Koes Plus dan perjalanan kisah mereka.

 

koes plus

 

 

 

Koes Plus adalah grup musik Indonesia yang dibentuk pada tahun 1969 sebagai kelanjutan dari grup Koes Bersaudara. Grup musik yang terkenal pada dasawarsa 1970-an ini sering dianggap sebagai pelopor musik pop dan rock ‘n roll di Indonesia. Sampai sekarang, grup musik ini kadang masih tampil di pentas musik membawakan lagu-lagu lama mereka, walaupun hanya tinggal Yon yang aktif.

Lagu-lagu mereka banyak dibawakan oleh pemusik lain dengan aransemen baru. Sebagai contoh, Lex’s Trio membuat album yang khusus menyanyikan ulang lagu-lagu Koes Plus, Cintamu T’lah Berlalu yang dinyanyikan ulang oleh Chrisye, serta Manis dan Sayangyang dibawakan oleh Kahitna.

 

Koes Bersaudara 1960 -1963

  1. John Koeswoyo – (Koesdjono) : Upright Bass
  2. Tonny Koeswoyo – (Koestono) : Lead Guitar
  3. Yon Koeswoyo – (Koesjono) : Vokal, Rhythm Guitar
  4. Yok Koeswoyo – (Koesrojo) : Vokal, Bass Guitar
  5. Nomo Koeswoyo – (Koesnomo) : Drum

Koes Bersaudara 1963 – 1968, 1977, 1986 – 1987

  1. Tonny Koeswoyo : Lead Guitar, vokal
  2. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar, vokal
  3. Yok Koeswoyo : Bass Guitar, Vokal
  4. Nomo Koeswoyo : Drum, Vokal

Koes Plus 1968 – 1969

  1. Tonny Koeswoyo : Lead Guitar, Keyboard , vokal
  2. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar , vokal
  3. Totok Adji Rahman : Bass Guitar, (Khusus Album I – Deg Deg Plas)
  4. Murry – (Kasmurry) : Drum , Vokal

Koes Plus 1969 – 1987

  1. Tonny Koeswoyo : Lead Guitar, Keyboard , vokal
  2. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar , vokal
  3. Yok Koeswoyo : Bass Guitar , Vokal
  4. Murry – (Kasmurry) : Drum , Vokal

Koes Plus 1989 – 1991

  1. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar , vokal
  2. Yok Koeswoyo : Bass Guitar , Vokal
  3. Murry – (Kasmurry) : Drum , Vokal

Koes Plus 1991

  1. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar , vokal
  2. Yok Koeswoyo : Bass Guitar , Vokal
  3. Murry – (Kasmurry) : Drum , Vokal
  4. Angga Koeswoyo : Guitar

Koes Plus 1992

  1. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar , vokal
  2. Yok Koeswoyo : Bass Guitar , Vokal
  3. Abadi Soesman : Lead Guitar , Keyboard
  4. Jelly Tobing : Drum

Koes Plus 1993

  1. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar , vokal
  2. Yok Koeswoyo : Bass Guitar , Vokal
  3. Murry – (Kasmurry) : Drum , Vokal
  4. Abadi Soesman : Lead Guitar , Keyboard

Koes Plus 1994 (Album “Tak Usah Kau Sesali”)

  1. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar , vokal
  2. Yok Koeswoyo : Bass Guitar , Vokal
  3. Murry – (Kasmurry) : Drum , Vokal
  4. Damon Koeswoyo : Lead Guitar
  5. Bambang Tondo : Keyboard (Foto Tidak Ditampilkan)

Koes Plus 1994 – 1996

  1. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar , vokal
  2. Yok Koeswoyo : Bass Guitar , Vokal
  3. Murry – (Kasmurry) : Drum , Vokal
  4. Najib Usman : Lead Guitar , Keyboard

Koes Plus 1996

  1. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar , vokal
  2. Hans “B-Flat” : Bass Guitar , Backing Vokal
  3. Murry – (Kasmurry) : Drum , Vokal
  4. Najib Usman : Lead Guitar , Keyboard

Koes Plus 1997

  1. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar , vokal
  2. Yok Koeswoyo : Bass Guitar , Vokal
  3. Deddy Dores : Lead Guitar

Koes Plus 1997

  1. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar , vokal
  2. Murry – (Kasmurry) : Drum , Vokal
  3. Bambang Tondo : Lead Guitar , Keyboard
  4. Jack Kashbie : Bass , Vokal

Koes Plus 1998 – 2004

  1. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar , vokal
  2. Murry – (Kasmurry) : Drum , Vokal
  3. Andolin Sibuea : Lead Guitar , Keyboard
  4. Jack Kashbie : Bass , Vokal

Koes Plus 2004 – Sekarang

  1. Yon Koeswoyo : Rhythm Guitar, Vokal
  2. Danang : Lead Guitar, Keyboard, Vokal
  3. Sony : Bass, Backing Vokal
  4. Seno : Drum

Kelompok ini dibentuk pada tahun 1969, sebagai kelanjutan dari kelompok “Koes Bersaudara”. Grup yang berasal dari Kelurahan Sendangharjo, Tuban, Jawa Timur ini merupakan alumnus SMK Negeri 1 Tuban dan pada akhirnya menjadi pelopor musik pop dan rock ‘n roll, bahkan pernah dipenjara karena musiknya yang dianggap mewakili aliran politikkapitalis. Di saat itu sedang garang-garangnya gerakan anti kapitalis di Indonesia.

 

Pada Kamis 1 Juli 1965, sepasukan tentara dari Komando Operasi Tertinggi (KOTI) menangkap kakak beradik Tony, Yon, dan Yok Koeswoyo dan mengurung mereka di penjara Glodok, kemudian Nomo Koeswoyo atas kesadaran sendiri, datang menyusul, perlu dicatat Nomo Koeswoyo senang sekali berkelana ke banyak daerah. Adik Alm Tony Koeswoyo itu rupanya memilih “mangan ora mangan kumpul” ketimbang berpisah dari saudara-saudara tercinta. Adapun kesalahan mereka adalah karena selalu memainkan lagu – lagu The Beatles yang dianggap meracuni jiwa generasi muda saat itu. Sebuah tuduhan tanpa dasar hukum dan cenderung mengada ada, mereka dianggap memainkan musik “ngak ngek ngok” istilah Pemerintahan berkuasa saat itu, musik yg cenderung imperialisme pro barat. Dari penjara justru menghasilkan lagu-lagu yang sampai saat sekarang tetap menggetarkan, “Di dalam Bui”, “jadikan aku dombamu”, “to the so called the guilties”, dan “balada kamar 15”. 29 September 1965, sehari sebelum meletus G 30 S-PKI, mereka dibebaskan tanpa alasan yang jelas.belakangan setelah Peristiwa itu berlalu,Koes Bersaudara yang masih hidup dan menginjak usia tua melakukan testimoni di depan pemirsa acara talkshow KICK ANDY (Metro TV)pada akhir 2008 bahwa di balik penangkapan mereka sebenarnya pemerintahan Soekarno menugaskan mereka dalam sebuah operasi Kontra Intelejen guna mendukung gerakan Ganyang Malaysia.

Dari Koes Bersaudara menjadi Koes Plus

Dari kelompok Koes Bersaudara ini lahir lagu-lagu yang sangat populer seperti “Bis Sekolah”,“ Di Dalam Bui”, “Telaga Sunyi”, “Laguku Sendiri” dan masih banyak lagi. Koesnomo (Nomo), selain bermusik juga mempunya pekerjaan sampingan sementara Tonny menghendaki totalitas dalam bermusik yang membuat Nomo harus memilih: tetap bermusik bersama Koes Bersaudara atau keluar. Nomo memilih opsi terakhir dan diikuti oleh adiknya Koesroyo (Yok). Dengan keluarnya dua anggota Koes Bersaudara yakni Koesnomo (Nomo) dan Koesroyo (Yok), Koes Bersaudara pun usai. Tonny yang terus ingin bermusik menggamit dua musisi masing-masing oleh Kasmuri (Murry) dan Totok AR, pemain bass group Philon. Band ini memakai nama Koes Plus, artinya plus dua orang di luar dinasti Koeswoyo: Totok A.R dan Murry.

Lagu-lagu Koes Bersaudara lebih menonjolkan harmonisasi vokal ( seperti lagu “Telaga Sunyi”, “Dewi Rindu” atau “Bis Sekolah”) dibanding lagu-lagu Koes Plus. Kelompok Koes Plus dimotori oleh almarhum Tonny Koeswoyo (anggota tertua dari kelompok musik Koeswoyo). Koes Plus dan Koes Bersaudara harus dicatat sebagai pelopor musik pop di Indonesia. Sulit dibayangkan sejarah musik pop kita tanpa kehadiran Koes Bersaudara dan Koes Plus.

Tradisi membawakan lagu ciptaan sendiri adalah tradisi yang diciptakan Koes Bersaudara. Kemudian tradisi ini dilanjutkan Koes Plus dengan album serial volume 1, 2 dan seterusnya. Begitu dibentuk, Koes Plus tidak langsung mendapat simpati dari pecinta musik Indonesia. Piringan hitam album pertamanya sempat ditolak beberapa toko kaset. Mereka bahkan mentertawakan lagu “Kelelawar” yang sebenarnya asyik itu.

Kemudian Murry sempat ngambek dan pergi ke Jember sambil membagi-bagikan piringan hitam albumnya secara gratis pada teman-temannya. Dia bekerja di pabrik gula sekalian main band bersama Gombloh dalam grup musik Lemon Trees. Tonny yang kemudian menyusul Murry untuk diajak kembali ke Jakarta. Baru setelah lagu “Kelelawar” diputar di RRIorang lalu mencari-cari album pertama Koes Plus. Beberapa waktu kemudian lewat lagu-lagunya “Derita”, “Kembali ke Jakarta”, “Malam Ini”, “Bunga di Tepi Jalan” hingga lagu “Cinta Buta”, Koes Plus mendominasi musik Indonesia waktu itu.

Kiblat Musik Pop Indonesia

Dengan adanya tuntutan dari produser perusahaan rekaman, maka group-group lain yang “seangkatan” seperti Favourites, Panbers, Mercy’s, D’Lloyd menjadikan Koes Plus sebagai “kiblat”, sehingga group-group ini selalu meniru apa yang dilakukan Koes Plus, pembuatan album di luar pop Indonesia, seperti pop melayu dan pop jawa menjadi trend group-group lain setelah Koes Plus mengawalinya.

