Chris Burnett

chriss burnett



Chris Burnett (born Christopher LeRoy Burnett on November 2, 1955) is an American saxophone player, composer, veteran of US military jazz bands and band leader. Born in Olathe, Kansas, Burnett’s family moved relatively frequently during his early childhood due to his father being a member of the active US military service. His sibling family lived at places such as: France, Michigan, and Colorado prior to settling permanently back home in the Kansas City metro area. His brother, Richie Pratt (March 11, 1943 – February 12, 2015), who was also a musician (Lionel Hampton, Junior Mance, Aretha Franklin, New York Jazz Quartet, Broadway, films, studios …), and the eldest sibling in his family continually served as a significant professional role model and mentor. Chris Burnett currently works with the Leavenworth High school Jazz And Marching band

Burnett has noteworthy college-level teaching experience as a former director of the jazz ensemble program at Missouri University of Science and Technology, formerly University of Missouri-Rolla, where he was employed as an Adjunct Lecturer in Music for more than 10 years (academic years: 1984–1990 and 1996–2000) until returning home to the Kansas City area. He was bestowed as an honorary member of Kappa Kappa Psi and Tau Beta Sigma chapters at the University of Missouri-Rolla. He was also one of the principal artist/educators featured at the First Annual Jazz Education Forum and Jazz Festival in 1998, which was held in Jefferson City, Missouri. At which, he performed with his own quartet, as well as with another stellar group composed of: Bill Cunliffe (piano), Kristin Korb (bass), and Yoron Israel, (drums). Burnett has taught several hundred students over the years. Some have gone on to study music at the college level, then engage professional careers in music as performers, recording artists or educators themselves.

Burnett’s study of the Schillinger System of Musical Composition under O’tress L. Tandy from 1983–1985, has proven to be a cornerstone of his original artistic and compositional concepts. He is the 1995 5-Star Award of Merit winner of the National Federation of Music Clubs for his original composition and arrangement for big band titled, “Daedalus”. Burnett has also stated that his main concern as a performer, who is also a legitimate composer, is to present his own original music parallel to the traditions of the generations before him. He states that approaching this goal requires that one become a teacher of sorts by developing one’s own approach to the musical language – not merely to imitate the melodic and harmonic statements of the established masters as a less mature student might be satisfied to do.

Burnett’s work around 2001, such as Time Stamps, is significant for a melding of his more mature style of writing with his ability to place emphasis on both the improvisational and composition structural aspects of jazz music. He achieves this by giving each instrumentalist the inherent responsibilities and enough freedom to create musical content over rich harmonic and melodic compositional bedrock. He continues to explore these and other concepts with his own ensembles.

Burnett is of a generation that brings much substance to American music because his is the first generation who grew up as adults with full Civil Rights and full access to the bounties of US society. He is one of the musicians of this generation who: have successfully served their country, have successfully raised families, are productive citizens, and continue to grow their gifts as an original artist. With over 150 original compositions, 30 of which are registered BMI Works, it is logical to assume that there will be much more music to investigate from Chris Burnett for many years to come. He has proven business experience, and has recorded a highly successful debut album titled, “Time Flies”. Initially influenced by the work of saxophonists Charlie Parker, John Coltrane, Cannonball Adderley and the stylings of trumpeter, Miles Davis; Burnett has also performed and been influenced by many other artists and styles of music beyond the genre of jazz.

Burnett incorporates many elements from his classical studies on saxophone and clarinet, along with his knowledge as a trained composer and arranger of music, into the current improvisational and compositional language he presents to listeners. Burnett does not believe that music is limited in the way that most of the commercial marketing of it often presents to the majority of the world. He also believes that any person of his generation and age, (or younger,) can only “get so close” to the jazz music that was made before they were born without having a direct relationship with a person who was actually living during that particular musical era. His artistic motivations are dedicated to presenting jazz music from his generational perspective and context, within a paradigm of creativity as the focus. Thus, Burnett’s own work is focused on contributing to the music of his African-American heritage and Midwest traditions in such a manner that it is approachable by most listeners, yet not so watered down to the point of having little remaining genuine artistic substance.




Pemilihan Saxophone Pertamaku.


Jangan hanya mendengar dari satu orang saja. Karena mungkin orang yang kamu tanyakan juga penjual saxophone dan memberikan jawaban berdasarkan barang dagangan yang dipunya. Coba browsing beberapa artikel atau website/komunitas (facebook, forum) dan tanyakan pendapat beberapa orang sebelum membeli. Beberapa pertimbangan yang bisa diambil :


1. Ukuran Saxophone

Ukuran Saxophone Standard

Ukuran yang umum dimainkan dari yang kecil adalah Soprano, Alto, Tenor, Baritone. Untuk remaja dan anak-anak saran membeli saxophone nya lebih disesuaikan ke ukuran badan agar lebih nyaman untuk belajarnya, lebih disarankan beli Alto jika ukuran badan normal. Semakin besar saxophonenya maka bobot dan udara yang digunakan untuk meniup akan semakin besar.


Untuk yang sudah dewasa pertimbangan terbesar lebih ke suara yang dihasilkan. Karena setiap jenis saxophone menghasilkan jenis dan karakteristik suara yang berbeda. Disarankan browsing dahulu di youtube untuk mendengarkan suara masing-masing saxophone. Semakin kecil saxophone maka nada/suara yang dihasilkan semakin tinggi frekuensinya dan kebalikannya semakin besar saxophone maka nada/suara yang dihasilkan akan semakin rendah frequensinya. Soprano nada dasar di Bb (B mol) artinya kalau posisi jari di saxophone C (do), maka saat dimainkan di piano bunyinya akan sama dengan Bb (B mol). Untuk Alto nada dasarnya Eb (E mol). Untuk Tenor nada dasarnya Bb tapi suara yang di hasilkan untuk posisi jari (fingering) yang sama adalah 1 oktav di bawah Soprano. Untuk baritone nada dasarnya Eb (E mol) dan 1 oktav di bawah Alto.


