Manfaat Mengenalkan Anak Bermusik Sejak Dini

anak-bermain-musik.jpg

Bukan hanya mendengar musik, anak pun butuh keterampilan memainkan musik. Di usia sekolah atau prasekolah, anak sudah perlu mendapatkan pengenalan dini terhadap musik. Bukan sekedar pandai bernyanyi mengikuti lagu, tapi belajar memainkan sebuah instrumen. Mengapa? Karena terdapat sejumlah manfaat penting yang akan berpengaruh juga pada kehidupan serta persiapan dirinya kelak. Berikut manfaat yang bisa didapat dari mengajarkan anak bermusik sejak dini:

Mengembangkan Keterampilan Fisik

Instrumen tertentu seperti perkusi, akan membantu anak mengembangkan koordinasi dan keterampilan motorik yang umumnya terletak pada gerakan tangan, lengan, dan kaki. Jenis ini baik dikuasai oleh anak yang sangat aktif. Selain itu, instrumen string dan keyboard seperti biola dan piano cenderung menuntut gerakan berbeda dari tangan kiri dan kanan secara bersamaan. Ini akan mengembangkan keterampilan tangan sekaligus melatih anak tetap merasa nyaman meskipun mereka sedang berada pada keadaan yang tidak nyaman.

Meningkatkan Kemampuan Akademis

Musik dan matematika memiliki hubungan erat. Dengan memahami beat, ritme, dan skala, anak akan lebih paham bagaimana membagi, membuat fraksi, juga mengenali pola.

Saat anak beranjak besar, mereka akan mulai membaca lagu. Secara langsung ini akan melatih memori jangka pendek dan panjangnya untuk mengingat. Metode mengingat tersebut nantinya bisa mereka gunakan untuk mengingat juga banyak hal lain.

Bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa di usia lebih besar anak yang bermain musik lebih memahami pelajaran fisika dasar. Misalnya, memetik senar pada gitar atau biola mengajarkan anak tentang getaran harmonik dan simpatik. Bahkan instrumen non-string seperti drum, bisa memberinya kesempatan untuk menjelajahi prinsip-prinsip ilmiah.

Memupuk keterampilan sosial

Ketika berlatih musik, pada saatnya anak akan belajar caranya berinteraksi dan berkomunikasi. Misalnya saja untuk menyeimbangkan musik, mereka akan mendengar pelan-keras serta cepat-lambat sebuah nada sehingga terlatih menyesuaikan diri.

Ini juga berlaku pada kelompok musik. Saat anak menciptakan melodi, mereka akan mulai belajar bekerja sama dalam tim untuk menghasilkan musik yang enak didengar.

Di kemudian hari, mereka akan butuh pengajaran ini dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satunya untuk belajar menciptakan interaksi yang baik dalam memecahkan permasalahan.

Melatih Disiplin dan Kesabaran

Bermusik bukan hanya belajar untuk bisa memainkan instrumen, tapi juga melatih tangan dan perasaan agar mahir “menyuarakan” musik. Pasti ada perbedaan besar antara memainkan musik dengan lembut karena terlatih, dengan permainan yang terdengar kasar hanya karena bisa memainkan musik.

Nah, di sinilah disiplin berlatih akan membina kesabaran anak untuk selalu mengupayakan berlatih serta mengulang banyak hal.

Anak yang bermusik secara individu, pasti butuh waktu lama hingga akhirnya mahir memainkan musik. Begitu pula anak yang tergabung dalam kelompok musik. Untuk bisa bermain sendiri, mereka akan belajar menunggu giliran sehingga terlatih menunggu sekaligus menghormati rekannya.

Meningkatkan Perbaikan Diri

Ketika berlatih sebuah instrumen, anak akan belajar menerima dan memberi kritik yang membangun demi perbaikan kualitas bermusiknya. Hal ini sangat positif untuk meningkatkan rasa percaya dirinya.

Selain itu, mereka juga akan memahami bahwa tidak ada hal yang sempurna karena kesalahan bisa saja terjadi, dan segalanya pasti butuh usaha. Jika nantinya anak diajar konsisten untuk bermusik, maka mereka pun secara langsung dipersiapkan untuk memiliki keterampilan yang membuatnya menonjol.

Memperluas Wawasan

Tiap jenis musik memiliki sejarah, dan anak usia dini akan lebih tertarik mengetahui hal ini.

Sambil mempelajari instrumen, memberi anak pengetahuan soal musik akan mempermudahnya menyerap pengetahuan sehingga akan membuka pikirannya soal budaya dari seluruh belahan dunia dan berbagai jenis musik. Ini akan membuatnya kaya pengetahuan dan semakin kaya pula dalam bermusik.

Pertimbangan Memilih Instrumen yang Tepat Bagi Anak

Akhirnya, instrumen yang dipilih untuk anak haruslah mempertimbangkan beberapa faktor:

1. Apakah anak tampak tertarik pada salah satu instrumen, atau bahkan beberapa instrumen? Biarkan anak yang memilih sendiri apa yang disukainya.

