun 2009-2010.
  4. Konga XXIV-4 dipimpin oleh Mayor Arm Aziz Mahmudi, beserta empat orang perwira lainnya yaitu Mayor Mar Arief Rahman Hakim, Mayor Kal R Akhmad Wahyuniawan, Kapten Arm Abdi wirawan dan Kapten L (P) Agus Wijaya, bertugas selama 4 bulan dari 28 Agustus 2010 sd 15 Januari 2011, sudah memasuki tahap konsolidasi.

Kontingen Garuda XXIV dalam melaksanakan tugasnya senantiasa didukung oleh Masyarakat Indonesia di Nepal termasuk beberapa staf Internasional yang berasal dari Indonesia.

Kontingen Garuda XXV

Berdasarkan Frago (fragmentery order) Nomor10-10-08 tanggal 30 Oktober 2008, penambahan Kontingen Indonesia dalam rangka misi perdamaian dunia di Lebanon Selatan memberikan kesempatan kepada 75 prajurit Polisi Militer TNI untuk turut serta memberikan sumbangsih bhakti yang mana Kontingen Satgas POM TNI 25A (Satgas POM TNI pertama) dipimpin oleh Letkol CPM Ujang Marteniz dalam kurun waktu 2008 – 2009, selanjutnya Satgas POM TNI 25B, dipimpin oleh Letkol CPM Ekoyatma Parnowo dalam kurun waktu 2009 – 2010, kemudian, yang saat ini sedang bertugas adalah Satgas POM TNI 25C, yang dipimpin oleh Letkol CPM Dwi Prasetyo Wiranto.

Satgas POM TNI di Lebanon, berkedudukan langsung dibawah Force Commander of UNIFIL (FC assets), namun bertempat di wilayah Sektor Timur UNIFIL, itulah sebabnya Satgas POM TNI di Lebanon disebut INDO SEMPU. Wilayah sektor timur, yang juga merupakan wilayah Area of Responsibility (AOR) daripada SEMPU meliputi 4 batalion area, yaitu, Kontingen Malaysia, Batalion India (Alpha Area), Batalion Spanyol (Bravo Area), Batalion Indonesia (Charlie Area) dan Batalion Nepal (Delta Area).

Kontingen Garuda XXVI

Menyusul keberhasilan penugasan Kontingen Garuda XXIII bersama dengan UNIFIL, sekaligus dalam rangka memperbesar peran serta Indonesia dalam pemeliharaan perdamaian di Lebanon Selatan dan atas permintaan PBB, maka dikirimkan pasukan tambahan Indonesia untuk melaksanakan tugas sebagai satuan Force Headquarter Support Unit (FHQSU) dan INDO Force Protection Company (INDO FP Coy) berjumlah 200 orang. Tugas yang diemban berbeda dengan Konga XXIII (INDOBATT) yang merupakan satuan Yonif Mekanis yang memiliki wilayah operasi di sekor timur UNIFIL, Konga XXVI merupakan satuan yang bertugas untuk mendukung pelayanan dan pengamanan di UNIFIL HQ – Naqoura. Konga XXVI-A tiba pertama kali di Naqoura pada tanggal 31 Oktober 2008, dipimpin oleh Kolonel Mar Saud P. Tamba Tua.

Kontingen Garuda XXVI-B

Kontingen Garuda XXVI-B terdiri dari 2 Satuan Tugas; Konga XXVI-B1 merupakan Satgas Indonesian Force Head Quarter Support Unit (FHQSU) yang di komandani oleh Kolonel Inf Restu Widiantoro dan Kontingen Garuda XXVI-B2 sebagai kompi pengaman UNIFIL Headquater atau Force Protection Company (FP Coy) dengan Komandan Satgas Letkol Inf Fulad. Tugas-tugas yang dilaksanakan oleh Kontingen Garuda XXVI-B sama dengan Kontingen Garuda XXVI-A.

Kontingen Garuda XXVI-C1

Kontingen Garuda XXVI-C1 merupakan pengganti Konga XXVI-B1 dengan tugas-tugas yang tidak jauh berbeda dengan Satgas sebelumnya. Namun Kontingen Garuda XXVI-C1 yang dipimpin oleh Kolonel PNB Yulianta ini membawa serta 5 orang prajurit Wanita TNI (Wan TNI) sebagai bagian dari quota yang telah ditetapkan oleh United Nation kepada Troops Contibuting Countries sebesar 10 % dari keserulurah jumlah kontingen negara penyumbang pasukan perdamaian.