Perlu diingat setiap jenis saxophone memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, semakin kecil saxophone nya maka semakin sulit dikontrol tetapi semakin sedikit nafas yang dibutuhkan untuk menghasilkan suara dan kebalikannya.

Sangat disarankan jika anda mempunyai teman dapat mencoba beberapa jenis saxophone yang mereka punyai terlebih dahulu sebelum menentukan jenis saxophone pertama kamu. Atau cari informasi komunitas saxophone yang paling dekat dengan kamu dan lihat mereka bermain dan jika memungkinkan kenalan dan mencoba saxophone mereka. Jika anda masih kesulitan menentukan pilihan dan tidak mempunyai teman yang mengerti disarankan untuk membeli alto karena kesulitan dan nafas yang dibutuhkan normal dan untuk dijual kembali lebih banyak peminat dibanding jenis lainnya.

2. Merek dan Harga

Perbedaan harga untuk saxophone sangat jauh antar merek dan jenis. Tentu hal memusingkan bagi yang baru mengenal saxophone takut salah beli di awal dan menyebabkan permainan menjadi sulit berkembang. Buang semua ketakutanmu karena faktor penentu perkembangan anda bermain dan suara yang dihasilkan adalah ketekunan dan keseriusan latihan. Latihan sebentar tetapi teratur dan dilakukan setiap hari lebih baik dibandingkan latihan panjang yang dilakukan dalam beberapa waktu sekali misal seminggu sekali. Faktor yang paling besar dari jenis dan indahnya suara yang dihasilkan oleh saxophone adalah embochure (konstruksi rahang/mulut dan posisi bibir/mulut saat bermain) yang hanya didapat dari latihan yang tekun dan teratur. Selmer Mark VI di tangan pemula akan terdengar kurang bagus dan Saxophone China/Taiwan yang murah di tangan professional akan terdengar indah.
Pertimbangan membeli saxophone pertama anda adalah isi kantong yang ingin anda investasikan untuk belajar. Jika sekitar 5 juta mungkin saxophone buatan china/taiwan seperti Ostrava, Harrier, Maxtone, Valentine sudah layak dijadikan teman bermain. Jika anda mempunyai teman yang mengerti saxophone dan berencana membeli saxophone bekas dengan budget yang sama dengan saxophone China/Taiwan ada beberapa merek yang banyak beredar di Indonesia yang secara kualitas sangat baik seperti Selmer Bundy dan Vito. Bawalah teman yang mengerti jika ingin membeli saxophone bekas karena jika memilih yang tidak tepat, biaya yang dikeluarkan dapat mendekati harga saxophone nya untuk memperbaikinya ke kondisi layak pakai.
Jika mempunyai isi kantong lebih dapat mempertimbangkan merek seperti Yamaha, Henri Selmer, P. Mauriat dan lain sebagainya. Harganya berkisar 15 – 30 juta untuk jenis pemula (student). Dan dapat mencapai ratusan juta untuk profesional dan Custom model.
Perbedaan antara harga yang mencolok tersebut lebih ke kualitas logam yang dipakai serta fitur-fitur yang mempengaruhi kenyamanan dipakai serta kualitas suara yang akan anda pahami dan mengerti setelah pengalaman bermain beberapa tahun.
Saxophone merek dan harga apapun yang anda pilih tidak akan mempengaruhi cara bermain anda sampai tahap anda mengerti betul mengenai perbedaan tersebut, selama kondisi saxophone tersebut layak pakai silahkan sesuaikan dengan kantong anda.

3. Apakah masih butuh aksesoris lain untuk membantu meningkatkan permainan?

Reed Saxophone

Mungkin saat membeli anda akan ditawari beberapa aksesoris tambahan yang jika anda membeli sekaligus mungkin mendapat diskon seperti mouthpiece, ligature, dan sebagainya. Sebenarnya aksesoris yang disediakan saat membeli saxophone sudah cukup walaupun kualitas nya tidak terlalu bagus. Namun saat anda mengerti kenapa “tidak terlalu bagus” maka di saat itulah anda butuh memperbaharui aksesoris anda. Karena membeli di awal untuk sesuatu yang anda tidak mengerti sangat tidak disarankan karena disaat anda mengetahui nya dan tidak sesuai dengan selera anda akan sia sia dan tidak dapat digunakan. Yang perlu anda siapkan sebagai cadangan adalah Reed (sebilah bambu kecil untuk sumber bunyi), beli beberapa nomor (nomor menentukan ketebalan reed tersebut) saya sarankan beli nomor 1 dan 1,5 dan 2 dan 2,5 masing-masing satu buah. Saat anda sudah bisa mengeluarkan bunyi silahkan coba masing-masing reed yang mana paling nyaman menurut anda dan untuk penggantian selanjutnya beli reed yang bernomor sama.

Nah setelah membeli silahkan mencoba membunyikannya di rumah atau langsung belajar di tempat les atau bersama teman untuk mencoba saxophone yang anda gunakan sudah sesuai tune nya dan dalam keadaan baik serta semua yang anda butuhkan untuk bermain sudah lengkap.

Berikut beberapa merek dan type saxophone yang biasa digunakan untuk Student (Pemula) yang banyak beredar di Indonesia :
1. Yamaha YAS 280, YAS 21, YAS 23, YAS 26, YAS 275
2. Selmer Bundy I dan II (Bekas)
3. Leblanc Vito Japan (1 Pabrikan dengan Yamaha)
4. Buffet Evette (Prancis)
5. Selmer AS 300