Selamat Tahun Baru Imlek 2017

IMG_20170125_211108_181.jpg

Imlek atau tahun baru china 2017 jatuh pada 28 Januari 2017, di kesempatan kali ini Serenata PMC mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek 2017 bagi semua warga keturunan Tionghoa yang merayakan.

IMG_20170127_135108_185.jpg

Semoga di tahun baru imlek kali ini diberikan rizki serta kesehatan dan kedamaian tercurah kepada kita semua. Amin

IMG_20170125_211803_819.jpg

Advertisements

Imlek Concert & Art Exhibition

IMG_5704.JPG

Hi! Pada 22 Januari 2017 kemarin, Serenata PMC dan La Alfabeta baru saja menyelenggarakan event pertama di tahun 2017 loh yaitu Mini Concert Imlek & Art Exhibition. Seru banget acaranya!

IMG_5528.JPG

Acara ini merupakan salah satu ajang tahunan di SPMC sebagai sarana penyaluran bakat seni dari seluruh siswa SPMC. Event ini di kemas dalam bentuk mini concert. Selain kompetisi musik, acara ini juga di selingi berbagai kegiatan menarik dan seru seperti performance dari beberapa guest star, teachers, display art, dan juga kegiatan face painting yang sangat di gemari siswa dan teachers khususnya untuk kaum wanita.

IMG_0570.JPG

Last but not least… masih banyak kok event Serenata PMC dan La Alfabeta yang dapat di ikuti. Sampai bertemu di event-event selanjutnya. Tetap semangat dan terus berlatih ya!

IMG_20170125_211108_181.jpg

Amatra Peduli “Gerakan Satu Pohon Sejuta Perubahan”

DSC0600_1.jpg

Seperti kita ketahui Pulau Bali yang memiliki keanekaragaman keunikan budaya dan adat serta tradisinya, juga menyimpan banyak potensi sumber daya yang melimpah. Sayangnya potensi itu, kurang mendapat perhatian karena tenggelam oleh gemerlapnya daya tarik wisata di Bali selatan. Namun di mata salah satu Wakil Rakyat Bali di tingkat pusat yang kini menjabat Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, A.A. Bagus Adhi Mahendra Putra, M.H kesan tersebut mulai berubah. Amatra sapaan akrab Politisi asal Kerobokan, Badung itu mulai menggerakan generasi muda di seluruh Bali untuk menaman pohon apa saja, salah satunya bibit buah unggul dengan memamaafkan potensi lahan kosong atau tanah yang tidak pernah dimamfaatkan, sehingga bisa menambah penghasilan masyarakat sekitarnya.

Cita-cita lewat Program Amatra Peduli itu, juga bertujuan untuk mengembalikan keasrian alam dan lingkungan di Bali yang tertuang dalam “Gerakan Satu Pohon Sejuta Perubahan” sekaligus mengajak seluruh generasi muda di Bali, diantaranya anggota Sekehe Teruna Teruni (STT) maupun Karang Taruna dan perkumpulan pemuda lainnya, agar kembali terketuk hatinya untuk terus menjaga alam dan lingkungan agar bisa menjadi warisan anak cucunya kelak. Untuk itu, tepat di penghujung tahun 2016, Amatra Peduli bersama warga dan anggota STT setempat kembali menggelar Gerakan Satu Pohon Sejuta Perubahan dengan optimalisasi lahan untuk kesejahteraan rakyat di sekitar kawasan Desa Wisata Pancoran Solas, Desa Guliang Kangin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Sabtu (31/12).