Kontingen Garuda XXVI-C2

Kontingen Garuda XXVI-C2 mengawali misinya di Lebanon pada 19 Nopember 2010, setelah upacara Transfer of Autority dengan Konga XXVI-B2. Serah terima wewenang dan tanggung jawab pengamanan diserahkan dari Komandan Kontingen XXVI-B2 Letkol Inf Fulad kepada Komandan Kontingen Garuda XXVI-C2 Mayor Inf Henri Mahyudi di markas Indo FP Coy “Soedirman Camp” Naqoura.

Adapun tugas pokok Kontingen Garuda XXVI-C2 antara lain; 1. Penjagaan Main Gate, Patroli, Observation Post dan penjagaan Food Platoon. 2. Menyiapkan Tim Penanggulangan Huru-Hara (CRC) dengan kemampuan untuk mengendalikan massa. 3. Menyiapkan Tim Reaksi Cepat (QRT)yang dapat digerakan setiap saat. 4. Melaksanakan pengawalan terhadap semua asset Force Commander (FC) pada saat perjalanan di daerah operasi, termasuk escort pelaksanaan Tripartite Meeting antara Lebanon Arms Forces (LAF), Israel Defence Force (IDF) dan UNIFIL. 5. Sebagai bagian dari unit pertahanan terkoordinasi di wilayah Naqoura UNIFIL Head Quarter. 6. Memberikan bantuan perkuatan terhadap unsur-unsur UNIFIL lainnya di luar Naqoura Camp. 7. Melaksanakan tugas lainnya sesuai perintah Force Commander.

Kontingen Garuda XXVI-C2 mengakhiri misinya di Lebanan pada tanggal 23 Nopember 2011 dan diserahkan kepada Kontingen Garuda XXVI-D2 yang dipimpim oleh Kapten InfWimoko dalam upacara TOA di Lapangan Upacara Sudirman Camp. Secara keseluruhan Kontingen Garuda XXVI-C1 dan XXVI-C2 mengakhiri misi di Lebanon pada tanggal 1 Desember 2011 dan untuk selanjutnya kembali ke Tanah Air.

Kontingen Garuda XXVI-D1

Kontingen Garuda XXVI-D1 bertugas di Lebanon mulai tanggal 22 November 2011 sampai dengan 25 November 2012 sebagai satgas FHQSU (Force Headquarter Support Unit) dan mempunyai dua tugas pokok yaitu di bidang security (force protection) dan di bidang camp management yang berkedudukan langsung dibawah Force Commander UNIFIL. Konga XXVI-D1 di bawah kepemimpinan Kolonel Adm Darmawan Bakti yang berlokasi di Markas UNIFIL karena bertugas untuk escort apabila Force Commander UNIFIL bergerak keluar AoR (Area of Responsibility) UNIFIL utamanya menjadi mediator dalam pertemuan rutin Tripartit Meeting antara IDF (Israel Defence Force) dengan LAF (Lebanese Armed Forces).

Kontingen Garuda Indonesia XXVII

Kontingen Garuda XXVII – 1 tergabung dalam misi UNAMID di Darfur bertugas sejak tanggal 21 Agustus 2008 sampai dengan tanggal 21 Agustus 2009 dalam satgas Milobs dipimpin oleh Mayor Pnb Destianto Nugroho.

Kontingen Garuda XXVII – 2 tergabung dalam misi UNAMID di Darfur bertugas sejak tanggal 8 Oktober 2010 sampai dengan tanggal 8 Oktober 2011 dalam satgas Milobs dipimpin oleh Letkol CHK Tiarsen, yang didukung oleh 2 personel.

Kontingen Garuda XXVII – 3 tergabung dalam misi UNAMID di Darfur bertugas sejak tanggal 14 Februari 2011 sampai dengan tanggal 14 Februari 2012 dalam Satgas Military Observer dengan beranggotakan Mayor Arh Irwan Setiawan, Mayor Kal Bambang Witono dan Kapten Laut (P) Dian Wahyudi serta Satgas Military Staff atas nama Mayor Kal R.Akhmad Wahyuniawan yang bertugas sebagai Staff Officer Air Operation UNAMID Headquarter – El Fasher.

Kontingen Garuda XXVII – 4 tergabung dalam misi UNAMID di Darfur bertugas sejak tanggal 08 Nopember 2011 sampai dengan tanggal 22 Nopember 2012 sebagai Military Observer dengan anggota Mayor Arm Abdi Wirawan dan Mayor Lek Bayu Hendraji.

