Metode Time Out untuk Kendalikan Marah Anak

manfaat-pelukan

Sebagai orang dewasa kita tentu pernah merasakan emosi negatif seperti marah dan sedih. Anak-anak, seperti halnya orang dewasa, juga bisa merasakan emosi negatif. Namun demikian, anak-anak tidaklah seperti orang dewasa yang lebih piawai menguasai emosi negatifnya. Kerap kali dapat kita temui anak-anak mengamuk untuk mengungkapkan emosi negatifnya. Mereka berteriak, menendang dan memukul, serta menjadi sulit dikendalikan jika keinginannya tidak dituruti. Kondisi seperti ini dinamakan temper tantrum, atau sering disebut tantrum saja.
Memenuhi tuntutan anak saat mengamuk secara tidak langsung mengajarkan bahwa ia bisa mendapatkan segalanya dengan marah. Padahal marah adalah hal yang harus dikendalikan. Salah satu metode untuk mengatasi marah pada anak adalah metode Time Out.
Metode Time Out menjadi bahasan utama acara talkshow oleh Rumah Parenting pada Ahad lalu. Penjelasan tentang Time Out diawali dengan materi Pengelolaan Emosi Anak oleh Psikolog Elia Daryati. Bahasan mengenai teknis pelaksanaan Time Out kemudian dikupas oleh Dokter Zulaehah Hidayati. Sebuah sesi sharing penerapan Time Out dalam pengasuhan anak juga dilakukan Dokter Zulaehah bersama Dokter Deswara . Antusiasme peserta tampak jelas saat sesi pertanyaan dibuka oleh pembawa acara.
Time Out adalah cara untuk mengendalikan marah dan menghentikan perilaku buruk anak dengan memberikannya  kesempatan untuk menenangkan diri dan berpikir kembali atas perbuatan yang dilakukannya.
Mengendalikan marah adalah sebuah keterampilan yang harus diajarkan. Jika tidak, tidak menutup kemungkinan anak akan mengalami kesulitan mengendalikan emosi hingga saat ia dewasa. Saat anak marah sebenarnya adalah momen bagi orangtua untuk mengajarkan pengendalian emosi. Namun karakteristik emosi anak biasanya meledak-ledak, siapalah orangtua yang tidak panik jika anak sudah ngamuk.
Pada saat anak meledak-ledak emosinya, tidak jarang orangtua berusaha menasehati anak. Padahal, saat tantrum otak reptil anak sedang aktif. Ini mengakibatkan semua nasehat akan mental dan tidak akan didengar. Orangtua yang kesal pada akhirnya memarahi anak. Saat marah kerap kali orangtua menggunakan kata-kata yang dapat menyakiti anak. Tanpa sadar anak dilabeli nakal dan tidak penurut.
 206212_orangtua-sedang-memarahi-anak_663_382
Tepat Terapkan Time Out
Time Out bukanlah hukuman. Time Out merupakan senjata terakhir untuk menghadapi perilaku buruk anak jika peringatan tidak mempan. Mempraktekan Time Out haruslah dibarengi dengan metode parenting yang benar.
Melakukan Time Out harus di sat yang tepat. Time Out tidak boleh terlalu sering digunakan. Ingatlah bahwa Time Out adalah jalan terakhir. Time Out digunakan untuk mengtasi emosi berlebihan dan perilaku buruk yang benar-benar merugikan. Orangtua harus paham, mana tindakan yang  bisa diatasi dengan Time Out mana yang tidak. Jangan sampai salah.
Contoh kasus anak malas belajar. Perilaku ini tidak tepat jika diatasi dengan Time Out. Malas belajar dapat diatasi dengna menanamkan semngat dan pujian kepada anak, serta mencari tahu kesulitan apa yang dihadapi anak hingga ia enggan belajar. Jika anak dilakukan Time Out karena malas belajar, bisa-bisa anak mengalami salah motivasi. Belajar bukan untuk mencari ilmu, tapi agar tidak di-Time Out.
Pada prakteknya, saat Time Out anak dipersilakan untuk duduk sendiri di tempat yang telah ditentukan. Anak diharapkan dapat menenangkan diri dan meredakan emosinya. Sebelum melakukan Time Out, komunikasikan kepada anak apa itu Time Out. Kalau perlu jauh-jauh hari berilah contoh oleh orangtua. Misalkan saat orang tua kesal, orangtua meminta izin pada anak untuk diam sejenak sambil berkata, “Ibu mau Time Out dulu di kamar.” Dengan begitu anak mengerti maksud dari Time Out itu apa.
Perlu diingat bahwa Time Out bukanlah hukuman. Time Out adalah sarana untuk membantu anak mengendalikan emosinya. Saat akan melakukan Time Out pada anak, pastikan orangtua bicara tanpa emosi dan tanpa banyak kata-kata untuk berusaha menasehati anak.
Jika setelah diberi tiga kali peringatan anak tidak menghentikan perilaku buruknya Time Out bisa dilakukan. Beritahu anak berapa lama ia harus melakukan Time Out. Lama Time Out disesuaikan dengan usia anak. Saat Time Out dilakukan orangtua harus konsisten. Jika anak berusaha meninggalkan tempat Time Out sebelum waktu yang telah disepakati, bawa kembali ke tempatnya.
Jika anak dilakukan Time Out karena marah berlebihan, ajaklah anak berbincang setelah selesai Time Out. Berempatilah padanya, dengarkan kisah si anak kenapa tadi ia marah. Bantulah anak untuk mengeluarkan unek-unek kekesalannya agar ia lega. Namun jika anak dilakukan Time Out karena melakukan perilaku buruk, ajaklah ia beraktivitas kembali tanpa harus mengungkit perilaku buruknya.
Time Out juga bisa dilakukan pada orang dewasa. Esensi dari Time Out adalah meredakan emosi negatif. Orang dewasa bisa mengalihkan energi dari emosi negatif untuk hal lain, misalkan dengan membersihkan rumah, atau berjalan kaki.

 

Sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s