“Seandainya kelompok ini lahir di Inggris atau AS bukan tidak mungkin akan menggeser popularitas Beatles”

“Lagu Nusantara I” (Volume 5), “Oh Kasihku” (Volume 6), “Mari-Mari” (Volume 7), “Diana” dan “Kolam Susu” ( Volume 8) merajai musik pop waktu itu. Puncak kejayaan Koes Plus terjadi ketika mereka mengeluarkan album Volume 9 dengan lagu yang sangat terkenal “Muda-Mudi” (yang diciptakan Koeswoyo, bapak dari Tonny, Yon dan Yok). Disusul lagu “Bujangan” dan “Kapan-Kapan” dari volume 10. Masih berlanjut dengan lagu “Nusantara V” dari album Volume 11 dan “Cinta Buta” dari album Volume 12.

Bersamaan dengan itu Koes Plus juga mengeluarkan album pop Jawa dengan lagu yang dikenal dari tukang becak, ibu-ibu rumah tangga, hinga anak-anak muda, yaitu “Tul Jaenak” dan “Ojo Nelongso”. Belum lagi lagu mereka yang berirama melayu seperti “Mengapa”, “Cinta Mulia” dan lagu keroncongnya yang berjudul “Penyanyi Tua”. Sayang sekali di setiap album yang mereka keluarkan tidak ada dokumentasi bulan dan tahun, sehingga susah melacak album tertentu dikeluarkan tahun berapa. Bahkan tidak ada juga kata-kata pengantar lainnya. Album mereka baru direkam secara teratur mulai volume VIII setelah ditandatangani kontrak dengan Remaco. Sebelumnya perusahaan yang merekam album-album mereka adalah “Dimita”.

Pada tahun 1972-1976 udara Indonesia benar-benar dipenuhi oleh lagu-lagu Koes Plus. Baik radio atau orang pesta selalu mengumandangkan lagu Koes Plus. Barangkali tidak ada orang-orang Indonesia yang waktu itu masih berusia remaja yang tidak mengenal Koes Plus. Kapan Koes Plus mengeluarkan album baru selalu ditunggu-tunggu pecinta Koes Plus dan masyarakat umum.

Tahun 1972 Koes Plus sempat menjadi band terbaik dalam Jambore Band di Senayan. Semua peserta menyanyikan lagu Barat berbahasa Inggris. Hanya Koes Plus yang berani tampil beda dengan menyanyikan lagu “Derita” dan “Manis dan Sayang”.

Rekor Album

Dari informasi yang dikirim seorang penggemar Koes Plus, ternyata prestasi Koes Plus memang luar biasa. Pada tahun 1974 Koes Plus mengeluarkan 22 album, yaitu terdiri dari album lagu-lagu baru dan album-album “the best” termasuk album-album instrumentalia, yang dibuat dari instrument asli Koes Plus atau rekaman “master” yang kemudian diisi oleh permainan saxophone Albert Sumlang, seorang pemain dari group the Mercy’s. Jadi rata-rata mereka mengeluarkan 2 album dalam satu bulan. Tahun 1975 ada 6 album. Kemudian tahun 1976 mereka mengeluarkan 10 album. Mungkin rekor ini pantas dicatat di dalam Guinness Book of Record. Dan hebatnya, lagu-lagu mereka bukan lagu ‘asal jadi’, tetapi memang hampir semua enak didengar. Bukti ini merupakan jawaban yang mujarab karena banyak yang mengkritik lagu-lagu Koes Plus cuma mengandalkan “tiga jurus”: kunci C-F-G.

Karena banyak jasanya dalam pengembangan musik, masyarakat memberikan tanda penghargaan terhadap prestasinya menjadi kelompok legendaris dengan diberikannya tanda penghargaan melalui “Legend Basf Award, tahun 1992.Prestasi yang dimiliki disamping masa pengabdiannya dibidang seni cukup lama, produk hasil ciptaan lagunya pun juga memadai karena sejak tahun 1960 sampai sekarang berhasil menciptakan 953 lagu yang terhimpun dalam 89 album. Prestasi hasil ciptaan lagu untuk periode kelompok Koes Bersaudara sebanyak 203 lagu (dalam 17 album),sedang untuk periode kelompok Koes Plus sebanyak 750 lagu dalam 72 album (Kompas,13 September 2001).

Salah satu anggota Koes Plus mengatakan bahwa mereka dibayar sangat mahal pada masa jayanya. Yon mengungkapkan bahwa pada tahun 1975 mereka manggung di Semarang. “Waktu itu pada tahun 1975, kami telah dibayar Rp 3 juta saat pentas di Semarang,” kenang dia. Padahal, saat itu harga sebuah mobil Corona tahun 1975 kira-kira Rp 3,750 juta. Bila dikurs saat ini bayaran tersebut kurang lebih sama dengan Rp 150 juta.(Suara Merdeka, 4 Mei 2001)

Waktu itu, Rp 3,5 juta sangat tinggi, mengingat mobil sedan baru Rp 3 juta. Jika dikurskan dengan nilai uang sekarang, jumlah itu sama dengan Rp 200 juta sampai Rp 300 juta. Jumlah penonton melimpah ruah tidak seperti sekarang, kenang Yon. (Suara Merdeka, 23 Oktober 2001).

Setelah itu popularitas Koes Plus mulai redup. Mungkin karena generasi sudah berganti dan selera musiknya berubah. Koes Plus vakum sementara dan Nomo masuk lagi menggantikan Murry, sekitar akhir 1976-an. Koes Bersaudara terbentuk lagi dan langsung ngetop dengan lagunya “Kembali” yang keluar tahun 1977. Murry bersama groupnya Murry’s Group juga cukup menggebrak dengan lagunya “Mamiku-papiku”. Tidak bertahan lama tahun 1978 kembali terbentuk Koes Plus. Lagu barunya, “Pilih Satu” juga langsung populer. Setelah itu keluar lagu “Cinta”, dengan aransemen orchestra, yang benar-benar berbeda dengan lagu Koes Plus yang lain. Kemudian populer juga album melayu mereka yang memuat lagu “Cubit-Cubitan” dan “Panah Asmara”. Tetapi Koes Plus generasi ini tidak lagi sepopuler sebelumnya. Walaupun, kalau disimak lagu-lagu yang lahir setelah 1978, masih banyak lagu mereka yang bagus.

Nasib Koes Plus kini sangat tragis. Seperti kata Yon suatu ketika bahwa Koes Plus hanya besar namanya tetapi tidak punya apa-apa. Ucapan ini memang pas untuk mewakili keadaan personel Koes Plus. Mereka tidak mendapatkan uang dari hasil penjualan kaset yang berisi lagu-lagu lama mereka. Tidak seperti para penyanyi/pemusik masa kini yang gaya hidupnya “wah” karena dari segi finansial pendapatannya sebagai penyanyi/pemusik cukup terjamin. Begitu juga bekas group-group tersohor seperti Beatles, atau Led Zeppelin, mereka hidup dengan enak hanya dari royalti kaset/VCD/CD/DVD yang mereka hasilkan. Sampai anak-anak dan istri mereka pun menikmati kelimpahan finansial ini.

Koes Plus hanya dibayar sekali untuk setiap album yang dihasilkan. Tidak ada royalti, tidak ada tambahan fee untuk setiap CD/kaset yang terjual. Maka tidak heran ketika tahun 1992 Yon harus jualan batu akik untuk menghidupi rumah tangganya. Sementara kaset dan CD lagunya masih laris terjual di Indonesia. Sekarang pun di usianya yang ke-63 Yon dan kawan-kawan (Murry beberapa kali tidak tampil karena sakit) membawa nama Koes Plus harus manggung untuk mendapatkan uang. Dengan sisa-sisa suara dan kekuatannya mereka harus menjual suara dan tenaganya. Yon memang tidak merasakan ini sebagai beban. Dia bersyukur lagunya masih dicintai orang. Tetapi kita prihatin mendengar kabar seperti ini.

 

Sumber

 

Selamat Hari Guru

Puisi Hari Guru Nasional Terbaik

 

 

Setiap tanggal 25 November itu diperingati sebagai hari guru. Loopers bertanya-tanya ya kenapa kok tercetus tanggal itu? Kan sudah ada hari pendidikan? Ngapain masih ada Hari Guru Nasional segala? Ini nih kupasan lengkapnya mengenai Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November ini.

Perkumpulan guru sejak pemerintahan Belanda

Loopers, ternyata Hari Guru Nasional ini sudah dicetuskan sejak tahun 1994 lalu dengan tertulisnya keputusan presiden, yaitu Kepres No. 78 Tahun 1994 dan juga ditulis di UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang menetapkan tanggal 25 November merupakan hari guru nasional yang diperingati bersamaan dengan ulang tahun PGRI. Hari Guru Nasional ini diperingati setiap tanggal 25 November setiap tahunnya namun sayangnya pada hari itu nggak ada peringatan khusus di hari penting ini. Maka dari itu, wajar aja kalau banyak orang yang belum tahu banyak tentang hari nasional ini.

Nama perkumpulan guru sebenarnya sudah ada sejak jaman pemerintahan Belanda, yang diberi nama dengan Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada tahun 1912. Perkumpulan ini beranggotakan guru bantu, guru desa, kepala sekolah dan lainnya. Lalu, karena para guru sangat ingin sekali mendirikan negara sendiri, mereka mengubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada tahun 1932.

Terbentuknya Persatuan Guru Indonesia

Lalu, hari guru ini tercetus sejak 2 bulan setelah kemerdekaan Indonesia, yakni tanggal 24 sampai 25 November 1945. Para guru membentuk kongres guru untuk mendukung kemerdekaan Indonesia di kota Surakarta. Kongres ini merupakan tempat berkumpulnya para guru yang berjuang mempertahankan pendidikan di Indonesia ditengah penjajahan. Mereka adalah guru yang masih aktif mengajar, pensiunan para pejuang, pegawai pendidikan dan lainnya.

Tercetusnya Hari Guru Nasional

Lalu, pada tanggal 25 November 1945 mereka menyebutnya dengan nama PGRI atau Persatuan Guru Republik Indonesia. Sayangnya, belum ada keputusan resmi dari para pemerintah saat itu untuk menjadikan sebagai hari resmi nasional. Hingga pada tahun 1994, di situs resmi PGRI ini tercetuslah hari guru nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November. Tercetusnya hari guru ini karena untuk mengenang jasa dan perjuangan para guru memperjuangkan pendidikan rakyat Indonesia dan kemerdekaan Indonesia.

