Hari Kebangkitan Nasional dan Simbol Persatuan Indonesia

Hari-Kebangkitan-Nasional.jpg

Tanggal 20 Mei kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal tersebut mengambil dari kelahiran organisasi Budi Utomo (Boedi Oetomo).

Budi Utomo didirikan oleh para pelajar di School Tot Opleiding Van Inlands Artsen (STOVIA) di tahun 1908. Empat puluh tahun kemudian atau pada 1948 barulah Presiden Sukarno menetapkan 20 Mei sebagai hari bangkitnya nasionalisme.

Latar belakang penetapan hari yang kini dikenal sebagai Kebangkitan Nasional adalah pada awal kemerdekaan, Republik Indonesia membutuhkan pemersatu. Bung Karno menilai bahwa kelahiran Budi Utomo merupakan simbol yang tepat untuk menggambarkan bagaimana bangsa Indonesia mulai bangkit untuk melawan penjajahan.

Pada tahun 1948 terjadi dinamika sosial politik di Indonesia. Belanda kembali dengan membonceng sekutu dan sempat melancarkan agresi militer yang pertama pada tahun 1947.

Pada Desember 1947 kemudian diadakan perjanjian di atas kapal USS Renville terkait batasan wilayah Indonesia dan Belanda. Akibat perjanjian itu, wilayah Indonesia jadi sebatas sebagian Pulau Jawa dan Sumatera.

Ibukota pemerintahan pun dipindahkan ke Yogyakarta kemudian. Tak lama setelah itu muncul oposisi pemerintah yang digawangi oleh Amir Sjarifuddin. Organisasi oposisi itu adalah Front Demokrasi Rakyat yang merupakan gabungan organisasi ‘Sayap Kiri’.

Di bidang ekonomi, terjadi krisis yang salah satunya disebabkan oleh kurangnya pasokan beras. Untuk itu Bung Karno membutuhkan sebuah simbol yang jadi momentum mempersatukan bangsa.

Sumber

Hari Pendidikan Nasional

Tut-Wuri-Handayani.jpg

Ki Hajar Dewantara, tokoh pejuang pendidikan Indonesia, terlahir pada 2 Mei 1889. Tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beliau terlahir dalam lingkungan keluarga Kraton Yogyakarta dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.

Sebagai bangsawan kraton, maka Ki Hajar mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dari kolonial Belanda ketika itu. Beliau berhasil menamatkan sekolah dasar ELS, lalu melanjutkan pendidikannya ke STOVIA, sekolah dokter untuk pelajar Indonesia di Jakarta. Lantaran sakit, Beliau tidak bisa menyelesaikan pendidikannya di STOVIA.

Ki Hajar Dewantara tidak lantas vakum karena tidak mampu melanjutkan pendidikannya di STOVIA, Beliau kemudian beralih menjadi wartawan dan menulis untuk beberapa surat kabar. Beliau juga aktif di berbagai kegiatan sosial dan politik.

Tulisan-tulisan Ki Hajar Dewantara mampu membangkitkan semangat anti kolonialisme Belanda. Tulisannya yang terkenal “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: Als ik eens Nederlander was) yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913, membuat Belanda marah.

Tulisan tersebut merupakan protes atas rencana Belanda untuk mengumpulkan derma dari Indonesia yang ketika itu belum merdeka untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari jajahan Prancis. Meski kerap kali membuat Belanda tersinggung, Ki Hajar Dewantara tidak berhenti menulis.

Kemarahan Pemerintah Belanda hingga sampai pada puncaknya ketika Gubernur Jendral Idenburg memerintahkan agar Ki Hajar Dewantara di asingkan ke Pulau Bangka tanpa proses peradilan terlebih dahulu. Namun kemudian pengasingan tersebut dialihkan ke negeri Belanda atas permintaan kedua rekan Ki Hajar Dewantara yakni dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo.