KONTINGEN GARUDA XXVI-C

Kontingen Garuda XXVI-C/UNIFIL menginjakan kaki Lebanon pada tanggal 15 Nopember 2010 tepatnya sekitar pukul 22.00 LT atau sesuai waktu Indonesia sekitar pukul 02.00 WIB tanggal 16 Nopember 2011. Kontingen Garuda XXVI-C terbagi dalam 2 Satuan Tugas; Pertama, Satgas Indonesia Force Head Quarter Support Unit (Indo FHQSU) dan tergabung dalam Kontingen Garuda XXVI-C1 dipimpin oleh Komandan Satgas Kolonel PNB Yulianta sekaligus bertindak selaku Komandan Kontingen Garuda periode 2010-2011. Kedua, Satgas Indonesian Force Frotection Company (Indo FP Coy) dan tergabung dalam Kontingen Garuda XXVI-C2 dipimpin oleh Komandan Satgas Mayor Inf Henri Mahyudi Hamid, S.Sos. Kontingen Garuda XXVI adalah salah dari sekitar 8 Satgas-Satgas TNI yang tergelar di Lebanon dalam rangka untuk melaksanakan Tugas Perdamaian Dunia sesuai dengan Resolusi DK PBB / UNSCR 1701/2006, sebagai konsekuensi dari perang 34 hari antara Israel Defence Force dengan kelompok-kelompok militan di Lebanon.

KONTINGEN GARUDA XXVI-C1

Kontingen Garuda XXVI-C1 atau yang lebih dikenal dengan Satgas Indonesian Force Head Quarter Support Unit (Indo-FHQSU) merupakan gabungan personel dari 3 Matra (TNI-AD, AL dan AU). Tugas utama Satgas ini adalah memberikan pelayanan kepada seluruh personel UNIFIL baik Sipil maupun militer dalam hal akomodasi, kesejahteraan,maupun pelayanan bagi akses untuk masuk ke dalam lingkungan UNIFIL Head Quarter. Komandan Satgas Indo FHQSU periode ini dijabat oleh Kolonel PNB Yulianta dengan membawahi 50 orang personel, 5 orang diantaranya adalah Wanita TNI (Kowad, Wara dan Kowal)

Kontingen Garuda XXVI-C2

Kontingen Garuda XXVI-C2 atau biasanya di Indonesia dikenal dengan Satgas Indonesian Force Protection Company (Indo FPC) adalah Satuan Tugas yang diberikan wewenang dan tanggung Jawab untuk pengamanan UNIFIL Head Quarter di Naqoura. Kontingen Garuda XXVI-C2/UNIFIL mengambil alih tanggung jawab pengamanan dari Kontingen Garuda XXVI-B2/UNIFL melalui upacara Transfer Of Autority (TOA) dari Letkol Inf Fulad kepada Mayor Inf Henri Mahyudi dalam upacara serah terima yang dilaksanakan pada tanggal 19 Nopember 2010 di Lapangan Upacara Sudirman Camp. Kontingen Garuda XXVI-C2/UNIFIL terdiri dari 150 prajurit yang direkrut melalui seleksi dari Pasukan elit TNI antara lain dari Kopassus, Paskhas, Marinir, Den Jaka dan beberapa personel pendukung dari Kostrad dan Mabes TNI.

Adapun Tugas-tugas yang dilaksanakan oleh Kontingen Garuda XXVI-C2 meliputi : 1. Penjagaan Main Gate, Patroli, Observation Post dan penjagaan Food Platoon. 2. Menyiapkan Tim Penanggulangan Huru-Hara (CRC)dengan kemampuan untuk mengendalikan massa dalam waktu singkat dapat bergerak menuju ke titik ancaman. 3. Menyiapkan Tim Reaksi Cepat 24/7 yang dapat digerakan setiap saat. 4. Melaksanakan pengawalan (escort) terhadap semua asset Force Commander pada saat perjalanan di daerah operasi dengan mengacu pada Frago Force Commander. 5. Sebagai bagian dari unit pertahanan terkoordinasi di wilayah Naqoura UNIFIL Head Quarter. 6. Memberikan bantuan perkuatan terhadap unsur-unsur UNIFIL lainnya di luar Naqoura Camp jika mendapatkan serangan. 7. Melaksanakan tugas lainnya sesuai perintah Force Commander.

