Mengenal Ramengvrl.

Ramengvrl

 

Gue duduk di dalam sebuah studio di Jakarta selatan, lokasinya persis di atas kedai kopi artisan. Studio ini kelihatan kayak habis dipakai party semalam suntuk. Di sekeliling gue ada cowok-cowok dengan gaya berpakaian 90’an, dan di antara kami semua ada cewek yang siapapun pasti enggak nyangka kalau dia punya nama di kancah hip-hop Ibu Kota.

Ramengvrl sebetulnya enggak nyaman dengan label apapun, selain dari apa yang dia lakukan: seorang musisi yang menyampaikan sudut pandangnya. Bagi dia, apropriasi budaya hip-hop adalah isu sensitif.

Hip-hop selalu sulit untuk dideskripsikan secara sederhana. Kolektif-kolektif yang ada saling konflik; yang tua nyinyirin yang muda, perdebatan mumble rap vs boom-bap, cari duit vs “staying woke.” Semua itu masih mewarnai kancah hip hop Indonesia.

Ramengvrl punya latar belakang menulis puisi ritmis sebagai cara memaki-maki untuk mempertahankan kewarasannya. Kini dia mulai masuk radar penikmat hip-hop lokal. VICE Indonesia ngobrol-ngobrol bareng dia, membahas isu kesehatan mental, pandanganya soal kancah hip hop di negara ini, dan perasaan aneh yang menggelayutinya sejak memutuskan jadi rapper.

VICE Indonesia: Kenapa nama panggung elo Ramengvrl?
Ramengvrl: Classic, haha. Awalnya emang gua nyari nama yang satu gampang diinget, dua ngehe yang sangat berhubungan dengan gampang diinget. Tiga, gua berusaha nyari nama yang engga hip-hop banget. Gua enggak pernah nyebut diri gua ini sebagai rapper. That’s one thing, walaupun orang pada bilang begitu. Gua cuman menggangap diri gua, ‘make music’. Gua menggunakan rap sebagai medium untuk ekspresi diri aja. Kebetulan, mediumnya adalah rap.

Jadi gimana awalnya elo kenalan dengan rap?
Jadi gua mulai 2013. Awalnya itu gua cuma iseng, gua emang selalu ngulik kata-kata. But it always end up kayak di tumblr, ato kayak di diary gua which stopped pas kuliah gitu. And then at one point gua cukup, gua cukup stres banget. Ngerjain skripsi, trus ada beberapa hal personal ada masalah di keluarga juga. Terus pelariannya ke hip hop. Waktu itu gua bikinnya cuma lagu setengah bercanda. Gua bikin di audacity, jadi kualitasnya parah banget. Bahkan gua ngerekamnya cuman pake mike yang webcam gitu. So that’s how it started sih.

Awal-awalnya elo dengerin artis hip hop kayak siapa?
Dulu sebenernya gua enggak suka hip-hop, I mean gua skipped Jay-Z’s Alicia Keys New York song. Gua segitu gasukanya, karena menurut gua ganggu. Then ada temen gua pas SMA ngasih denger Kanye West, dan menurut gua rap itu cuman yang… ya you know lah kayak B.I.G, Eminem, yang gitu gitu. Although I know they’re good, but i cannot really relate to them. Tapi setelah gua dengerin Kanye West, and then gua start listening to other substitutes.

Elo bilang bisa relate sama rapper yang lebih… ‘kekinian’. Maksudnya gimana tuh?
When you talk about Kanye West gua sih relate to his music, tapi salah satu rapper yang gua lagi suka banget itu: Big Sean. Gua relate banget ke lyric dia. He talks about the everyday struggle, tapi dia enggak talk about social struggle ya kayak kelas kelas gitu ya enggak. Tapi dia talk about; contohnya di album dia yang baru, dia bahkan ada rekaman bapak-bapak yang live for forty years or fifty years trus dia ngelakuin hal yang sama selama bertahun tahun itu, pokoknya dia merasa engga puas banget dengan apa yang dia kerjain sekarang. Dan dia ngeliatan anak anak di neighborhood dia itu, dia pinginnya anak anak di neighborhood itu look up ke dia tapi enggak. Trus istri dia sendiri juga merasa kayak, engga banggga sama dia dan dia sendiri juga sedih sama diri sendiri karena gabisa membanggakan istri ama keluarganya. Gua ngerasa relate dengan itu, buat gua sih gamau hidup gua biasa biasa aja.

 

 

Sumber

Advertisements

Mengenal Sosok Ibu Seriosa Indonesia

 

 

 

pranawengrum katamsi

Pranawengrum Katamsi (lahir di Yogyakarta, 28 Maret 1943 – meninggal di Jakarta, 4 September 2006 pada umur 63 tahun) adalah seorang penyanyi sopran dalam musik seriosa Indonesia. Ia sering disebut sebagai “Ibu Seriosa Indonesia”.

 

Pranawengrum, yang biasa dipanggil “Rum” oleh orang-orang yang dekat dengannya, lahir dari pasangan RM Surachmad Padmorahardjo, seorang pemain biola, dan Oemi Salamah. Minatnya terhadap musik seriosa mulai berkembang ketika ia duduk di bangku SMA BOPKRI di Yogyakarta. Di sekolah Kristen itu ia berkenalan dengan lagu-lagu gereja, meskipun ia sendiri beragama Islam. Kepala sekolahnya, Nathanael Daldjoeni, seringkali memuji Rum karena bakatnya menyanyi.

Pada 1961 ia diikutkan dalam lomba nyanyi pelajar se-Indonesia untuk kategori seriosa, dan ia muncul sebagai juara pertama. Kemudian ia ikut serta dalam pemilihan Bintang Radio tingkat daerah se-Yogyakarta, dan meraih juara kedua. Tahun 1962 ia ikut serta dalam pertandingan Bintang Radio tingkat nasional dan mendapatkan juara harapan.

Keterlibatan Rum dalam seni suara seriosa semakin intensif setelah ia mendapatkan bimbingan dari sejumlah pakar musik seperti Suthasoma, Suwandi, Nortier Simanungkalit, dan Kusbini. Tahun 1964 ia bertanding lagi di Bintang Radio tingkat nasional mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dan memperoleh gelar juara pertama. Sejak itu Rum boleh dikatakan mendominasi kategori nyanyi seriosa. Ia menjadi juara Bintang Radio pada 1965, 1966, dan 1968.

Setelah pindah ke Jakarta, Rum dibimbing oleh pakar-pakar musik seperti Pranadjaja, FX Sutopo, Sunarto Sunaryo, dan Anette Frambach. Ia kembali merebut juara pertama Bintang Radio tahun 1974, 1975, dan 1980. Karena sederet prestasi tersebut, Rum mendapat penghargaan khusus Piala WR Supratman.

 

Pranawengrum meninggalkan seorang suami, Amoroso Katamsi, seorang psikiater dan kepala Rumah Sakit Islam di Cilacap dan tiga orang anak yang kesemuanya aktif dalam seni musik, yaitu Ratna Arumasari, pianis, Doddy Keswara Kartikajaya , penyanyi rock dan Ratna Kusumaningrum, yang lebih dikenal sebagai Aning Katamsi, penyanyi sopran. Amoroso sendiri juga terkenal sebagai bintang film.

 

 

Sumber