Masa pengasingan di Belanda justru membuat Ki Hajar Dewantara belajar lebih giat. Beliau mendalami bidang pendidikan dan pengajaran hingga akhirnya mendapatkan sertifikat Europeesche Akte.

Ki Hajar akhirnya kembali ke tanah air pada 1918. Selanjutnya Beliau memfokuskan diri pada bidang pendidikan sebagai bentuk perjuangan untuk tujuan Indonesia Merdeka. Bentuk perjuangannya beliau wujudkan dengan mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922 bersama rekan-rekan seperjuangannnya.

Tulisan-tulisan Ki Hajar Dewantara  kini tidak lagi bernuansa politik tetapi beralih ke bidang pendidikan dan kebudayaan. Tulisan Beliau berisi tentang konsep pendidikan yang berwawasan kebangsaan. Melalui konsep pendidikan itulah, Beliau meletakkan dasar-dasar bagi pendidikan nasional Indonesia.

Ki Hajar Dewantara mempunyai semboyan terkenal tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik), yang sampai saat ini masih dipertahankan dalam dunia pendidikan kita.

Dimasa Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Beliau juga pernah menjadi anggota parlemen. Di akhir hayatnya, ribuan orang menyemut mengiringi jenazahnya hingga dimakamkan di pemakaman Taman Siswa.

Ki Hajar Dewantara dianugerahi sebagai pahlawan nasional dan tanggal  kelahirannya, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional setiap tahunnya.

sumber

“Halo-halo Bandung”, Kisah Heroik di Balik Lautan Api

Tanggal 24 Maret 1946 mungkin sudah hilang atau tidak pernah menjadi ingatan kolektif kita bangsa Indonesia, namun menjadi memori yang selalu dikenang masyarakat kota Bandung khususnya mereka yang menjadi saksi hidup saat itu.

monumen-bandung-lautan-api-dari-seven7-years.blogspot.com_.jpg

Saat itulah Bandung menjadi Lautan Api, sebuah peristiwa heroik dalam perspektif yang berbeda. Tidak seperti perjuangan arek-arek Suroboyo yang mengorbankan ribuan nyawa, masyarakat kota Bandung rela meninggalkan rumah dan harta bendanya karena mengikuti jejak para pejuang yang diharuskan mundur ke arah selatan kota Bandung. Mereka rela meninggalkan bahkan turut membakar kota yang didiami sejak lahir karena tidak rela diduduki oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) -Pemerintahan Sipil Hindia Belanda- yang “diboncengi” Inggris paska kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Sulit untuk dibayangkan apakah kita generasi sekarang mampu dan iklas melakukan itu semua.

Rasa nasionalisme yang tinggi membuat masyarakat kota Bandung mendukung seratus persen niat TKR Divisi III di bawah komando Letkol A. H. Nasution yang ingin membumihanguskan kota Bandung. Hubungan rakyat dan tentara saat itu sangat erat, tidak seperti sekarang yang sering diwarnai bentrokan karena sikap aparat yang represif dan arogan sejak era Orde Baru.

Euforia kemerdekaan serta dukungan masyarakat kota Bandung membuat semangat para pejuang berkobar-kobar. Meski terjadi kekacauan pada awal dimulainya aksi Lautan Api -kesepakatan peledakan pertama pukul 24.00 tapi pukul 20.00 sudah terjadi ledakan sehingga memicu kepanikan para pejuang yang membuat banyak gedung tidak terbakar- namun semangat para pejuang untuk bergerilya tidak pernah surut. Serangan-serangan sporadis terus dilakukan ke pemukiman Eropa di Bandung Utara, begitu juga dengan jalur logistik pasukan Inggris dan Belanda. Saat-saat heroik ini menorehkan nama Mohammad Toha yang berhasil meledakkan gudang amunisi Belanda meski harus mengorbankan nyawanya. Aksi Mohammad Toha juga banyak dilakukan oleh para pejuang lainnya.