 

Kehadiran Amatra langsung disambut para pemangku, pengglingsir dan krama desa beserta pengurus STT di Desa Guliang Kangin. Pada saat itu, Bendesa Adat Guliang Kangin, Ngakan Putu Suarsana sangat mengapresisi dukungan Amatra yang mengajak generasi muda bersama warga untuk ikut Gerakan Satu Pohon Sejuta Perubahan, sehingga dapat mengembalikan kepedulian terhadap alam dan lingkungan di Desa Wisata Guliang Kangin. “Program Amatra Peduli di desa wisata ini patut dicontoh oleh semua lapisan masyarakat. Kita sangat apresiasi kepedulian Pak Gung Adhi (Amatra, red) yang langsung turun menggerakan generasi muda yang sejak awal selalu berbuat untuk masyarakat. Bahkan sekarang juga ikut gerakan menaman bersama para pemuda untuk menjaga lingkungan sebagai garda terdepan menjalankan adat dan budaya,” ungkapnya.

Dikatakan sebelumnya, Amatra juga pernah menyerahkan bantuan bale kulkul di Desa Guliang. Kepedulian Amatra itu berlanjut dengan memberikan perhatian lebih kepada generasi muda, karena banyak pengaruh negatif yang bisa menjerumuskan generasi muda seperti dampak negatif medsos dan pergaulan bebas. Sehingga dari awal kegiatan penanam pohon seperti yang digencarkan Amatra Peduli terus dilakukan seperti gerakan menanam pohon cempaka yang sudah berjalan selama setahun. “Kita sangat mendukung gerakan menanam dari Amatra Peduli, karena kita tidak ingin desa wisata hanya jadi label saja. Program ini selanjutnya akan didukung Gerakan Sapta Pesona dan Sadar Wisata. Terkait kebersihan juga terus digalakan dengan sistem bank sampah sesuai tradisi dan budaya. Apalagi sebelumnya juga pernah dibantu jembatan dan akses jalan ke Pancoran Solas sehingga menjadi desa wisata yang unik,” katanya.

Gerakan Satu Pohon Sejuta Peruhanan dari Amatra Peduli ini, ternyata langsung mematik kembali semangat generasi muda disekitar kawasan Desa Wisata Pancoran Solas yang kompak datang bersama-sama Amatra untuk menanam satu persatu bibit pohon buah unggul, berupa ratusan bibit manggis dan durian. Rasa lelah menanam bibit pohon di medan yang berat dan cukup curam tersebut nampaknya terhapuskan dengan semangat dan rasa bangga mereka, jika kelak bisa merawat dan memetik hasil buah yang ditanam saat pergantian tahun 2016 menuju 2017. “Terima kasih atas dukungan Pak Gung Mahendra (Amatra, red) kepada generasi muda untuk mengembangkan desa wisata agar dikenal masyarakat luas. Usai menanam, kita akan programkan pembersihan pohon yang ditanam di Pancoran Solas. Kita harapkan Amatra Peduli bisa terus mendukung kegiatan kami di desa wisata ini,” ucap Ketua STT Eka Budi Dharma, I Made Gede Gita Adiyana.

Usai gerakan menanam tersebut, Amatra mengaku sempat prihatin dengan Bendesa Adat Guliang Kangin yang menanggung beban berat menyandang desa wisata, karena harus terus menjaga desa tetap asri, baik dari sisi adat dan budaya maupun alam serta lingkungannya. Namun dengan semangat bersama warga dan generasi muda tersebut, nantinya desa wisata ini malah bisa dikembangkan menjadi desa spiritual. “Kita menyerahkan bibit pohon buah-buahan di wilayah Pancoran Solas, sehingga adik-adik STT harus terus peduli lingkungan. Bibit yang ditanam juga unggul bersertifikat tidak bibit sembarangan, sehingga harus dijaga dan dirawat dengan baik. Ini bisa menjadi pendapatan yang tidak diduga. Selama 3 tahun bisa berbuah dan bisa menjadi penghasilan. Saya serahkan bibit manggis 100 dan durian 50 bibit. Coba dihitung berapa penghasilan dari buah yang dihasilkan nantinya. Karena itu mari sekarang rawat pohon itu lewat Gerakan Satu Pohon Sejuta Perubahan,” jelas Ketua Pemenangan Pemilu Bali Nusra DPP Partai Golkar itu.