Kontingen Garuda XXVI-C2 mengakhiri misi perdamaian dunia di Lebanon Selatan pada 1 Desember 2011, dengan ditandai dengan penyerahan bendera PBB kepada Kontingen Garuda XXVI-D2/UNIFIL dalam upacara TOA pada tanggal 23 Nopember 2011 kepada Kapten Inf Wimoko.

 

sumber

 

 

Sejarah Berdirinya PMI

4934901_20130507022150-3

 

Perhimpunan Palang Merah Indonesia (PMI) sudah dimulai sejak masa sebelum perang  dunia ke-II. Saat itu 21 oktober 1873 pemerintah colonial belanda mendirikan organisasi Palang Merah di Indonesia Het Nederland-Indische Rode Kruis (NIRK) yang kemudian berubah menjadi Nederland Rode Kruis Afdeling Indie (NERKAI). Seiring deangan pergeseran waktu, timbul semangat untuk mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) diawali sekitar tahun 1932. Rencana pendirian tersebut dipelopori oleh  dr. RCL Senduk dan dr. Bahder Djohan. Rencana itu mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia.  Mereka berusaha keras membawa rancangan tersebut dalam Sidang Konferensi NERKAI pada tahun 1940 walaupun akhirnya ditolak. Dengan sangat terpaksa rancangan tersebut disimpan untuk menanti kesempatan yang lebih tepat.

Seperti tak kenal lelah, saat pendudukan jepang mereka kembali  mencoba membentuk suatu Badan Palang Merah Nasional. Namun mengalami kegagalan juga karena mendapat halangan dari pemerintah tentara jepang dan untuk keduakalinya raancangan tersebut harus disimpan.

Akhirnya tepat tujuh belas hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yaitu pada tanggal 3 september 1945, Presiden Soekarno  mengeluarkan perintah untuk membentuk suatu badan Palang Merah Nasional. Atas perintah Presiden RI , maka dr. buntaran yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI Kabinet I, membentuk panitia lima pada 5 september 1945. Panitia tersebut terdiri atas : dr. R. Mochtar (Ketua), dr. Bahder Djohan (Penulis), serta tiga orang anggota, yaitu dr. Djuhana, dr. Marzuki dan dr. Sitanala.

Hasil dari kerja panitia lima tersebut akhirnya berhasil membentuk Perhimpunan Palang Merah Indonesia (PMI) pada 17 september 1945,  dan diketuai oleh Drs. Mohammad Hatta yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Pasca pembentukan, PMI mulali merintis kegiatannya dengan member bantuan korban perang revolusi kemerdekaan Indonesia dan pengembalian tawanan perang Sekutu maupun Jepang.

PMI terus melakukan kegiatan pemberian bantuan kemanusiaan hingga akhirnya melalui Keputusan Presiden (Keppres)RIS, Keppres Nomor 25 tanggal 16 januari 1950 yang diperkuat dengan Keppres nomor 246 tanggal 29 November 1963, Pemerintah Indonesia mengakui Keberadaan PMI.

Secara Internasional pada 15 juni 1950, keberadaan PMI diakui oleh Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross) atau disingkat dengan sebutan ICRC. Setelah itu PMI diterima menjadi anggota Perhimpunan Nasional ke-68 oleh Liga Perhimpunan Palang Merah, yang saat ini dikenal dengan IFRC (International Federation of Red Cross and red Crescent Societies) pada 16 oktober 1950.

palang-merah-indonesia-1-copy

 

Nama – nama Tokoh yang Pernah Menjabat Ketua PMI :

  1. Ketua PMI I (1945 – 1946)     : Drs. Mohammad Hatta
  2. Ketua PMI II (1946 – 1948)    : Soetardjo Kartohadikoesoemo
  3. Ketua PMI III (1948 – 1952)   : BPH. Bintoro
  4. Ketua PMI IV (1952 – 1954)   : Prof. Dr. Bahder Djohan
  5. Ketua PMI V (1954 – 1966)    : K.G.P.A.A. Paku Alam VIII (3 Periode)
  6. Ketua PMI VI (1966 – 1969)   : Letna Jenderal Basuki Rachmat
  7. Ketua PMI VII (1970 – 1972) : Prof. Dr. Satrio (3 Periode)
  8. Ketua PMI VIII (1982 – 1986) : Dr. H. Soeyoso Soemodimedjo
  9. Ketua PMI IX (1986 – 1994)   : Dr. H. Ibnu Sutowo (2 Periode)
  10. Ketua PMI X (1994 – 1999)    : Dra. Siti Hardiyanti Rukmana
  11. Ketua PMI XI (1999 – 2010)   : Mar’ie Muhammad (2 Periode)

 
Ketua  PMI XII (2010 –  )      : Drs. H. M. Jusuf Kalla

 

Sumber

Memahami 3 Karakter Anak

Tiap anak punya karakter dan temperamen berbeda. Ada tiga tipe yang paling sering bisa dijumpai: Penakut/pemalu, tukang rewel/aktif/cerewet, dan si manis yang mudah diatur.