Hari guru nasional ini dicetuskan karena para guru yang berjuang demi pendidikan Indonesia. Mereka bahkan rela kurang diperhatikan oleh pemerintah agar rakyat Indonesia dapat mengenyam bangku pendidikan yang layak. Terima kasih, Guru!

 

 

Sumber

Pemenang Ami 2017

ami awards logo

 

Siapa saja yang keluar jadi pemenang di ajang AMI Awards 2017 ini? Berikut adalah nominasi dan pemenang dari setiap kategori.

Nomine Artis Solo Wanita Pop
Agnez Mo – Sebuah Rasa (Single ‘Sebuah Rasa’)
Bunga Citra Lestari – Aku Wanita (It’s Me BCL)
Isyana Sarasvati – Cinta Pertama (EXPLORE! Special Edition)
Rossa – Cinta Dalam Hidupku (A New Chapter)
Yura Yunita – Intuisi (Single ‘Intuisi’)

Artis Solo Pria Pop
Afgan – Jalan Terus (Sides)
Anji – Bidadari Tak Bersayap (Single ‘Bidadari Tak Bersayap’)
Ari Lasso – Dunia Maya (Single ‘Dunia Maya’)
Judika – Jadi Aku Sebentar Saja (Judika)
Vidi Aldiano – Definisi Bahagia (Persona)

Duo/Grup Pop
Armada – Asal Kau Bahagia (Maju Terus Pantang Mundur)
D’MASIV – Dengarlah Sayang (D’MASIV)
Geisha – Cinta Itu Kamu (Single ‘Cinta Itu Kamu’)
Gigi – Adu Domba (Setia Bersama Menyayangi & Mencintai)
Nidj i– Bila Bersamamu (Love,Fake & Friendship)

Kolaborasi Pop
Gamaliel Audrey Cantika & The Overtunes – Senyuman & Harapan (OST. Cek Toko Sebelah – Album EP)
HiVi! Feat. Andi Rianto – Siapkah Kau ‘Tuk Jatuh Cinta Lagi’ (Kereta Kencan)
Kotak X Anggun – Teka Teki (Long Live Kotak)
Melly Goeslaw & Gita Gutawa – Memang Kenapa Bila Aku Perempuan? (Single ‘Memang Kenapa Bila Aku Perempuan?’ OST.Kartini)
RAN Feat Kahitna – Salamku Untuk Kekasihmu Yang Baru (RAN)

Pencipta Lagu Pop
Berlari Tanpa Kaki – Mikha Angelo, Reuben Nathanel (Gamaliel Audrey Cantika)
Bidadari Tak Bersayap – Ahmad Fredy (Anji)
Cinta Pertama – Isyana Sarasvati (Isyana Sarasvati)
Intuisi – Yura Yunita (Yura Yunita)
Sebuah Rasa – Dewiq, Pay (Agnez Mo)

Produser/Penata Musik Pop
Adu Domba – Gigi (Gigi)
Berlari Tanpa Kaki – The Overtunes (Gamaliel Audrey Cantika)
Bidadari Tak Bersayap – Ade Govinda, Jeje Govinda (Anji)
Cinta Itu Kamu – Geisha (Geisha)
Sebuah Rasa – Erwin Gutawa (Agnez Mo)

Album Pop
A New Chapter – Rossa
It’s Me BCL – Bunga Citra Lestari
Judika – Judika
RAN – RAN
Sides – Afgan

Artis Solo Pria/Wanita Rock/Instrumentalia Rock
Adrian Adioetomo – Tanah Ilusi (Apaan)
Bounty Ramdhan – Tragic (Single ‘Tragic’)
Edwin Marshal Syarif – Sore (Single ’Sore’)
Ervin Nanzabakri – It’s All About The Rock (Seperti Matahari)
Ilham Ansari – Berani Berbagi (Single ’Berani Berbagi’)

Duo/Grup/Kolaborasi Rock
God Bless – Damai (Cermin 7)
Gugun Blues Shelter – Hitam Membiru (Hitam Membiru)
Saint Loco Feat Iwa K & DJ Tius – Bebas (Single ‘Bebas’)
Slank – Palalopeyank (Palalopeyank)
The Changcuters – Bentrok Sinyal (Binauralis)

Album Rock
Cermin 7 – God Bless
Hitam Membiru – Gugun Blues Shelter
Long Live Kotak – Kotak
Palalopeyank – Slank
Titik Nol – Piston

Artis Jazz Vokal
Aimee Saras, Bonita, Aprilia Apsari – Tiga Dara (Aransemen Ulang Lagu Orisinil Dari Film Tiga Dara)
Dwiki Dharmawan Feat Peni Candra Rini – Lir Ilir (Pasar Klewer)
Krakatau Reunion – Cermin Hati (Chapter One)
Mike Mohede – Kaulah Segalanya (The Unforgettable)
Sri Hanuraga Trio Feat Dira Sugandi – Kicir-Kicir (Indonesia Vol 1)

Instrumentalia Jazz
Andi Bayou – Sunrise at Borobudur (Sunrise at Borobudur)
Dewa Budjana – Solas PM (Zentuary)
Dwiki Dharmawan – Frog Dance (Pasar Klewer)
Indra Lesmana Keytar Trio – Jack Swing (About Jack)
Indro Hardjodikoro – Always There (Always There)
Tohpati Bertiga – Faces (Faces)

Album Jazz
About Jack – Indra Lesmana Keytar Trio (Inline Music, Indra Lesmana & Honhon Lesmana)
Always There – Indro Hardjodikoro (Indro Hardjodikoro)
Chapter One – Krakatau Reunion (DSS Music)
Faces – Tohpati Bertiga (Tohpati)
Zentuary – Dewa Budjana (Dewa Budjana, IGN Bagus Wijaya Sentosa)

Artis Solo Pria/Wanita Soul/R&B/Urban
Andien – Belahan Jantungku (Single ‘Belahan Jantungku)
Eva Celia – Another You (And So It Begins)
Glenn Fredly – Tanda Mata (Single ‘Tanda Mata’)
Rendy Pandugo – Silver Rain (Single ‘Silver Rain’)
Tulus – Monokrom (Monokrom)

Artis Grup/Kolaborasi Soul/R&B/Urban
Gamaliel Audrey Cantika – Galih & Ratna (OST Galih & Ratna)
HiVi! – Merakit Perahu (Kereta Kencan)
Krakatau Reunion – Aku Kamu Kita (Chapter One)
Raisa & Isyana Sarasvati – Anganku Anganmu (Single ‘Anganku Anganmu’)
RAN – Mager (RAN)

Album Soul/R&B/Urban
And So It Begins – Eva Celia
Independent Pt. 2 – Rinni Wulandari
Monokrom – Tulus
Nothing Is Real – Teddy Adhitya
Senandung Senandika – Maliq & D’Essentials

Artis Solo Pria/Wanita Dangdut
Dedy Gunawan – Terlarang Hasratku (Single ‘Terlarang Hasratku’)
Erie Suzan – Gerimis Melanda Hati (Single ‘Gerimis Melanda Hati’)
Lesti – Egois (Single ‘Egois’)
Novi Ayla – Hanya Engkau (Single ‘Hanya Engkau’)
Weni – Engkaulah Takdirku (Single ‘Engkaulah Takdirku’)

 

Artis Solo Wanita Dangdut Kontemporer
Ayu Ting Ting – Kamu Kamu Kamu (Kamu Kamu Kamu)
Cita Citata – Bahagia Itu Sederhana (Single ‘Bahagia Itu Sederhana’)
Dewi Perssik – Indah Pada Waktunya (Semua Karena Cinta)
Fitri Carlina – Musim Hujan Musim Kawin (Single ‘Musim Hujan Musim Kawin’)
Iis Dahlia – Demi Kamu (Tum Hi Ho) (The Best of Iis Dahlia)

Artis Solo Pria Dangdut Kontemporer
Beniqno – Happy (Single ‘Happy’)
Danang – Satu Selamanya (Single ‘Satu Selamanya’)
Denias – Tak Percaya Lagi (Single ‘Tak Percaya Lagi’)
Ridho Rhoma – Mengapa (Single ‘Mengapa’)
Sodiq Monata – Rejeki Kota (Single ‘Rejeki Kota’)

Artis Duo/Grup/Kolaborasi Dangdut/Dangdut Kontemporer
2 Putri Bahar – Udah Putus Jangan Cemburu (Single ‘Udah Putus Jangan Cemburu’)
Delon & Siti Badriah – Cinta Tak Harus Memiliki (Single ‘Cinta Tak Harus Memiliki’)
Duo Anggrek – Goyang Nasi Padang (Single ‘Goyang Nasi Padang’)
Duo Serigala – Kost Kostan (Single ‘Kost Kostan’)
Julia Perez Feat D’Perez – Ku Dapat Dari Emak (The Best of Julia Perez)

Pencipta Lagu Dangdut/Dangdut Kontemporer
Bahagia Itu Sederhana – Tjahjadi Djajanata / Ishak (Cita Citata)
Engkaulah Takdirku – Adibal Sahrul (Weni)
Gerimis Melanda Hati – Adibal Sahrul (Erie Suzan)
Happy – Adibal Sahrul (Beniqno)
Indah Pada Waktunya – Dommy Allen (Dewi Perssik)

Produser/Penata Musik Dangdut/Dangdut Kontemporer
Bahagia Itu Sederhana – Tjahjadi Djajanata (Cita Citata)
Demi Kamu (Tum Hi Ho) – Pri Keyboard (Iis Dahlia)
Engkaulah Takdirku – Prikeys (Weni)
Goyang Nasi Padang – Donall (Duo Anggrek)
Ketemu Mantan – Endang Raes (Siti Badriah)

Artis Solo Perempuan Anak-Anak
Amanda – Bunga Melati (Lagu Ceria Anak Indonesia)
Angelique – 1,2,3 Ikuti Irama (Single ‘1,2,3 Ikuti Irama’)
Lyodra (Diatas Rata-Rata) – Dear Dream (Single ‘Dear Dream’)
Neona – Aduh Neik (Single ‘Aduh Neik’)
Ruth Gediana – Kaulah Idolaku (Single ‘Kaulah Idolaku’)

Artis Solo Laki-Laki Anak-Anak
Christo – Anak Indonesia (Single ‘Anak Indonesia’)
Jojo – Bunda (Lagu Anak-Anak Terbaik)
Rafi Sudirman (Diatas Rata-Rata) – Aku Suka Hari Ini (Musik Anak Diatas Rata-Rata)
Rian – Kekuatan Cinta (Lagu Anak-Anak Terbaik)
Ruri – Untuk Ibu (Satu Bintang) (Lagu Ceria Anak Indonesia)