2. Apakah instrumen yang dimainkan terasa menantang bagi anak, dan bagi orangtua saat mendengarnya?

3. Apakah emosi anak tersalur lewat instrumen yang dimainkannya?

4. Apakah orangtua mampu menyediakan instrumen pilihan di rumah? Karena bagaimana pun, anak butuh banyak berlatih jika ingin bisa menguasai alat musik yang dimainkannya.

Para ahli sejauh ini tidak setuju menetapkan apa jenis musik yang perlu dimainkan anak, karena pada dasarnya hasrat bermusik terletak pada diri anak. Namun begitu, banyak pengajar musik yang setuju bahwa sebaiknya sejak awal anak dikenalkan pada pilihan piano, gitar, biola, atau drum sebagai bentuk pilihan bijak.

Sumber.

Tahap Perkembangan Sosial Anak Usia Batita

hH2EXUL73x.jpg
Saat anak masih berusia 2 tahun dan sering mengatakan, “Itu punyaku,” jangan di

marahi karena menganggap ia tak mau berbagi dengan teman sepermainannya. Belum tentu seperti itu, lho, Ma, karena anak-anak di usia itu ternyata memang belum memahami apa itu berbagi. Begitu pula ketika ia masih suka merebut mainan adiknya, dan membuat Mama uring-uringan, menganggap ia tak bisa menjadi kakak yang baik. Belum tentu juga hal itu disebabkan ia tak sayang kepada adiknya. Bisa jadi, ia memang belum memiliki keterampilan sosial empati di usianya tersebut.

Oleh karena itu, pahami dahulu tahapan perkembangan sosial anak sesuai usia. Lalu, maksimalkan potensi yang ia miliki. Membimbing keterampilan sosial anak sesuai tahapan usianya terbukti lebih efektif mengasah sisi positif kepribadian dirinya. Tentu saja, hal itu lebih baik ketimbang sekadar menggunakan subjektivitas Anda dalam mendidik. Berikut ini adalah kemampuan sosial anak sesuai perkembangan usianya.

 

IMG_1108 - Copy.JPG
1 TAHUN
Di usia ini, anak sudah mengembangkan banyak kemampuan sosial, Ma. Kendati belum banyak mengucapkan kata-kata, mereka sudah memiliki dasar kemampuan sosial yang dapat menunjang pergaulannya kelak, antara lain:
  • Berinteraksi dengan orang lain. Pernahkah anak mengulurkan mainannya kepada Mama? Saat itu sebenarnya anak mencoba berinteraksi dengan orang lain di dekatnya. Menurut Dr. Heather Wittenberg, Psy.D, psikolog perilaku di Behavioral Health Services of Maui, Hawaii, Amerika Serikat, “Di usia 1 tahun, anak sudah mampu berinteraksi, namun belum memahami konteks sosial yang rumit, seperti berbagi. Jadi, jangan berharap terlalu banyak. Misal, meminta ia berbagi dengan anak lain.”
  • Mengungkapkan keinginan.  Menurut Maria Kalpidou, Ph.D., profesor psikologi dari Assumption College- Worcester, Massachusetts, Amerika Serikat, kendati belum fasih mengucapkan kalimat-kalimat yang sesuai dengan maksud hatinya, anak berusia satu tahun sebenarnya sudah bisa memahami dasar berkomunikasi, yakni mengungkapkan keinginannya kepada orang lain. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua sering berinteraksi dengan anak agar bisa memahami apa yang ia ungkapkan, sehingga anak pun menjadi semakin terpacu mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi.
  • Mengenali orang-orang sekitar. Saat disapa oleh kakek dan neneknya, si mbak, atau tetangga yang kerap mengajak berinteraksi, ia akan tersenyum atau menatap lekat-lekat untuk menunjukkan bahwa ia nyaman melihat orang-orang yang memang sudah ia kenal. Namun, ketika ada orang baru yang mengajaknya bercanda, sontak ia menangis karena takut terhadap orang asing. Ini merupakan salah satu kemampuan sosial anak, yakni mengenali dan mengamati orang lain.
2 TAHUN
Anak mulai memiliki kemampuan untuk mengaitkan dirinya dengan hal-hal di sekitarnya. Pada usia ini, anak sudah dapat:
  • Merasakan kebersamaan. Saat diajak bermain secara paralel dengan anak lain, ia sudah dapat merasakan kebersamaan, kendati ia tidak selalu bermain bersama anak-anak lain.
  • Menuntut kepemilikan dan teritori.  Saat anak berebut mainan dengan teman sebayanya, dan mengatakan, “Ini punyaku,” berarti ia sudah mulai memahami soal kepemilikan dan menuntut pengakuan orang lain atas dirinya. “Tetapi hal ini sebenarnya adalah refleksi pemikiran egosentris karena perilaku itu disetir oleh keinginannya,” ujar Dr. Kalpidou. Sebagai orang tua, Anda perlu menjadi role model dengan menunjukkan contoh cara berbagi bersama pasangan Anda, sehingga anak pun akan memiliki referensi tindakan sosial yang baik.
  • Mengembangkan hubungan dengan lebih banyak orang.  Jika di usia satu tahun anak mampu berinteraksi dengan satu hingga dua orang yang ada di hadapannya, di usia dua tahun, ia sudah mulai mampu berinteraksi dengan lebih dari satu orang yang ada di hadapannya. Misalnya, saat Mama mengajak anak ke supermarket, dan terlibat perbincangan dengan orang lain, anak sudah bisa memerhatikan orang yang mengajak Mama berbicara. ”Pada usia ini anak sudah lebih nyaman dengan kehadiran orang lain. Kendati beberapa anak masih sulit bertemu orang asing, jangan melabel mereka sebagai ‘pemalu’. Yang terjadi sebenarnya, mereka hanya sedikit lambat beradaptasi sehingga butuh lebih banyak waktu untuk berkenalan,” ujar Dr. Wittenberg.
3 TAHUN
Di usia ini, anak mulai menjajal berteman dengan anak-anak yang lain. Tak perlu heran, ya, Ma, anak di usia ini memang sudah mampu…
  • Mengingat dan membutuhkan teman. Anak mulai bermain dengan teman sepermainan yang disukai. “Oleh karena itu, beri anak lebih banyak kesempatan bersama teman sebayanya, dan bimbing ia mengatasi situasi sosial tertentu. Misalnya, beri aturan bermain bersama dan bergantian,” ujar Dr. Wittenberg.
  • Berimajinasi.  Anak sudah bisa berimajinasi dan melakukan permainan yang melibatkan imajinasi, seperti bermain peran, bongkar pasang baju, dan sejenisnya.
  • Berempati.  Saat berusia 3 tahun, anak mulai memahami berbagai emosi yang berbeda  dari orang tuanya. Melihat Mama menangis, tertawa, atau terpekik takut saat menonton acara televisi, ia pun belajar mengartikan perasaannya sendiri, juga perasaan orang lain. Hal ini menjadi dasar anak mengembangkan kemampuan berempati. Kendati dalam praktiknya, anak masih sulit berbagi di usia ini.