Selain itu, Amatra juga merasa bangga bersama generasi muda dan masyarakat setempat telah berbuat untuk alam. “Makanya ulian liang di Guliang, tiang selalu tersentak untuk berbuat lebih banyak, dikarenakan masyarakatnya yang sangat menjaga pesidikaran dengan kuat. Mungkin itu karena titah Ida Bhatara, sehingga saya minta generasi muda ikut bergerak menjaga alam tanpa melihat apapun partainya,” tegas Ketua Jaringan Sosial Swadiri Bali (JSSB) ini, seraya mengaku akan segera membantu bale pesandekan di Pancoran Solas yang diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar Rp60 juta. Selain itu Amatra juga menyerahkan sarana peralatan olah raga untuk persiapan pertandingan bola volly di Desa Guliang.

sumber

Jimi Hendrix – Sang Dewa Gitar Dunia

Johnny Allen Hendricks atau Jimi Hendrix lahir di King Country Hospital, Seattle, Washington pada 27 November 1942, Ia putra sulung pasangan Alex Hendricks yang Afro-Amerika Meksiko dan Lucille, seorang Indian Cherokee. Nama itu merupakan pemberian ibunya, yang kemudian diubah oleh sang ayah menjadi James Marshall Hendricks pada saat Hendrix kecil berusia 4 tahun. Kedua orangtuanya kemudian berpisah saat Jimi berumur tiga tahun. Ayahnya Alex yang bekerja sebagai tukang sapu, menghidupi keluarganya dengan susah payah.

Jimi kecil pun sering membantu ayahnya menyapu, dan dengan sapu itulah ia pertama kali bergaya bak seorang gitaris. Ia sering menirukan gaya duckwalk khas Chuck Berry. Sang ayah ternyata sering memperhatikan sikap puteranya. Pada 1952, saat Jimi berusia 10 tahun, sang ibu wafat. Hal ini membuat Jimi sangat terpukul dan menjadi anak yang pemurung. Alex sebagai seorang penganut agama yang taat, mengajarinya untuk tabah. Ia sering mengajak Jimi ke gereja dan ikut dalam paduan suara. Tetapi itu rupanya belum cukup untuk menghibur Jimi.

Karena kasihan melihat Jimi yang tak kunjung berhenti bersedih, ayahnya membelikan Jimi sebuah gitar akustik sebagai hadiah ulang tahun ke-12. Gitar itu dibeli dari seorang kawan ayahnya itu seharga 5 dollar. Gitar itu kemudian dibalik susunan senarnya oleh Jimi yang kidal, sehingga ia dapat memainkan gitarnya dengan tangan kiri memetik senar, sedangkan yang kanan menari di atas fretboard. Dengan bermain gitar, Jimi mulai dapat melupakan kepedihan ditinggal ibunya. Apalagi tiga bulan kemudian, Jimi dibelikan lagi sebuah gitar listrik Supro Ozark 160S oleh Alex. Eksplorasi musiknya pun menjadi lebih luas dengan gitar tersebut dan Jimi membentuk bandnya yang pertama Velvetone.

Sepanjang masa remaja itulah Jimi terus berlatih memainkan gitar. Ia sempat dikeluarkan dari sekolahnya Garfield High School gara-gara kebandelannya mengganggu para ceweq. Setelah putus sekolah, ia malah bisa lebih konsen membantu sang ayah. Dan tentunya ia juga lebih banyak mempunyai waktu untuk mengulik gitar. Jimi punya kegemaran mendengarkan album milik musisi blues beken seperti B.B. King, Elmore James dan Muddy Waters, ataupun para rock n’ roller seperti Chuck Berry dan Eddie Cochran. Lagu ‘Rock And Roll Music’ dari Chuck Berry termasuk lagu yang paling sering dibawakan Hendrix. Bahkan kemudian B.B. King memberi penghormatan kepadanya dengan mengabadikan nama ibu Hendrix, Lucille pada gitar Gibsonnya.

