Kehebohan Konser The Chainsmokers

TheChainsmokersLive

 

 

Semburat warna jingga di langit sebelah barat menandakan hari menjelang malam. Tak seperti biasanya, lalu lintas Jakarta pada Jumat (29/3/2018) itu lengang. Rute Cengkareng-Kemayoran yang biasanya bisa makan waktu satu jam lebih, bisa ditempuh dalam 20 menit.

Libur akhir pekan yang panjang, sepertinya dimanfaatkan banyak warga Ibu Kota untuk pesiar ke luar kota sehingga mengurangi hiruk-pikuk di jalanan.

Namun, begitu memasuki area Jakarta International Expo–lebih populer disebut arena Pekan Raya Jakarta–di Kemayoran, Jakarta Pusat, keramaian kembali terasa. Beberapa kelompok orang, kebanyakan muda belia, tampak mulai memasuki Gedung Niaga yang terletak di area tersebut.

The Chainsmokers adalah daya tariknya. Untuk ketiga kalinya, duo pemusik dansa elektronik (Electronic Dance Music/EDM) asal Amerika Serikat itu mengadakan konser di Jakarta.

Menurut pengamatan Beritagar.id, sebagian besar penonton yang memasuki Gedung Niaga masih berusia muda, antara 20-30 tahun. Meski ada juga beberapa penonton yang datang membawa keluarga, dengan anak-anak yang masih berusia sekitar 7-12 tahun.

Gerbang telah dibuka sejak pukul 4 sore, walau kelompok yang terdiri dari Andrew Taggart dan Alex Pall itu dijadwalkan baru tampil jam 10 malam. Namun panggung tak kosong, sebab promotor Townsquare Entertainment mengundang beberapa musisi EDM lokal untuk menghibur penonton. Mereka adalah DJ Jenja, Weird Genius, Alffy Rev, dan DJ Dipha Barus.

Usai aksi Dipha, panggung digelapkan. Penonton masih harus menunggu sekitar sejam. Sementara, semakin banyak orang memasuki area konser. Sebagian mengantre untuk membeli minuman di bagian belakang GA Festival Area. Antreannya panjang, mengular hingga sekitar empat lapis.

Akhirnya jam pada ponsel menunjukkan tepat pukul 22.00, tapi The Chainsmokers belum juga muncul. Namun penantian penonton hanya sebentar. Hanya lewat sekitar dua menit, lampu pada panggung mulai dinyalakan. Konser yang relatif tepat waktu.

Jakarta, are you ready?” teriak Andrew Taggart. Penampilannya relatif santai untuk ukuran seorang musisi kelas dunia yang sedang beraksi di panggung.

Lelaki berusia 28 tahun itu mengenakan kaus putih dan celana ketat berwarna merah. Sementara Alex Pall yang lebih banyak berdiri di belakang turntable mengenakan kaus putih, celana jeans pendek dan topi hitam.

Wajar mereka berpenampilan sederhana. Cuaca di Jakarta saat itu sangat panas. Bulan purnama bersinar terang di langit yang nyaris tanpa awan.

The Chainsmokers pun membuka penampilan mereka dengan lagu terbarunya, “Everybody Hates Me”. Penonton sama sekali belum panas, mungkin karena lagu tersebut masih terasa asing, mengingat baru dirilis pada pertengahan Maret.

Lantas, duet DJ ini memutar lagu “Dont Let Me Down” yang sempat masuk peringkat ketiga Billboard Top 100 di Amerika Serikat. Sontak kerumunan pun menggila.

Suasana semakin panas ketika Taggart dan Pall beraksi dengan lagu “Closer”, yang videonya ditonton lebih dari dua miliar kali di Youtube.

 

Taggart kemudian mengambil mikrofon, menyanyikan lagu “Paris”. Suaranya bisa dibilang biasa-biasa saja, terkadang kelemahan itu ditutupi dengan efek. Toh, vokal lelaki kelahiran Portland itu bukan jualan utama The Chainsmokers. Yang terpenting, kedua DJ ini berhasil menyihir penonton.

If we go down, then we go down together,” ribuan penonton melakukan koor setiap kali Taggart mengarahkan mikrofon kepada penonton.

Suasana semakin panas. Penonton bagai terhipnotis dengan ajakan Pall dan Taggart untuk ikut bernyanyi, mengangkat tangan, hingga melompat-lompat. Apalagi terkadang kembang api ditembakkan ke udara, menambah kemeriahan suasana.

Ada sekelompok penonton yang joget tak berhenti, hingga akhirnya lelah dan duduk di lantai.

Memang tak semua penonton ikut joget. Beberapa orang yang sepertinya hanya menemani pasangan mereka, tampak tak acuh dengan aksi Pall dan Taggart. Mungkin tidak familiar dengan lagu-lagu duo yang berdiri pada 2012 itu.

Di atas panggung, The Chainsmokers seolah mengamati ketakacuhan tersebut. Mereka lalu mendendangkan remix lagu-lagu populer seperti “Zombie” dari The Cranberries, “We Will Rock You” dari Queen, “Love Yourself” dari Justin Bieber, serta tak ketinggalan “Something Just Like This”, kolaborasi mereka dengan band ternama Coldplay.

 

Semua racikan lagu itu berhasil bikin lebih banyak penonton goyang, lompat-lompatan, dan menyanyi bersama. Hingga saat lagu “Sick Boy” selesai, Taggart mengucapkan, “Jakarta, thank you so much!

Waktu sudah menunjukkan 23.30. Lampu panggung gelap. “Sudah nih, begitu doang?”, “Lah, kelar,” dan berbagai ungkapan kekecewaan lain muncul di mana-mana. Namun sebagian penonton tahu ini hanya trik dan meneriakkan, “We want more!” berulang-ulang.

Dua menit kemudian, lampu kembali terang. Penonton pun bersorak. Beberapa yang sudah ke pintu keluar kembali bergegas ke arah panggung.

The Chainsmokers pun kembali beraksi dengan lagu “Closer”, kali ini versi yang lebih panjang. Penonton menggila. Kembang api berdentum di angkasa. Confetti dihamburkan ke arah penonton, menutup konser The Chainsmokers yang berlangsung hampir dua jam.

Jakartawe are The Chainsmokers and you are amazing, thank you!” demikian teriakan Andrew Taggart menutup konser The Chainsmokers.

 

 

Sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s