Artis Duo/Grup/Grup Vokal/Kolaborasi Anak-Anak
Kafin & Rafi Sudirman (Diatas Rata-Rata) – Buka Puasa (Musik Anak Terbaik Diatas Rata-Rata)
Olivola & Rafi Sudirman (Diatas Rata-Rata) – Ulang Tahun (Musik Anak Terbaik Diatas Rata-Rata)
Purwa Caraka Music Studio Choir – Suka Hati (OST Surat Kecil Untuk Tuhan)
Tegar Feat Ryan Chandra – Bila Kau Sahabatku (Single ‘Bila Kau Sahabatku’)
Tere, Rian, Melitha, Tiara, Vitara, Andy – Aku Bisa (Lagu Anak-Anak Terbaik)

Pencipta Lagu Anak-Anak
1,2,3 Ikuti Irama – Arche & Joan Rampengan (Angelique)
Aku Suka Hari Ini – Budi Rahardjo (Rafi Sudirman Diatas Rata-Rata)
Bila Kau Sahabatku – Deddy Suganda Widjaja (Tegar Feat Ryan Chandra Widjaja)
Buka Puasa – Erwin Gutawa & Gita Gutawa (Kafin & Rafi Sudirman Diatas Rata-Rata)
Dear Dream – Erwin Gutawa & Gita Gutawa, Ria Leimena (Lyodra Diatas Rata-Rata)

Produser/Penata Musik Lagu Anak-Anak
1,2,3 Ikuti Irama – Arche Rampengan (Angelique)
Aku Bisa – Tito P Soenardi (Tere, Rian, Melitha, Tiara, Vitara, Andy)
Aku Suka Hari Ini – Erwin Gutawa (Rafi Sudirman Diatas Rata-Rata)
Dear Dream – Erwin Gutawa & Gita Gutawa (Lyodra Diatas Rata-Rata)
Selamatkan Lagu Anak – Ariel Nidji, Papa T Bob (#SaveLaguAnak)

Album Anak-Anak
Bandar Udara – Lovely Kids
Electronic Dance Music For Kids – Alena Gracia
Lagu Anak Legenda – Calista Amadea
OST Surat Kecil Untuk Tuhan – Purwa Caraka Music Studio Choir
Semangat Belajar – Cind3rella

Karya Produksi Kroncong/Kroncong Kontemporer/Stambul/Langgam
Indra Utami Tamsir – Bengawan Solo
Krontjong Toegoe – Kampung Toegoe
O.K. Marlubu – Kr. Betapa Indahnya
Tetty Supangat – Kidung Surgawi
Waldjinah – Panglipur Wuyung

Karya Produksi Alternatif/Alternatif Rock/Lintas Bidang
Efek Rumah Kaca – Merdeka
Elephant Kind – Beat The Ordinary
Mondo Gascaro – A Deacon’s Summer
Payung Teduh – Akad
Shaggydog feat Iwa K – Putra Nusantara

Karya Produksi Metal/Hardcore
Aftermath – Pay The Dues
DeadSquad – Pragmatis Sintetis
Edane – Hail Edan
Godless Symptoms – Kebenaran Harus Lantang Bicara
Roxx – Anthem

Karya Produksi Rap/HipHop
Adrian Khalif Feat. Dipha Barus – Made in Jakarta
Jogja Hip Hop Foundation – Sedulur
Rayi Putra – Demons
RROB Feat. Liquid Silva & Fajar J – Anik-Anik
Saykoji, Gamal Gandhi & Della MC – Ngabuburap
Young Lex Feat Gamaliel – Slow

Karya Produksi Reggae/SKA/Rocksteady
Bandung Inikami Orcheska – Matahari Jingga Bandung Utara
Dhyo Haw – Trip Malam Ini
DJ wW & Evan Virgan Feat. Ras Muhamad – Trappin’U
Shaggydog – Rock Da Mic
Tipe-X – Cerita Tahun Lalu

Karya Produksi Kolaborasi
Adrian Khalif Feat. Dipha Barus – Made in Jakarta
Dipha Barus Feat. Nadin – All Good
Gamaliel Audrey Cantika & The Overtunes – Senyuman & Harapan
Kotak X Anggun – Teka Teki
Raisa & Isyana Sarasvati – Anganku Anganmu

 

Karya Produksi Original Soundtrack
Gamaliel Audrey Cantika – Berlari Tanpa Kaki (OST Cek Toko Sebelah)
Isyana Sarasvati – Sekali Lagi (OST Critical Eleven)
Melly Goeslaw & Gita Gutawa – Memang Kenapa Bila Aku Perempuan? (OST Kartini)
Rossa – Cinta Dalam Hidupku (OST London Love Story 2)
Sheryl Sheinafia – Gita Cinta (OST Galih & Ratna)

Karya Produksi Grup Vokal
Gamaliel Audrey Cantika – Berlari Tanpa Kaki
JKT48 – JKT Festival
Purwa Caraka Music Studio Choir – Suka Hati
Trisouls – Senyummu Hanya Untukku

Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah
Ganti Ramon & Mira DJ – Kariang Lautan
Gitara King’s Trio – Anak Medan
Jogja Hip Hop Foundation – Sedulur
Waldjinah Feat. Asti Dewi Christianna – Kembang Kacang
Zaskia Gotik – Ora Ndueni

Karya Produksi Lagu Berlirik Spiritual Islami
Fatin – Ketika Tangan dan Kaki Bekata
Haddad Alwi & Shifa Feat. Fadly – Demi Sang Nabi
Opick – Allah Bersamamu
Slank – D.O.A
Wali – Salam 5 Waktu (New Version)

Karya Produksi Lagu Berlirik Spiritual Nasrani
Amelia Ong – Have Yourself A Merry Little Christmas
Angel Pieters – Kunyanyi Haleluya
Franky Kuncoro Feat. Sidney Mohede – Kemenangan Terjadi Disini/Engkau Raja
Gisel – Indah Pada Waktunya
Joy & Jelita Tobing – Mery’s Boy Child – O Come, All Ye Faithfull

Karya Produksi Instrumentalia
Dewa Budjana – Solas PM
Dwiki Dharmawan – Frog Dance
Gerald Situmorang – Familiar Song
Indra Lesmana Keytar Trio – Jack Swing
Indro Hardjodikoro – Always There

Karya Produksi Dance/Electronic
Andre Dunant Feat. Nadhira – Never Let You Go
Cindy Bernadette Feat. DJ Evan Virgan – Can’t Get Enough
Dipha Barus Feat. Nadin – All Good
Indah Nevertari – PHP
Soundwave – Kisah Kita

Karya Produksi Folk/Country/Balada
Adhitia Sofyan – Seniman
Armand Maulana – Sebelah Mata
Bonita & the Hus Band – Satu hari Sebelum Esok
Endah N Rhesa – Ruang Bahagia
Jason Ranti – Bahaya Komunis
Oppie & Suara Anak Bumi – Orangutan

Karya Produksi Rock Progressive
Imanissimo – Impromptu Visits
Levty Progre – Great Universe
Montecristo – A Deep Sleep
Montecristo – Nanggroe
Van Java – Lonely

Produser Album Rekaman
Dahlia Wijaya / GP Records – Independent Pt. 2
Demajors – Aransemen Ulang Lagu Orisinil Dari Film Tiga Dara
Ian antono,Rumah Musik Kita – Cermin 7
Sony Music Entertainment Indonesia – OST. Cek Toko Sebelah (Album EP)
TulusCo – Monokrom

Perancang Grafis
Forbidden Knowledge – Wok The Rock/Adrian Gufi (Eross Candra)
No Regret – Noviar Rahmat (Brigade07)
Putra Nusantara – Agan Harahap (Shaggydog)
Senandung Senandika – Abenk Alter (Maliq & D’Essentials)
Tyranation – Gilang (DeadSquad)

Tim Produksi Suara
Cinta Dalam Hidupku – Ari ‘Aru’ Renaldi / Anggi Anggoro (Rossa)
Damai – Stephan Santoso (God Bless)
Dunia Maya – Rudra (Ari Lasso)
Ku Dengannya Kau Dengan Dia – Eko Sulistiyo / Jeremiah Simanjuntak (Afgan)
Monokrom – Ari ‘Aru’ Renaldi / Rudy Zulkarnaen (Tulus)

Pendatang Baru Terbaik Terbaik
Adrian Khalif – Made in Jakarta (Single – Made in Jakarta)
Elephant Kind – Beat The Ordinary (City J)
Gloria Jessica – Dia Tak Cinta Kamu (Single – Dia Tak Cinta Kamu)
Jordy Waelauruw – With You (Single – With You)
Teddy Adhitya – In Your Wonderland (Nothing is Real)
Vira Talisa – Walking Back Home (Single – Walking Back Home)

Album Terbaik Terbaik
A New Chapter – Rossa
It’s Me BCL – Bunga Citra Lestari
Monokrom – Tulus
Senandung Senandika – Maliq & D’Essentials
Sides – Afgan

Karya Produksi Terbaik Terbaik
Bunga Citra Lestari – Aku Wanita
Dipha Barus Feat. Nadin – All Good
Gamaliel Audrey Cantika & The Overtunes – Senyuman & Harapan
Raisa & Isyana Sarasvati – Anganku Anganmu
Tulus – Monokrom

Selain penghargaan di atas, ada pula 2 kategori spesial yang diumumkan, yakni Legend Award dan Lifetime Achievement Award.

Legend Award
Harry Roesli
Benny Panjaitan
Bartje Van Houten

Lifetime Achievement Award
Fariz RM

Selamat kepada para pemenang, AMI Awards 2017.

Sejarah AMI Awards

piala ami awards

 

Anugerah Musik Indonesia (sering pula disebut AMI Awards) (dahulu BASF Awards dan HDX Awards) adalah sebuah penghargaan yang diberikan oleh Yayasan Anugerah Musik Indonesia (YAMI) dengan gagasan dari Asosiasi Industri Rekaman (ASIRI), Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), serta Karya Cipta Indonesia (KCI). Konsep penghargaan ini mengacu pada National Academy of Recording Arts and Sciences (NARAS), komite yang menyelenggarakan Grammy Awards di Amerika Serikat.

Ajang penghargaan tahunan ini pertama kali digelar pada tahun 1985. Setelah sebelas tahun digelar secara berturut-turut hingga tahun 1996, ajang penghargaan ini kemudian dihilangkan dan diganti oleh Anugerah Musik Indonesia.