Jimi mulai berkarir di musik tahun 1960, saat ia menjadi anggota sebuah band bernama Rocking Kings dan mulai sering manggung di tempat konser seputar Seattle. Walaupun sudah mulai menarik perhatian para pencinta musik, ia tampaknya belum bisa menunjukkan totalitasnya karena setahun kemudian ia malah kena wajib militer dan bergabung dengan angkatan darat di Fort Ord, California. Kemudian ia ditempatkan di 101st Airborne Paratroopers di Fort Campbell, Kentucky sebagai pasukan penerjun. Saat inilah ia bertemu dengan Billy Cox, seorang pemain bass berkulit hitam yang cukup disegani di kalangan musisi blues pada saat itu. Mereka sempat bermain di dalam band angkatan.

Celebrity-Image-Jimi-Hendrix-15823.jpg
Dikarenakan cedera pergelangan kaki saat penerjunan yang ke- 26 kalinya, Hendrix kemudian diminta meninggalkan angkatan. Hikmah dari kejadian ini —seperti kemudian dikemukakan Hendrix — adalah ia jadi tidak perlu ikut dalam perang Vietnam yang meletus beberapa tahun kemudian. Saat itulah ia kembali bergabung dengan bekas teman-teman bandnya dan membentuk Bob Fisher & The Barnevilles. Mereka kemudian menjadi band pembuka untuk beberapa musisi untuk tour Amerika sebelum Hendrix kemudian pindah ke Vancouver, Kanada.

Tahun 1963, Hendrix pindah lagi ke Tennessee, dan di kampungnya Elvis Presley ini, ia bermain dengan sederet nama top waktu itu seperti Little Richard, Hank Ballard dan The Supremes. Ia juga ikutan di dua single-nya Lonnie Youngblood. Sayang, ia tidak sempat membuat kerja sama dengan Elvis. Tetapi ia sering menampilkan hit dari sang raja itu, yaitu ‘Hound Dog’ dan bahkan sempat pula merekamnya. Tentunya dengan versinya sendiri yang penuh teriakan dan geraman terutama di bagian chorus-nya.

Merasa kurang bisa mengembangkan karirnya, Hendrix pindah lagi dan kali ini ke New York. Di kota Big Apple itu, ia bermain bersama dengan Isley Brothers, sepanjang tahun 1964, termasuk untuk rekamannya di studio. Ia juga berkolaborasi dengan penyanyi soul Curtis Knight. Knight kemudian menulis lagu ‘Ballad Of Jimi’ yang ditulisnya pada 1965, setelah Jimi berkata padanya bahwa ia (Jimi) akan mati lima tahun lagi. Tahun itu juga Hendrix menjadi anggota band pendamping Little Richard dan sering berkeliling di panggung- panggung seputar New York, salah satunya adalah Paramount Theater.

Sebagai musisi pendukung, tentu saja Hendrix kurang dapat mengekspos kemampuannya bermain gitar secara maksimal. Bahkan Little Richard pernah menyuruhnya melepas pakaiannya yang dinilai terlalu mencolok. Dan menggantinya dengan pakaian yang sudah dipersiapkan bagi musisi pengiring. Menjadi orang kedua tentunya bukanlah harapan Hendrix. Tidak bisa menonjolkan diri dan dengan bayaran kecil membuatnya tertekan. Suatu ketika ia berjalan-jalan bersama pacarnya Jeannette Jacobs, ia menunjuk pada baju-baju bagus di etalase sebuah toko. Ia bilang pada Jeannette, ”Jika saya terkenal nanti, saya akan belikan kamu baju seperti itu.” Jeannette tersenyum, tidak yakin hal itu akan jadi kenyataan. Karena saat itu Jimi sendiri hanya memiliki dua potong kemeja, dua celana dan sepasang sepatu butut.

Pada tahun berikutnya 1966, Hendrix mulai menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Ia membangun bandnya sendiri, Jimmy James & The Blue Flames. Saat main di Café Wha! di Greenwich Village, New York pada bulan Juni, penampilannya dikagumi oleh Linda Keith. Linda yang pacar gitaris Rolling Stones, Keith Richards itu, tak lama kemudian mempertemukannya dengan bassis grup Inggris The Animals, Chas Chandler. Chandler pula yang mengusulkan mengganti nama Hendricks menjadi Hendrix. Ia kemudian mengajak Hendrix mengembangkan karir di London.