 

Sumber 

Memahami 3 Karakter Anak

Tiap anak punya karakter dan temperamen berbeda. Ada tiga tipe yang paling sering bisa dijumpai: Penakut/pemalu, tukang rewel/aktif/cerewet, dan si manis yang mudah diatur.

Seperti apa ciri-ciri mereka dan bagaimana cara terbaik menghadapi mereka? Anak Anda termasuk yang mana?

1. Si penakut/pemalu

67253-begini-cara-mengasuh-anak-pemalu-agar-tidak-minder-dalam-pergaulan

Ketika Anda membawa si kecil yang penakut bertemu dengan orang lain, jangan harap ia bisa langsung bergabung. Tak mudah baginya untuk langsung bergabung dalam suatu aktivitas kelompok. Anda harus sering-sering membawa dia ke tempat tersebut, sampai ia merasa nyaman bermain di sana. Setelah ia terlihat nyaman dan bisa berbaur dengan anak-anak lain, Anda bisa pelan-pelan meninggalkannya.

2. Tukang rewel/aktif/ceriwis

download

Menghadapi anak seperti ini, Anda perlu ekstra sabar. Sikap kalem menghadapinya akan sangat membantu. Menurut Alice Sterling Honig, Ph.D., penulis Secure Relationships: Nurturing Infant-Toddler Attachments in Early Care Settings, anak-anak yang suka rewel, moody, atau gampang ngambek punya perasaan dan respon yang lebih peka dibanding anak lain.

Mereka juga tertawa lebih keras dan suka protes. Karena batas kesabaran mereka rendah, mereka jadi lebih mudah tantrum. Anak-anak ini menunjukkan tingkat aktivitas tinggi dan selalu bergerak. Mereka mungkin tidak mau tidur siang ketika anak-anak lain seusianya tidur siang. Begitupun ketika harus beradaptasi dengan orang dan situasi baru, hal itu benar-benar bisa merupakan perjuangan ekstra.

Menghadapi anak seperti ini, cobalah untuk lebih fleksibel. Kalau ia sedang asyik menyelesaikan puzzle-nya, jangan menghentikan kegiatannya untuk tidur siang. Bisa-bisa ia malah jadi tantrum. Berikan pula ruang gerak yang lebih leluasa untuknya, agar ia bisa berlari-larian ke sana kemari.

3. Si manis yang penurut

download-1

Beruntung sekali bila Anda memiliki anak dengan karakter seperti ini. Tentu saja Anda akan bisa lebih santai melewatkan waktu bersamanya. Karena ia tak terlalu minta perhatian, justru Andalah yang perlu lebih banyak memberikan perhatian untuknya, dan jangan lupa mensyukuri betapa manisnya ia sepanjang hari.

Source: Parenting.co.id / Picture Source: Google