Ajang penghargaan ini diadakan oleh produsen pita kaset BASF. Pemilihan pemenang didasarkan atas 2 kategori, yaitu kategori penjualan dan kategori artistik. Pemenang untuk kategori penjualan dipilih berdasarkan penjualan tertinggi di masing-masing genre, seperti pop, rock, dan jazz. Sementara untuk kategori artistik dipilih oleh juri khusus yang menilai pemenang berdasarkan kualitas karyanya.

AMI pertama kali digelar pada tahun 1997 dan sampai tahun 2015 telah memiliki 18 penyelenggaraan. Pada tahun 2007, AMI sempat vakum dalam penyelenggaraan. Namun, pada tahun tersebut AMI Dangdut Awards digelar untuk pertama kalinya sebagai ajang penghargaan khusus untuk kategori musik dangdut. Sayangnya, ajang penghargaan tersebut tidak pernah diselenggarakan lagi pada tahun berikutnya.

Sepanjang sejarah perhelatannya, AMI telah menambah dan menghapus berbagai kategori penghargaannya. Selain menyajikan kategori-kategori reguler seperti Album Terbaik dan Penyanyi Terbaik di berbagai bidang musik, AMI juga memberikan beberapa penghargaan khusus tanpa nominasi. Lifetime Achievement Award diberikan setiap tahunnya khusus untuk orang-orang yang berjasa dalam perkembangan musik Indonesia. AMI juga pernah menganugerahi penghargaan Artis Asing Terbaik untuk Siti Nurhaliza pada tahun 2000, serta penghargaan khusus Artis Internasional Terbaik kepada Anggun C. Sasmi pada tahun 2006 atas pencapaiannya sebagai penyanyi Indonesia dengan karier internasional yang gemilang.

Masing-masing dari tiga organisasi pendiri yaitu Asosiasi Industri Rekaman (ASIRI), Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), serta Karya Cipta Indonesia (KCI) awalnya menyumbangkan satu anggota dewan, di bawah arahan penyanyi country Indonesia, Tantowi Yahya. Di bawah dewan ini, terdapat dewan lain yang tidak terlalu kuat. Lebih jauh kemudian, terdapat divisi berdasarkan kekhususan, seperti Pemasaran, Komunikasi, dan Keanggotaan. Di tahun 2016, musisi jazz Dwiki Dharmawan menggantikan Yahya sebagai Ketua AMI.

Anugerah Musik Indonesia memberikan penghargaan dalam berbagai kategori, setiap kategorinya mencakup kontribusi spesifik dari industri musik Indonesia. Kategori dalam Anugerah Musik Indonesia (AMI) telah beberapa kali mengalami perubahan. Penghargaan tahun 2010 memiliki 35 kategori, sementara di tahun 2011 berjumlah 46 kategori. Kategori ini bertambah menjadi 49 di tahun 2017.

Penghargaan umum mencakup beberapa penghargaan yang tidak dibatasi oleh genre musik:

  • “Pendatang Baru Terbaik-Terbaik” diberikan kepada penampil (musisi) pendatang baru dengan rilis yang dapat diperhitungkan.
  • “Album Terbaik-Terbaik” diberikan kepada penampil dan tim produksi album.
  • “Karya Produksi Terbaik-Terbaik” diberikan kepada penulis/komposer dari satu lagu dan juga penampilnya.

Penghargaan lainnya diberikan pada pertunjukan dan produksi dalam genre musik yang berbeda, dan juga kontribusi lainnya seperti karya seni. Anugerah Musik Indonesia juga menyajikan penghargaan khusus yang diberikan untuk kontribusi jangka panjang bagi industri musik Indonesia seperti AMI Legend Award dan Lifetime Achievement Award (yang tidak setiap tahun disajikan).

SEJAK 2017

Umum
  • Album Terbaik-Terbaik
  • Karya Produksi Terbaik-Terbaik
  • Pendatang Baru Terbaik-Terbaik
Pop
  • Artis Solo Pop Wanita Terbaik
  • Artis Solo Pop Pria Terbaik
  • Kolaborasi Pop Terbaik
  • Artis Duo atau Grup Pop Terbaik
  • Penulis Lagu Pop Terbaik
  • Produser Rekaman Pop Terbaik
  • Album Pop Terbaik
Rock
  • Artis Solo Rock Terbaik
  • Duo atau Group atau Kolaborasi Rock Terbaik
  • Album Rock Terbaik
Jazz
  • Artis Jazz Vokal Terbaik
  • Artis Jazz Instrumental Terbaik
  • Album Jazz Terbaik
R&B/Soul/Urban
  • Artis Solo R&B/Soul/Urban Terbaik
  • Artis Duo atau Group atau Kolaborasi R&B/Soul/Urban Terbaik
  • Album R&B/Soul/Urban Terbaik
Dangdut
  • Artis Solo Dangdut Terbaik
  • Artis Solo Wanita Dangdut Kontemporer Terbaik
  • Artis Solo Pria Dangdut Kontemporer Terbaik
  • Artis Duo atau Group atau Kolaborasi Dangdut Terbaik
  • Penulis Lagu Dangdut Terbaik
  • Produser Rekaman Dangdut Terbaik
Lagu Anak
  • Artis Solo Wanita Lagu Anak Terbaik
  • Artis Solo Pria Lagu Anak Terbaik
  • Duo atau Group atau Kolaborasi Lagu Anak Terbaik
  • Penulis Lagu Anak Terbaik
  • Produser Rekaman Lagu Anak Terbaik
  • Album Lagu Anak Terbaik
Karya Produksi
  • Karya Produksi Keroncong atau Keroncong Kontemporer atau Langgam atau Stambul Terbaik
  • Karya Produksi Alternatif atau Rock Alternatif atau Lintas-Genre Terbaik
  • Karya Produksi Metal atau Hardcore Terbaik
  • Karya Produksi Rap atau Hip-hop Terbaik
  • Karya Produksi Reggae atau Ska atau Rocksteady Terbaik
  • Karya Produksi Lagu Rohani Islam Terbaik
  • Karya Produksi Lagu Rohani Kristen Terbaik
  • Karya Produksi Instrumental Terbaik
  • Karya Produksi Dance atau Electronic Terbaik
  • Karya Produksi Kolaborasi terbaik
  • Karya Produksi Lagu Tema Film (OST) Terbaik
  • Karya Produksi Grup Vokal Terbaik
  • Karya Produksi Lagu Daerah Terbaik
  • Karya Produksi Lagu Daerah Kontemporer atau Country atau Balada Terbaik
  • Karya Produksi Rock Progressif Terbaik
Teknis
  • Produser Album Rekaman Terbaik
  • Grafis Desain Album Terbaik
  • Peramu Rekam Terbaik

 

Sumber

Sejarah TNI

index

 

Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, otoritas militer di Hindia Belanda diselenggarakan oleh (KNIL). Meskipun KNIL tidak langsung bertanggung jawab atas pembentukan angkatan bersenjata Indonesia pada masa depan, (sebaliknya berperan sebagai musuh selama Revolusi Nasional Indonesia 1945-1949), KNIL juga telah memberikan andil berupa pelatihan militer dan infrastruktur untuk beberapa perwira TNI pada masa depan. Ada pusat-pusat pelatihan militer, sekolah militer dan akademi militer di Hindia Belanda. Di samping merekrut relawan Belanda dan tentara bayaran Eropa, KNIL juga merekrut orang-orang pribumi Indonesia.

Pada tahun 1940 saat Belanda di bawah pendudukan Jerman, dan Jepang mulai mengancam akses pasokan minyak bumi ke Hindia Belanda, Belanda akhirnya membuka kesempatan penduduk pribumi di Pulau Jawa untuk masuk sebagai anggota KNIL.

Selama Perang Dunia Kedua dan pendudukan Jepang di Indonesia perjuangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan mulai memuncak. Untuk mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia dalam perang melawan pasukan sekutu, Jepang mulai mendorong dan mendukung gerakan nasionalis Indonesia dengan menyediakan pelatihan militer dan senjata bagi pemuda Indonesia. Pada tanggal 3 Oktober 1943, militer Jepang membentuk tentara relawan Indonesia yang disebut PETA (Pembela Tanah Air). Jepang membentuk PETA dengan maksud untuk membantu pasukan mereka menentang kemungkinan invasi oleh Sekutu ke wilayah Asia tenggara.

Pelatihan militer Jepang untuk pemuda Indonesia awalnya dimaksudkan untuk menggalang dukungan lokal bagi Kekaisaran Jepang, tetapi kemudian menjadi sumber daya yang sangat berarti untuk Republik Indonesia selama Perang Kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1949 dan juga berperan dalam pembentukan Tentara Keamanan Rakyat pada tahun 1945.

 

Sumber

Hari Palang Merah Nasional

 

Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebetulnya sudah dimulai sebelum Perang Dunia II, tepatnya 12 Oktober 1873.Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indië (NERKAI) yang kemudian dibubarkan pada saat pendudukan Jepang.

Perjuangan mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) diawali 1932. Kegiatan tersebut dipelopori Dr. R. C. L. Senduk dan Dr. Bahder Djohan dengan membuat rancangan pembentukan PMI. Rancangan tersebut mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia, dan diajukan ke dalam Sidang Konferensi Narkai pada 1940, akan tetapi ditolak mentah-mentah.

Rancangan tersebut disimpan menunggu saat yang tepat. Seperti tak kenal menyerah pada saat pendudukan Jepang mereka kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional, namun sekali lagi upaya itu mendapat halangan dari Pemerintah Tentara Jepang sehingga untuk yang kedua kalinya rancangan tersebut kembali disimpan.

Proses pembentukan PMI dimulai 3 September 1945 saat itu Presiden Soekarno memerintahkan Dr. Boentaran (Menkes RI Kabinet I) agar membentuk suatu badan Palang Merah Nasional.

Dibantu panitia lima orang yang terdiri dari Dr. R. Mochtar sebagai Ketua, Dr. Bahder Djohan sebagai Penulis dan tiga anggota panitia yaitu Dr. R. M. Djoehana Wiradikarta, Dr. Marzuki, Dr. Sitanala, Dr Boentaran mempersiapkan terbentuknya Palang Merah Indonesia. Tepat sebulan setelah kemerdekaan RI, 17 September 1945, PMI terbentuk. Peristiwa bersejarah tersebut hingga saat ini dikenal sebagai Hari PMI.

Peran PMI adalah membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan, terutama tugas kepalangmerahan sebagaimana dipersyaratkan dalam ketentuan Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 melalui UU No 59.