Ke Inggris? Tempat para jawara gitar itu? Hendrix sempat ragu. Selain Keith Richards, di Inggris bercokol para gitaris hebat seperti George Harrison (The Beatles), Pete Townsend (The Who) dan tiga gitaris jebolan Yardbirds: Jimmy Page (Led Zeppelin), Jeff Beck dan Eric Clapton (Cream). Hendrix minder untuk bertemu dengan Richards dan yang lainnya. Tetapi bilang pada Chandler ia ingin juga bertemu dengan Clapton. “Tidak ada masalah dengan Richards,” kata Chandler. “Pacarnya sendiri yang merekomendasi kamu,” tambahnya. “Dan jika Clapton mendengarkan permainan kamu, maka dialah yang ingin bertemu kamu.” Chandler meyakinkan Hendrix. Dan walaupun membutuhkan waktu lima minggu untuk berpikir, ia pun akhirnya setuju. Maka, setelah mengurus berbagai macam keperluan, berangkatlah keduanya ke London.

jimi-hendrix-live-wallpaper-desktop-1.jpg
Setiba di London pada 24 September 1966, Hendrix yang sebenarnya masih ragu, diajak Chandler ke kafenya Zoot Money. Di kafe yang merupakan tempat nongkrong para musisi itu, Hendrix sempat ber-jam session dengan pemusik setempat. Akhirnya — setelah bermain sekitar dua jam — Hendrix menemukan kepercayaan dirinya dan merasa akan cocok berkarir di Inggris. Chandler kemudian mengajak Hendrix berkeliling dari tempat satu ke tempat lainnya. Ia yang cukup ngetop bersama The Animals, banyak kenal dengan para musisi dan pemilik klab. Hal ini banyak membantu Jimi mendapatkan kesempatan untuk manggung. Di klab Blaises tempat Hendrix bermain, ia dilihat oleh Johnny Hallyday yang saat itu merupakan
penyanyi top di Perancis. Ia kemudian bernegosiasi dengan Chandler membicarakan kemungkinan kerja sama. Akhirnya diperoleh kesepakatan yaitu, Hendrix akan membuka konser Johnny. Tetapi Hendrix merasa harus memiliki band sendiri.

Di London, Chandler lalu mencarikan Hendrix dua ‘pengawal’ tangguh untuk posisi drums dan bass. Ia mendengar bahwa penggebuk drum Mitch Mitchell (lahir John Mitchell, 9 Juni 1947) keluar dari Georgie Fame’s Blue Flames. Maka direkrutlah Mitchell mengisi posisi tersebut. Tinggal posisi pembetot bass yang masih lowong. Saat itulah, Noel Redding (lahir David Redding, 25 Desember 1945) yang mengikuti audisi untuk jadi gitaris The Animals, ditawari jadi pemain bass bersama Hendrix. Karena posisi gitaris dalam The Animals sudah terisi, dan menyadari persaingan sebagai pemain gitar terlalu ketat, ia setuju untuk jadi pemain bass dan menerima tawaran tersebut.

Mitchell merupakan seorang aktor cilik untuk iklan TV, sebelum memutuskan menjadi musisi pada saat remaja. Ia sangat menyukai permainan drum dari Buddy Rich dan Gene Kruppa. Sedangkan Redding yang jebolan sekolah seni, pernah bermain dengan Modern Jazz Group dan Loving Kind. Pada September inilah Hendrix sebenarnya baru ikutan mengubah namanya dari Jimmy menjadi lebih sederhana, Jimi.