Seperti apa ciri-ciri mereka dan bagaimana cara terbaik menghadapi mereka? Anak Anda termasuk yang mana?

1. Si penakut/pemalu

67253-begini-cara-mengasuh-anak-pemalu-agar-tidak-minder-dalam-pergaulan

Ketika Anda membawa si kecil yang penakut bertemu dengan orang lain, jangan harap ia bisa langsung bergabung. Tak mudah baginya untuk langsung bergabung dalam suatu aktivitas kelompok. Anda harus sering-sering membawa dia ke tempat tersebut, sampai ia merasa nyaman bermain di sana. Setelah ia terlihat nyaman dan bisa berbaur dengan anak-anak lain, Anda bisa pelan-pelan meninggalkannya.

2. Tukang rewel/aktif/ceriwis

download

Menghadapi anak seperti ini, Anda perlu ekstra sabar. Sikap kalem menghadapinya akan sangat membantu. Menurut Alice Sterling Honig, Ph.D., penulis Secure Relationships: Nurturing Infant-Toddler Attachments in Early Care Settings, anak-anak yang suka rewel, moody, atau gampang ngambek punya perasaan dan respon yang lebih peka dibanding anak lain.

Mereka juga tertawa lebih keras dan suka protes. Karena batas kesabaran mereka rendah, mereka jadi lebih mudah tantrum. Anak-anak ini menunjukkan tingkat aktivitas tinggi dan selalu bergerak. Mereka mungkin tidak mau tidur siang ketika anak-anak lain seusianya tidur siang. Begitupun ketika harus beradaptasi dengan orang dan situasi baru, hal itu benar-benar bisa merupakan perjuangan ekstra.

Menghadapi anak seperti ini, cobalah untuk lebih fleksibel. Kalau ia sedang asyik menyelesaikan puzzle-nya, jangan menghentikan kegiatannya untuk tidur siang. Bisa-bisa ia malah jadi tantrum. Berikan pula ruang gerak yang lebih leluasa untuknya, agar ia bisa berlari-larian ke sana kemari.

3. Si manis yang penurut

download-1

Beruntung sekali bila Anda memiliki anak dengan karakter seperti ini. Tentu saja Anda akan bisa lebih santai melewatkan waktu bersamanya. Karena ia tak terlalu minta perhatian, justru Andalah yang perlu lebih banyak memberikan perhatian untuknya, dan jangan lupa mensyukuri betapa manisnya ia sepanjang hari.