Sebagai perhimpunan nasional yang sah, PMI berdiri berdasarkan Keputusan Presiden No 25 tahun 1950 dan dikukuhkan kegiatannya sebagai satu-satunya organisasi perhimpunan nasional yang menjalankan tugas kepalangmerahan melalui Keputusan Presiden No 246 tahun 1963.

 

sumber

 

Logo PMI Palang Merah Indonesia

Sejarah Pengesahan UUD 1945

Perumusan dan Pengesahan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.gif

Bangsa Indonesia dengan semangat pantang menyerah dan penuh pengorbanan jiwa raga akhirnya merdeka pada tanggal 17 Agsutus 1945. Semenjak itu bangsa Indonesia dapat mengatur pemerintahannya sendiri. Pada tanggal 18 Agustus 1945 PPKI berhasil mengesahkan UUD 1945.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Kemerdekaan Indonesia sudah berhasil diproklamirkan, namun sebagai negara merdeka, Indonesia belum memiliki kelengkapan negara. Kelengkapan negara tersebut diantaranya: dasar negara dan undang-undang dasar, presiden dan wakil presiden, serta susunan kabinet dan badan perwakilan rakyat. Untuk mengisi kelengkapan itulah maka padatanggal 18 Agustus 1945, PPKI mengadakan sidangnya yang pertama dan bertempat di Gedung Kesenian Jakarta, Jl. Pejambon. Rapat dipimpin oleh Ir. Soekarno (Ketua) dan Drs. Mohammad Hatta (wakil ketua), dengan 28 anggota. Rapat dimulai pada pukul 11.00 WIB. Setelah melalui pembahasan secara musyawarah dan mufakat, akhirnya rapat tersebut menghasilkan tiga keputusan dasar, yaitu:

  1. Mengesahkan Undang-Undang Dasar.
  2. Memilih presiden dan wakil presiden.
  3. Untuk sementara waktu presiden dibantu oleh sebuah Komite Nasional.

Undang-Undang Dasar ini merupakan hasil dari sidang BPUPKI (tanggal 10-16 Juli 1945) yang masih berupa Rancangan Undang-Undang Dasar. Pada sidang PPKI tanggal 18-8-1945, dalam pembahasan mengenai undang-undang dasar diadakan beberapa perubahan atas usul Drs. Mohammad Hatta, yaitu:

Sila pertama Pancasila menyatakan bahwa: “Berdasarkan kepada ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diubah menjadi “Berdasarkan kepada ketuhanan Yang Maha Esa”.

Bab III Pasal 6 menyatakan, bahwa Presiden ialah orang Indonesia asli yang beragama Islam” diubah Presiden ialah o rang Indonesia asli”.

Usul tersebut didasarkan atas kepentingan dan kerukunan nasional. Dalam sidang sehari itu, Rancangan UUD disahkan dan ditetapkan sebagai UUD negara yang sekarang dikenal dengan nama UUD 1945.

Sumber

11 Tradisi Unik Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Bulan Agustus

Indonesia menjadi negara yang bebas dan merdeka seperti yang bisa kita nikmati saat ini tentu saja berkat jasa besar para pahlawan kemerdekaan Indonesia, yang telah mengorbankan harta, jiwa dan raga, maupun waktu untuk membebaskan tanah air Indonesia dari para penjajah.

Sebagai generasi yang bisa menikmati kemerdekaan ini, sudah sepatutnya kita mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan Indonesia dan tidak melupakan mereka begitu saja, karena pengorbanan para pahlawan sangatlah besar sedangkan kita hanya menikmati hasil dari pengorbanan tersebut.

Untuk itu, dalam menyambut kemerdekaan republik Indonesia, kali ini saya meyuguhkan beberapa budaya yang sudah kerap dilakukan untuk merayakan kemerdekaan Indonesia sebagai bentuk mengenang jasa besar para pahlawan kemerdekaan Indonesia :

1. Upacara Kemerdekaan Indonesia

11 Tradisi Unik Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Bulan Agustus 2.jpg

Progam upacara mungkin sudah sering dilaksanakan di hampir semua sekolah di Indonesia pada hari-hari tertentu, misalkan pada hari Senin untuk sekolah dan hari Sabtu untuk madrasah. Tetapi, pada hari raya kemerdekaan, upacara tidak lagi dilaksanakan oleh para siswa, namun juga bagi petugas negara. Tujuannya pun sama, mengenang jasa para pahlawan sebagai peringatan kemerdekaan Indonesia, sebagai penghormatan bangsa Indonesia, juga menunjukkan bahwa Indonesia akan selalu merdeka.

2. Upacara Kemderdekaan Tengah Laut di Kota Yogyakarta

11 Tradisi Unik Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Bulan Agustus 3.jpg

Dalam merayakan kemerdekaan Indonesia, Yogyakarta pun menjadi sorotan unik yaitu dengan mengadakan upacara bendera di laut, di mana kerja sama antara Tim Search and Rescue (SAR) dan relawan pantai Baron, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, mengadakan upacara bendera di tepi pantai yang kemudian pengibaran bendera akan dilaksanakan di tengah laut.

3. Perayaan Karnaval di Jawa Timur

11 Tradisi Unik Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Bulan Agustus 4.jpg

 

Acara yang mungkin sudah banyak di gelas di daerah Jawa Timur ini akan sering Anda temui saat bulan Agustus, yaitu perayaan karnaval sebagai peringatan kemerdekaan Indonesia. Sebenarnya, pada zaman dulu orang-orang lebih identik merayakan karnaval dengan tema kemerdekaan Indonesia, namun saat ini sepertinya sudah menggeneralisasi, sehingga banyak ditemui penampilan dan kostum aneh di luar tema kemerdekaan, misalkanya penampilan jadi artis, kostum hantu, dan lainnya.

4. Pemasangan Bendera Merah Putih di Setiap Kampung

11 Tradisi Unik Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Bulan Agustus 5.jpg

Untuk seluruh negeri Indonesia, sepertinya saat bulan Agustus sudah tiba, akan banyak bendera-bendera merah putih terkibar di pinggir-pinggir jalan. Ini adalah budaya dan tradisi yang sampai saat ini dilakukan sebagai bentuk peringatan kemderdekaan Indonesia, juga untuk mengenang jasa para pahlawan.

5. Tradisi Telok Abang di Palembang

11 Tradisi Unik Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Bulan Agustus 6.jpg

Tradisi telok abang juga menjadi tradisi yang kerap dilakukan pada bulan kemerdekaan, telok artinya telur, abang artinya merah. Tradisi ini adalah menancapkan telur-telur merah pada miniatur dan mainan mobil, perawat terbang, dan perahu kecil sebagai tradisi peringatan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, saat menginjak bulan Agustus, akan Anda temui banyak penjual miniatur telok abang di pinggir-pinggir jalan.

6. Acara Perlombaan di Bulan Agustus

11 Tradisi Unik Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Bulan Agustus 7.jpg

Selanjutnya adalah acara perlombaan yang diadakan di masing-masing daerah. Adapun lomba-lomba yang digelar pun berbagai macam dan jenis lomba, misalnya tarik tambang, makan kerupuk, memasukkan paku ke dalam botol, dan lainnya. Acara perlombaan ini menunjukkan bahwa sebagai generasi muda Indonesia harus berkompetisi untuk menjadi pemenang, menjadi generasi yang bermanfaat bagi bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan dan kemajuan Indonesia setelah para pahlawan.

7. Lomba Estafet Obor di Semarang

11 Tradisi Unik Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Bulan Agustus 8.jpg

Lomba estafet obor adalah lomba berlari dengan menggunakan sebuah obor di malam hari. Tradisi lomba ini sudah dipertahankan selama puluhan tahun bagi masyarakat Semarang, di mana peserta lomba diikuti oleh lapisan masyarakat Semarang, tak peduli pria, wanita, anak-anak, remaja, dewasa, rakyat, maupun pejabat. Bagi masyarakat Semarang sendiri, obor dijadikan sebagai simbol semangat yang harus tetap diperjuangkan demi kemerdekaan Indonesia.

8. Pertandingan Bola Sarung di Makasar

11 Tradisi Unik Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Bulan Agustus 9.jpg

Anda suka bermain sepak bola ? mungkin Anda akan cukup terkejut saat melihat masyarakat Makasar memainkan permainan sepak bola dengan sarung. Ya, ini adalah tradisi yang dilakukan sebagai peringatan perayaan kemerdekaan Indonesia.

9. Pemutaran Film-Film Perjuangan Para Pahlawan Indonesia

11 Tradisi Unik Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Bulan Agustus 10.jpg

Saat memasuki bulan Agustus, tema pun berganti menjadi perjuangan karena 17 Agustus 1945 adalah hari kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya guru yang memberikan pendidikan kepada siswa betapa pentingnya perjuangan para pahlawan, tetapi juga masyarakat kampung, bahkan di progam televisi pun lebih sering diputar.

10. Pameran Seni Kemerdekaan Indonesia

11 Tradisi Unik Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Bulan Agustus 11.jpg

Bagi para seniman, ada cara lain untuk memperingati kemerdekaan Indonesia, salah satunya adalah menggelar pameran seni kemerdekaan Indonesia. Ini dilakukan untuk menunjukkan rasa hormat dan juga penghargaan kepada para pahlawan.

11. Ritual Pembacaan Tahlil di Jawa Timur

11 Tradisi Unik Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Bulan Agustus 12.jpg

Tradisi pembacaan tahlil di beberapa daerah Jawa Timur pun juga dilaksanakan pada malam 17 Agustus, bukan cuma sekedar memperingati dan mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga untuk mendoakan para pahlawan yang sudah pergi lebih dulu. Tradisi ini biasa dilaksanakan di masjid dan lapangan, yang diikuti oleh sejumlah masyarakat daerah masing-masing.

Sumber

Hari Kebangkitan Nasional dan Simbol Persatuan Indonesia

Hari-Kebangkitan-Nasional.jpg

Tanggal 20 Mei kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal tersebut mengambil dari kelahiran organisasi Budi Utomo (Boedi Oetomo).

Budi Utomo didirikan oleh para pelajar di School Tot Opleiding Van Inlands Artsen (STOVIA) di tahun 1908. Empat puluh tahun kemudian atau pada 1948 barulah Presiden Sukarno menetapkan 20 Mei sebagai hari bangkitnya nasionalisme.

Latar belakang penetapan hari yang kini dikenal sebagai Kebangkitan Nasional adalah pada awal kemerdekaan, Republik Indonesia membutuhkan pemersatu. Bung Karno menilai bahwa kelahiran Budi Utomo merupakan simbol yang tepat untuk menggambarkan bagaimana bangsa Indonesia mulai bangkit untuk melawan penjajahan.