Mereka bertiga membuat band Jimi Hendrix Experience yang kemudian melegenda. Itu terjadi pada Oktober 1966. Saat di mana karir Hendrix yang sesungguhnya baru dimulai. Penampilan pertama mereka adalah ketika menjadi band pembuka dari penyanyi Perancis Johnny Hallyday yang manggung di Paris Olympia pada tanggal 18 bulan yang sama. Tetapi demi penampilannya di Paris, Hendrix membutuhkan peralatan yang lebih hebat. Ia memerlukan ampli yang lebih besar dengan daya lebih kuat. Maka, Chandler pun menjual dua buah bass-nya — Fender Precision dan Gibson EB —untuk membeli Marshall Supro yang kemudian menjadi trademark-nya Hendrix.

Sebulan kemudian mereka — untuk pertama kali sejak bertrio — masuk studio. Mereka merekam lagu ‘Stone Free’ ciptaan Hendrix dan ‘Hey Joe’ karya Billy Roberts dan pernah dinyanyikan oleh Tim Rose. Kedua lagu tersebut digarap di De Lane Lea Studio, London. Sayang ketika itu mereka masih sepi tawaran manggung. Sedangkan mereka harus membiayai hidup dan sewa studio. Sekali lagi Chandler harus merelakan koleksi bass-nya. Kali ini sebuah Fender Jazz Bass dan sebuah Fender Precision dilego. Ia pun bertekad, pengorbanan ini harus menghasilkan sesuatu yang hebat di kemudian hari.

Harapan itu sedikit demi sedikit mulai terwujud. Pada November mereka bermain selama empat hari di Big Apple Club, Munich, Jerman. Mendapat bayaran 300 pounds, mereka mulai bisa membiayai hidup. Dan Chandler terus berusaha agar Jimi Hendrix Experience bisa lebih diliput oleh pers. Hendrix cs. mendapat kesempatan jumpa pers pertama pada tanggal 25 bulan itu juga. Bertempat di klab Bag O’ Nails, London, mereka menampilkan repertoar yang biasa mereka bawakan. Termasuk tentu saja ‘Hey Joe’ dan ‘Stonefree’. Kalangan pers menanggapi positif penampilan mereka.

JIMI-HENDRIX4.jpg
Memasuki Desember, Hendrix menandatangani kontrak empat tahun dengan Yameta Company, suatu perusahaan manajemen artis. Akhirnya single pertama ‘Hey Joe’ dirilis oleh Polydor setelah sebelumnya ditolak oleh Decca. Mereka bertiga lalu tampil di acara TV untuk pertama kalinya di penghujung tahun 1966 itu. Sayang pada malam Tahun Baru 1967, mereka tidak mendapat tawaran panggung. Untungnya, Redding mempunyai gagasan bagus. Ia mengajak Hendrix dan Mitchell bermain di kampung halamannya, Folkestone, sebuah kota kecil dekat London. Dan ia yang memiliki banyak kerabat di kota itu tanpa banyak kesulitan mendapatkan job.

Mereka berangkat naik kereta di dalam cuaca dingin. Tetapi hal itu tidak membekukan semangat mereka tampil di kafe Tofts. Apalagi orangtua Noel juga menyediakan tempat menginap bagi mereka plus sang manajer. Penampilan mereka di kafe Tofts itu paling tidak cukup untuk menghibur diri mereka sendiri. Memasuki Januari 1967 keadaan sudah mulai membaik. Walaupun sempat ‘terpaksa’ bermain di klab-klab kecil seperti Ram Jam dan Ricky Tick, mereka ma-sih sering mendapat kesempatan tampil di Scotch of St.Thomas dan 7 ½ Club. Bahkan kadang di klab yang terletak di White Horse Street, Mayfair, London itu, penampilannya ditonton oleh musisi terkenal seperti Paul McCartney, Pete Townsend dan Mick Jagger.