Source: Parenting.co.id / Picture Source: Google

Metode Time Out untuk Kendalikan Marah Anak

manfaat-pelukan

Sebagai orang dewasa kita tentu pernah merasakan emosi negatif seperti marah dan sedih. Anak-anak, seperti halnya orang dewasa, juga bisa merasakan emosi negatif. Namun demikian, anak-anak tidaklah seperti orang dewasa yang lebih piawai menguasai emosi negatifnya. Kerap kali dapat kita temui anak-anak mengamuk untuk mengungkapkan emosi negatifnya. Mereka berteriak, menendang dan memukul, serta menjadi sulit dikendalikan jika keinginannya tidak dituruti. Kondisi seperti ini dinamakan temper tantrum, atau sering disebut tantrum saja.
Memenuhi tuntutan anak saat mengamuk secara tidak langsung mengajarkan bahwa ia bisa mendapatkan segalanya dengan marah. Padahal marah adalah hal yang harus dikendalikan. Salah satu metode untuk mengatasi marah pada anak adalah metode Time Out.
Metode Time Out menjadi bahasan utama acara talkshow oleh Rumah Parenting pada Ahad lalu. Penjelasan tentang Time Out diawali dengan materi Pengelolaan Emosi Anak oleh Psikolog Elia Daryati. Bahasan mengenai teknis pelaksanaan Time Out kemudian dikupas oleh Dokter Zulaehah Hidayati. Sebuah sesi sharing penerapan Time Out dalam pengasuhan anak juga dilakukan Dokter Zulaehah bersama Dokter Deswara . Antusiasme peserta tampak jelas saat sesi pertanyaan dibuka oleh pembawa acara.
Time Out adalah cara untuk mengendalikan marah dan menghentikan perilaku buruk anak dengan memberikannya  kesempatan untuk menenangkan diri dan berpikir kembali atas perbuatan yang dilakukannya.
Mengendalikan marah adalah sebuah keterampilan yang harus diajarkan. Jika tidak, tidak menutup kemungkinan anak akan mengalami kesulitan mengendalikan emosi hingga saat ia dewasa. Saat anak marah sebenarnya adalah momen bagi orangtua untuk mengajarkan pengendalian emosi. Namun karakteristik emosi anak biasanya meledak-ledak, siapalah orangtua yang tidak panik jika anak sudah ngamuk.
Pada saat anak meledak-ledak emosinya, tidak jarang orangtua berusaha menasehati anak. Padahal, saat tantrum otak reptil anak sedang aktif. Ini mengakibatkan semua nasehat akan mental dan tidak akan didengar. Orangtua yang kesal pada akhirnya memarahi anak. Saat marah kerap kali orangtua menggunakan kata-kata yang dapat menyakiti anak. Tanpa sadar anak dilabeli nakal dan tidak penurut.
 206212_orangtua-sedang-memarahi-anak_663_382
Tepat Terapkan Time Out
Time Out bukanlah hukuman. Time Out merupakan senjata terakhir untuk menghadapi perilaku buruk anak jika peringatan tidak mempan. Mempraktekan Time Out haruslah dibarengi dengan metode parenting yang benar.
Melakukan Time Out harus di sat yang tepat. Time Out tidak boleh terlalu sering digunakan. Ingatlah bahwa Time Out adalah jalan terakhir. Time Out digunakan untuk mengtasi emosi berlebihan dan perilaku buruk yang benar-benar merugikan. Orangtua harus paham, mana tindakan yang  bisa diatasi dengan Time Out mana yang tidak. Jangan sampai salah.
Contoh kasus anak malas belajar. Perilaku ini tidak tepat jika diatasi dengan Time Out. Malas belajar dapat diatasi dengna menanamkan semngat dan pujian kepada anak, serta mencari tahu kesulitan apa yang dihadapi anak hingga ia enggan belajar. Jika anak dilakukan Time Out karena malas belajar, bisa-bisa anak mengalami salah motivasi. Belajar bukan untuk mencari ilmu, tapi agar tidak di-Time Out.
Pada prakteknya, saat Time Out anak dipersilakan untuk duduk sendiri di tempat yang telah ditentukan. Anak diharapkan dapat menenangkan diri dan meredakan emosinya. Sebelum melakukan Time Out, komunikasikan kepada anak apa itu Time Out. Kalau perlu jauh-jauh hari berilah contoh oleh orangtua. Misalkan saat orang tua kesal, orangtua meminta izin pada anak untuk diam sejenak sambil berkata, “Ibu mau Time Out dulu di kamar.” Dengan begitu anak mengerti maksud dari Time Out itu apa.
Perlu diingat bahwa Time Out bukanlah hukuman. Time Out adalah sarana untuk membantu anak mengendalikan emosinya. Saat akan melakukan Time Out pada anak, pastikan orangtua bicara tanpa emosi dan tanpa banyak kata-kata untuk berusaha menasehati anak.
Jika setelah diberi tiga kali peringatan anak tidak menghentikan perilaku buruknya Time Out bisa dilakukan. Beritahu anak berapa lama ia harus melakukan Time Out. Lama Time Out disesuaikan dengan usia anak. Saat Time Out dilakukan orangtua harus konsisten. Jika anak berusaha meninggalkan tempat Time Out sebelum waktu yang telah disepakati, bawa kembali ke tempatnya.
Jika anak dilakukan Time Out karena marah berlebihan, ajaklah anak berbincang setelah selesai Time Out. Berempatilah padanya, dengarkan kisah si anak kenapa tadi ia marah. Bantulah anak untuk mengeluarkan unek-unek kekesalannya agar ia lega. Namun jika anak dilakukan Time Out karena melakukan perilaku buruk, ajaklah ia beraktivitas kembali tanpa harus mengungkit perilaku buruknya.
Time Out juga bisa dilakukan pada orang dewasa. Esensi dari Time Out adalah meredakan emosi negatif. Orang dewasa bisa mengalihkan energi dari emosi negatif untuk hal lain, misalkan dengan membersihkan rumah, atau berjalan kaki.

 

Sumber