Pada tahun 1948 terjadi dinamika sosial politik di Indonesia. Belanda kembali dengan membonceng sekutu dan sempat melancarkan agresi militer yang pertama pada tahun 1947.

Pada Desember 1947 kemudian diadakan perjanjian di atas kapal USS Renville terkait batasan wilayah Indonesia dan Belanda. Akibat perjanjian itu, wilayah Indonesia jadi sebatas sebagian Pulau Jawa dan Sumatera.

Ibukota pemerintahan pun dipindahkan ke Yogyakarta kemudian. Tak lama setelah itu muncul oposisi pemerintah yang digawangi oleh Amir Sjarifuddin. Organisasi oposisi itu adalah Front Demokrasi Rakyat yang merupakan gabungan organisasi ‘Sayap Kiri’.

Di bidang ekonomi, terjadi krisis yang salah satunya disebabkan oleh kurangnya pasokan beras. Untuk itu Bung Karno membutuhkan sebuah simbol yang jadi momentum mempersatukan bangsa.

Sumber

Hari Pendidikan Nasional

Tut-Wuri-Handayani.jpg

Ki Hajar Dewantara, tokoh pejuang pendidikan Indonesia, terlahir pada 2 Mei 1889. Tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beliau terlahir dalam lingkungan keluarga Kraton Yogyakarta dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.

Sebagai bangsawan kraton, maka Ki Hajar mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dari kolonial Belanda ketika itu. Beliau berhasil menamatkan sekolah dasar ELS, lalu melanjutkan pendidikannya ke STOVIA, sekolah dokter untuk pelajar Indonesia di Jakarta. Lantaran sakit, Beliau tidak bisa menyelesaikan pendidikannya di STOVIA.

Ki Hajar Dewantara tidak lantas vakum karena tidak mampu melanjutkan pendidikannya di STOVIA, Beliau kemudian beralih menjadi wartawan dan menulis untuk beberapa surat kabar. Beliau juga aktif di berbagai kegiatan sosial dan politik.

Tulisan-tulisan Ki Hajar Dewantara mampu membangkitkan semangat anti kolonialisme Belanda. Tulisannya yang terkenal “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: Als ik eens Nederlander was) yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913, membuat Belanda marah.

Tulisan tersebut merupakan protes atas rencana Belanda untuk mengumpulkan derma dari Indonesia yang ketika itu belum merdeka untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari jajahan Prancis. Meski kerap kali membuat Belanda tersinggung, Ki Hajar Dewantara tidak berhenti menulis.

Kemarahan Pemerintah Belanda hingga sampai pada puncaknya ketika Gubernur Jendral Idenburg memerintahkan agar Ki Hajar Dewantara di asingkan ke Pulau Bangka tanpa proses peradilan terlebih dahulu. Namun kemudian pengasingan tersebut dialihkan ke negeri Belanda atas permintaan kedua rekan Ki Hajar Dewantara yakni dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo.

Masa pengasingan di Belanda justru membuat Ki Hajar Dewantara belajar lebih giat. Beliau mendalami bidang pendidikan dan pengajaran hingga akhirnya mendapatkan sertifikat Europeesche Akte.

Ki Hajar akhirnya kembali ke tanah air pada 1918. Selanjutnya Beliau memfokuskan diri pada bidang pendidikan sebagai bentuk perjuangan untuk tujuan Indonesia Merdeka. Bentuk perjuangannya beliau wujudkan dengan mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922 bersama rekan-rekan seperjuangannnya.

Tulisan-tulisan Ki Hajar Dewantara  kini tidak lagi bernuansa politik tetapi beralih ke bidang pendidikan dan kebudayaan. Tulisan Beliau berisi tentang konsep pendidikan yang berwawasan kebangsaan. Melalui konsep pendidikan itulah, Beliau meletakkan dasar-dasar bagi pendidikan nasional Indonesia.

Ki Hajar Dewantara mempunyai semboyan terkenal tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik), yang sampai saat ini masih dipertahankan dalam dunia pendidikan kita.

Dimasa Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Beliau juga pernah menjadi anggota parlemen. Di akhir hayatnya, ribuan orang menyemut mengiringi jenazahnya hingga dimakamkan di pemakaman Taman Siswa.

Ki Hajar Dewantara dianugerahi sebagai pahlawan nasional dan tanggal  kelahirannya, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional setiap tahunnya.

sumber

Fakta di Balik Habis Gelap Terbitlah Terang RA Kartini

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_10018776.jpg

Raden Ajeng Kartini, tentu tidak asing lagi di telinga kita, terutama bagi kaum wanita. Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini untuk mengenang jasa-jasa RA Kartini.

RA Kartini terkenal dengan kumpulan-kumpulan surat yang ditujukan kepada sahabat penanya, yang kemudian disusun oleh Mr. JH Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan Pemerintah Hindia-Belanda, menjadi sebuah buku berjudul “Door Duisternis Tot Licht, Gedachten van RA Kartini”.

Buku itu kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Konon judul itu diambil karena judul itu yang paling sering dipakai RA Kartini dalam surat-suratnya. Surat-suratnya sendiri memakai bahasa Belanda, dan dikirimkan ke sahabat-sahabat RA Kartini, yaitu Estella H Zeehandelaar, Nyonya Ovink-Soer, Nyonya RM Abendanon-Mandri, Tuan Prof Dr GK Anton dan Nyonya, Hilda G de Booij, dan Nyonya Van Kol.

4526775.jpg

Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu isi pemikiran Kartini yang dituangkan dalam surat-suratnya. Bahkan, tak banyak perempuan yang membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Selama ini, perayaan Hari Kartini selalu dirayakan dengan mengadakan lomba memakai konde dan kebaya saja. Karena itu, amat penting bila kaum perempuan mengetahui apa sebenarnya yang menjadi buah pikiran Kartini dalam surat-suratnya.

Lalu, ada apa di sebenarnya di balik buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” tersebut? Berikut fakta-faktanya seperti dilansir jadiBerita dari berbagai sumber.

Rupanya, satu hal yang jarang diungkapkan, bahkan terkesan disembunyikan dalam catatan sejarah, adalah usaha Kartini untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, serta bercita-cita agar Islam disukai. Simak suratnya yang dikirimnya kepada Ny. Van Kol, berikut ini :

”Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya (door duisternis Tot Licht). Namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya: Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”
-Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902)

Sosok Kartini bahkan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kampanye emansipasi yang menyalahi fitrah wanita, yakni mendorong kaum wanita agar diperlakukan sederajat dengan kaum pria, diperlakukan sama dengan pria, padahal kodrat pria dan wanita berbeda, demikian pula peran dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Yang kita salahkan adalah mereka yang menyalahartikan kemauan Kartini. Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya, yaitu “Door Duisternis Tot Licht” yang telanjur diartikan sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) mengartikan kalimat “Door Duisternis Tot Licht” sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang bahasa Arabnya adalah “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“. Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya membawa manusia dari kegelapan (jahiliyah) ke tempat yang terang benderang (hidayah atau kebenaran Ilahi).

Selain kemauan Kartini itu, surat-surat buatan Kartini rupanya juga menggambarkan kepribadian Kartini sendiri. Sajak “Jiwa”, misalnya, terasa sangat menyentuh, syahdu, dan romantis. “Bahagia nian bila bertemu jiwa yang sama,” tulis Kartini. Kata-kata yang disampaikan mewakili keinginan Kartini menemukan jiwa yang sama, yang seiring sejalan dengannya.

surat-kartini.jpeg

Kartini juga ternyata merupakan sosok yang riang. Surat pertamanya pada Stella menggambarkan suasana perkenalan dan gagasan Kartini akan emansipasi. Katanya, sudah lama sekali dia (Kartini) menginginkan kebebasan. Selama ini sebagai perempuan, dia merasa dikurung di dalam rumah. Titik terang hanyalah saat dia bisa membaca buku dan menuliskan surat pada teman-temannya.

“Hukum dan pendidikan hanya milik laki-laki belaka,” tutur perempuan yang lahir 21 April 1899 ini.

Kartini adalah orang yang penuh semangat, berseri-seri, dan berani berteriak lantang. “Tahukah kamu apa semboyan saya, ‘Saya Mau!’ Dua patah kata pendek itu sudah melalui bergunung-gunung rintangan,” soraknya.

Dari surat-suratnya, tertangkap jelas bahwa Kartini adalah sosok yang peka terhadap apa yang terjadi di lingkungannya, dan kaya akan buah pikiran.

Lalu benarkah sosok RA Kartini ini identik dengan emansipasi? Surat Kartini-lah yang akan menjawabnya, berikut ini:

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
-Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902-

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi.

Fakta menarik lainnya dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” ini adalah bukunya sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, seperti Melayu, Jawa, dan bahasa Sunda. Armijn Pane juga membagi kumpulan surat Kartini tersebut ke dalam 5 bahasan. Ia melakukan ini agar tahapan dan pemikiran Kartini dapat lebih terasa saat membaca buku ini. Bahkan ada versi lain dari buku ini, berjudul “Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya” yang diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisna.

Selain itu, Armijn Pane juga mengurangi jumlah surat dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi hanya 87 surat. Padahal pada buku asli “Door Duisternis Tot Licht”, surat Kartini jumlahnya bisa sampai ratusan. Alasan Armijn mengurangi jumlah surat itu adalah agar buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” dapat dibaca sebagai suatu roman. Pengurangan itu juga dapat membuat kisah hidup Kartini dalam buku ini lebih mudah dipahami.

Buku “Habis Gelap Terang Terbitlah Terang” menjadi buku yang sangat inspiratif bagi kaum wanita Indonesia. Semua pemikiran dan segala hal yang terjadi dalam hidup Kartini, ia tuangkan dalam surat-suratnya. Semoga wanita Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi, seperti sosok Kartini yang inspirasional. (tom)

Hari Film Nasional

TANGGAL 30 mungkin bagi sebagian orang akan menjadi tanggal yang sangat berat untuk dilalui, karena ini akhir bulan dan biasanya keadaan dompet sudah sangat menipis. Tapi bagi insan perfilman naional, hari ini merupakan harinya mereka, hari dimana mereka merayakan Hari Film Nasional.