Bintang-bintang top itu ternyata menyukainya. Mereka sering bilang pada pers, bahwa mereka kagum pada penampilan Hendrix. Dan hal itu tentunya merupakan keuntungan publikasi yang besar bagi Hendrix dan dua sohibnya. Karena kala itu, penyataan dari para personel The Beatles, The Who dan Rolling Stones merupakan ‘santapan wajib’ yang harus diyakini oleh para pencinta musik di seluruh dunia. Akhir bulan itu, Jimi Hendrix Experience tampil di Saville Theater, London sebagai grup pembuka The Who. Kesempatan ini diperoleh juga atas permintaan Townsend. Tentu saja hal ini tidak disia-siakan. Dan Hendrix pun membuktikan bahwa mereka memang patut untuk diperhitungkan.

Pete Townsend yang kala itu merupakan gitaris dengan aksi panggung yang hebat, malam itu mendapat ‘saingan berat’. Tahu bahwa Townsend akan melakukan atraksi khasnya seperti memutar gitar di udara, Hendrix melakukan atraksi yang lebih hebat. Tetap dengan cirinya seperti memetik senar pakai gigi, menggesekkan senar ke punggung atau menendang-nendang gitar. Tapi kali ini dengan gaya lebih agresif. Pada bulan Februari, single ‘Hey Joe’ mendaki di nomor enam pada chart Inggris. Hendrix pun semakin terkenal dengan gayanya yang liar.

Pers juga sering mengekspos hal tersebut. Sementara itu mereka bertiga masuk studio lagi untuk menyelesaikan penggarapan album penuh. Album itu dikerjakan di Olympic Studios, Barnes, London. Sepanjang bulan Maret tahun itu, mereka mengadakan pertunjukan keliling Eropa. Dimula di Twenty Club di Mouscron, Belgia dan 20 Club, Lille, Perancis lalu dilanjutkan ke klab legendaris yang juga melahirkan Beatles, Star Club di Hamburg, Jerman.

Balik ke Inggris, Jimi Hendrix Experience tampil pada acara “Top Of The Pops”di BBC1-TV. Saat tour kelling Inggris itu, mereka sempat sepanggung dengan Cat Steven, Walker Brothers dan Engelbert Humperdinck. Gaya agresif Jimi sempat membuatnya celaka. Waktu ia membakar gitarnya, tangannya ikutan terbakar. Ia pun dilarikan ke rumah sakit.

Kejadian lain yang tidak mengenakkan adalah ketika mereka habis bermain di New Century Hall, Manchester. Mereka menjadi korban salah sasaran dari oknum polisi setempat yang sedang razia anak di bawah umur. Ketika mau masuk ke dalam sebuah klab, mereka ditolak. Noel dan Mitch sempat ditarik polisi, mereka melawan dan mendapat beberapa pukulan. Jimi terhindar dari perlakuan tersebut karena memperlihatkan paspor Amerika. Untunglah keadaan bisa diatasi karena turun tangan sang manajer.

Tidak berapa lama Hendrix sembuh dari luka bakarnya pada bulan Mei, single ‘Purple Haze’ dilepas ke pasar. Sempat menduduki tangga ketiga pada chart, single tersebut segera disusul oleh album pertamanya, Are You Experienced? Album ini segera menyita perhatian pencinta musik dunia dan nangkring di posisi kedua pada chart selama 33 minggu. Jimi Hendrix Experience mengadakan tour Eropa dimulai di Neue Welt, Berlin, Jerman. Walaupun sempat kaget terhadap respon penonton Jerman yang kalem, mereka terkesan dengan pengetahuan publik Jerman tentang mereka. Dan tour pun berlanjut ke Denmark, Belanda, Perancis dan negara-negara Skandinavia.

Setelah masa awal dengan irama blues yang kental –seperti Satisfaction karya Stones yang pada prinsipnya adalah blues, kata Keith Richard– berkembanglah musik rock yang memadukan musik dan seni pertunjukan. Aliran diawali dengan seniman pop dunia, Andy Warhol, yang berkolaborasi dengan The Velvet Underground. Dan yang sering disebut puncak dalam masa ini –yang juga dikenal sebagai art rock– adalah The Wall karya Pink Floyd, berupa pertunjukan teater rock. Jimi Hendrix kemudian meninggal di London, Inggris, 18 September 1970 pada umur 27 tahun.