Hari Film Nasional memang ditetapkan pada 30 Maret 1962, tapi sebenarnya industri film nasional sendiri sudah ada sejak tahun 1926, dan terus berkembang sampai tahun 1942 meskipun kalah bersaing dengan film-film asing. Pada saat itu para pemilik perusahaan film lokal adalah orang-orang Cina & Belanda. Film nasional pertama yang hadir di Indonesia ialah film yang berjudul “Loetong Kasaroeng” pada tahun 1926, ini merupakan sebuah film bisu yang disutradarai oleh dua orang berkebangsaan Belanda yang bernama G. Krugers dan L. Heuveldorf. Film ini dibuat di Bandung dan para pemiannya orang-orang pribumi yang merupakan anak-anak dari bupati Bandung Wiranata Kusuma II.

Setelah berbagai film dibuat oleh sutradara dan perusahaan asing, akhirnya pada 30 Maret 1950 dilakukan syuting perdana film “Darah dan Doa” atau “Long March of Siliwangi” yang disutradarai dan diproduksi oleh orang asli Indonesia yakni Usmar Ismail melalui Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia). Film ini bercerita tentang seorang komando tentara yang terlibat cinta lokasi dengan seorang pengungsi wanita Indo-Belanda dalam sebuah perjalanan pengungsian.

Karena ini merupakan film pertama yang mencirikan Indonesia, maka tanggal 30 Maret yang merupakan hari pertama syuting film ini dijadikan sebagai hari lahirnya film nasional. Pengambilan keputusan tersebut diambil pada 11 Oktober 1962 oleh Dewan Film Nasional yang melakukan konferensi dengan organisasi perfilman.

15_darahdandoa.jpg

Memasuki tahun 1980an perfilman Indonesia bisa dibilang mencapai era keemasannya. Karena film Indonesia mampu menjadi raja di negeri sendiri. Namun memasuki akhir tahun 1990an, film Indonesia seperti terjun bebas. Bioskop-bioskop yang ada di kota besar selalu dipenuhi oleh film produksi Hollywood. Selain itu maraknya sinteron yang tayang di televisi nasioanal juga menurunkan tingkat kunjungan ke bioskop.

Baru pada tahun 2002, kehadiran film “Ada Apa Dengan Cinta” mampu menggairahkan perfilman Indonesia. Dan sejak itu para sineas film Indonesia seolah berlomba-lomba untuk menciptakan film yang berkualitas. Meski sempat diwarnai dengan ramainya film yang bertema komedi seks, tapi banyak juga film Indonesia yang berkualitas. Seperti “Laskar Pelangi”, “Negeri 5 Menara”, “5cm”, dan yang fenomenal ialah “The Raid”. Film ini sangat sukses di tingkat dunia dan telah memenangkan berbagai penghargaan seperti The Best Film sekaligus Audience Award di Jameson Dublin International Film Festival, dan masuk dalam jajaran 50 film action terbaik sepanjang masa versi imdb.com. Ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa sekaligus membanggakan bagi perfilman Indonesia.

Memang tak banyak di antara kita yang merayakan Hari Film Indonesia sebagai wujud kecintaan kita terhadap karya anak bangsa. Sebaiknya kita sebagai bangsa Indonesia juga ikut mendukung Hari Film Nasional ini dengan cara yang kita bisa, seperti dengan menonton film nasional ke bioskop. Agar industri film Indonesia bisa maju seperti India dengan Boolywood-nya dan Amerika dengan Hollywood-nya. Namun, tentunya hal itu harus dibarengi dengan peningkatan kualitan film dan partisipasi masyarakat untuk menontonnya. Semoga ke depannya, kita semua bisa menyaksikan tontonan berkualitas yang dihasilkan oleh anak bangsa sendiri.

Selamat Hari Film Indonesia!

 

“Halo-halo Bandung”, Kisah Heroik di Balik Lautan Api

Tanggal 24 Maret 1946 mungkin sudah hilang atau tidak pernah menjadi ingatan kolektif kita bangsa Indonesia, namun menjadi memori yang selalu dikenang masyarakat kota Bandung khususnya mereka yang menjadi saksi hidup saat itu.

monumen-bandung-lautan-api-dari-seven7-years.blogspot.com_.jpg

Saat itulah Bandung menjadi Lautan Api, sebuah peristiwa heroik dalam perspektif yang berbeda. Tidak seperti perjuangan arek-arek Suroboyo yang mengorbankan ribuan nyawa, masyarakat kota Bandung rela meninggalkan rumah dan harta bendanya karena mengikuti jejak para pejuang yang diharuskan mundur ke arah selatan kota Bandung. Mereka rela meninggalkan bahkan turut membakar kota yang didiami sejak lahir karena tidak rela diduduki oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) -Pemerintahan Sipil Hindia Belanda- yang “diboncengi” Inggris paska kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Sulit untuk dibayangkan apakah kita generasi sekarang mampu dan iklas melakukan itu semua.

Rasa nasionalisme yang tinggi membuat masyarakat kota Bandung mendukung seratus persen niat TKR Divisi III di bawah komando Letkol A. H. Nasution yang ingin membumihanguskan kota Bandung. Hubungan rakyat dan tentara saat itu sangat erat, tidak seperti sekarang yang sering diwarnai bentrokan karena sikap aparat yang represif dan arogan sejak era Orde Baru.

Euforia kemerdekaan serta dukungan masyarakat kota Bandung membuat semangat para pejuang berkobar-kobar. Meski terjadi kekacauan pada awal dimulainya aksi Lautan Api -kesepakatan peledakan pertama pukul 24.00 tapi pukul 20.00 sudah terjadi ledakan sehingga memicu kepanikan para pejuang yang membuat banyak gedung tidak terbakar- namun semangat para pejuang untuk bergerilya tidak pernah surut. Serangan-serangan sporadis terus dilakukan ke pemukiman Eropa di Bandung Utara, begitu juga dengan jalur logistik pasukan Inggris dan Belanda. Saat-saat heroik ini menorehkan nama Mohammad Toha yang berhasil meledakkan gudang amunisi Belanda meski harus mengorbankan nyawanya. Aksi Mohammad Toha juga banyak dilakukan oleh para pejuang lainnya.

Jika kita memahami dengan perspektif yang berbeda maka peristiwa Bandung Lautan Api layak disejajarkan dengan peristiwa-peristiwa heroik lainnya seperti 10 November, Serangan Umum 1 Maret, Palagan Ambarawa atau Medan Area, meskipun dikecam oleh Panglima Jenderal Sudirman karena tidak mengikuti instruksi untuk tetap mempertahankan tiap jengkal tanah.

Para pejuang Bandung lebih realistis karena 100 pucuk senjata yang dimiliki tidak mungkin melawan ribuan pasukan Inggris dan Belanda yang bersenjata lengkap dan terlatih, oleh karena itu praktek bumihangus adalah cara yang terbaik. Saya sangat kagum dengan manunggalnya pejuang dan rakyat kota Bandung dalam kurun waktu tersebut. Itulah kesan saya ketika membaca buku “Saya Pilih Mengungsi, Pengorbanan Rakyat Bandung Untuk Kedaulatan” karya Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (2002).

Banyak kisah unik di balik peristiwa Bandung Lautan Api yang terungkap di dalam buku yang banyak menggunakan data primer ini. Salah satu kisah yang menurut saya menarik dan relevan dengan semangat Bandung Lautan Api adalah awal terciptanya lagu “Halo-halo Bandung”. Selama ini yang kita ketahui lagu Halo-halo Bandung diciptakan oleh Ismail Marzuki, ternyata ada versi lain yang mengatakan bahwa lagu ini lahir dan tercipta oleh para pejuang di Bandung yang multi etnis.

unnamed.jpg

Terciptanya Lagu “Halo-halo Bandung”

Kota Bandung yang telah lama ditinggalkan dan sebelumnya menjadi Lautan Api menginspirasi para pejuang untuk menciptakan sebuah lagu yang membangkitkan semangat. Dikisahkan bahwa penciptaan lagu Halo-halo Bandung berproses dalam candaan para pejuang yang memiliki aneka ragam budaya. Kata “Halo” merupakan sapaan khas pemuda Medan karena terinspirasi dari film cowboy yang marak saat itu. Para pemuda Medan sering menggunakannya untuk menyapa kota Bandung tercinta yang nampak di kejauhan. Sapaan ini terus diucapkan berulang kali sehingga terciptalah kalimat “Halo-halo Bandung” yang akhirnya memiliki irama seperti saat ini.

Kalimat ini tidak langsung terangkai menjadi sebuah lagu karena pada malam hari para pejuang sibuk bergerilya ke dalam kota. Siang hari baru mereka memiliki waktu santai sambil menunggu malam tiba. Saat itulah irama Halo-halo Bandung yang sudah tercipta dibahas lagi. Para pejuang mencari inspirasi lirik berikutnya dan kebetulan ketika itu Bandung menjadi Ibu Kota Keresidenan Priangan sehingga tercipta lirik “Ibu Kota Periangan”. Lirik berikutnya merupakan ungkapan sebuah kenangan karena kota Bandungyang sudah lama ditinggalkan menjadi kenangan bagi para pejuang, maka terbentuk syair “kota kenang-kenangan”.

Lirik-lirik tersebut mengalir dalam obrolan para pejuang. Pertemuan dengan para pemuda Ambon yang tergabung dalam Pemuda Indonesia Maluku (PIM) memberikan inspirasi baru karena pemuda Ambon yang lama tidak bertemu dengan pejuang lain celetuk berkata “cukimai! sudah lama beta tidak bertemu dengan kau!”. Sapaan ini akhirnya dijadikan syair berikutnya “sudah lama beta, tidak berjumpa dengan kau”.

Kota Bandung yang telah dijadikan Lautan Api dan gerilya yang sering dilakukan pejuang di malam hari dengan tujuan menyingkirkan NICA dari kota tersebut membuat para pejuang yang multi etnis itu menutup lagu ini dengan lirik “sekarang telah menjadi Lautan Api, mari bung rebut kembali”. Maka jadilah lagu Halo-halo Bandung.

Halo-halo Bandung, Ibu Kota Periangan

Halo-halo Bandung, kota kenang-kenangan

Sudah lama beta, tidak berjumpa dengan kau

Sekarang telah menjadi Lautan Api

Mari bung rebut kembali

Itulah kisah bagaimana proses terciptanya lagu Halo-halo Bandung yang merupakan salah satu cara untuk memotivasi semangat para pejuang di Bandung. Semangat yang tak pernah pudar, meski tersingkir dari kotanya sendiri. Semangat demi sebuah kedaulatan hingga rela kotanya menjadi Lautan Api. Peristiwa yang patut dikenang, bukan saja oleh masyarakat kota Bandung namun kita semua sebagai sebuah bangsa yang besar. Bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

Sumber