Jika kita memahami dengan perspektif yang berbeda maka peristiwa Bandung Lautan Api layak disejajarkan dengan peristiwa-peristiwa heroik lainnya seperti 10 November, Serangan Umum 1 Maret, Palagan Ambarawa atau Medan Area, meskipun dikecam oleh Panglima Jenderal Sudirman karena tidak mengikuti instruksi untuk tetap mempertahankan tiap jengkal tanah.

Para pejuang Bandung lebih realistis karena 100 pucuk senjata yang dimiliki tidak mungkin melawan ribuan pasukan Inggris dan Belanda yang bersenjata lengkap dan terlatih, oleh karena itu praktek bumihangus adalah cara yang terbaik. Saya sangat kagum dengan manunggalnya pejuang dan rakyat kota Bandung dalam kurun waktu tersebut. Itulah kesan saya ketika membaca buku “Saya Pilih Mengungsi, Pengorbanan Rakyat Bandung Untuk Kedaulatan” karya Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (2002).

Banyak kisah unik di balik peristiwa Bandung Lautan Api yang terungkap di dalam buku yang banyak menggunakan data primer ini. Salah satu kisah yang menurut saya menarik dan relevan dengan semangat Bandung Lautan Api adalah awal terciptanya lagu “Halo-halo Bandung”. Selama ini yang kita ketahui lagu Halo-halo Bandung diciptakan oleh Ismail Marzuki, ternyata ada versi lain yang mengatakan bahwa lagu ini lahir dan tercipta oleh para pejuang di Bandung yang multi etnis.

unnamed.jpg

Terciptanya Lagu “Halo-halo Bandung”

Kota Bandung yang telah lama ditinggalkan dan sebelumnya menjadi Lautan Api menginspirasi para pejuang untuk menciptakan sebuah lagu yang membangkitkan semangat. Dikisahkan bahwa penciptaan lagu Halo-halo Bandung berproses dalam candaan para pejuang yang memiliki aneka ragam budaya. Kata “Halo” merupakan sapaan khas pemuda Medan karena terinspirasi dari film cowboy yang marak saat itu. Para pemuda Medan sering menggunakannya untuk menyapa kota Bandung tercinta yang nampak di kejauhan. Sapaan ini terus diucapkan berulang kali sehingga terciptalah kalimat “Halo-halo Bandung” yang akhirnya memiliki irama seperti saat ini.

Kalimat ini tidak langsung terangkai menjadi sebuah lagu karena pada malam hari para pejuang sibuk bergerilya ke dalam kota. Siang hari baru mereka memiliki waktu santai sambil menunggu malam tiba. Saat itulah irama Halo-halo Bandung yang sudah tercipta dibahas lagi. Para pejuang mencari inspirasi lirik berikutnya dan kebetulan ketika itu Bandung menjadi Ibu Kota Keresidenan Priangan sehingga tercipta lirik “Ibu Kota Periangan”. Lirik berikutnya merupakan ungkapan sebuah kenangan karena kota Bandungyang sudah lama ditinggalkan menjadi kenangan bagi para pejuang, maka terbentuk syair “kota kenang-kenangan”.

Lirik-lirik tersebut mengalir dalam obrolan para pejuang. Pertemuan dengan para pemuda Ambon yang tergabung dalam Pemuda Indonesia Maluku (PIM) memberikan inspirasi baru karena pemuda Ambon yang lama tidak bertemu dengan pejuang lain celetuk berkata “cukimai! sudah lama beta tidak bertemu dengan kau!”. Sapaan ini akhirnya dijadikan syair berikutnya “sudah lama beta, tidak berjumpa dengan kau”.

Kota Bandung yang telah dijadikan Lautan Api dan gerilya yang sering dilakukan pejuang di malam hari dengan tujuan menyingkirkan NICA dari kota tersebut membuat para pejuang yang multi etnis itu menutup lagu ini dengan lirik “sekarang telah menjadi Lautan Api, mari bung rebut kembali”. Maka jadilah lagu Halo-halo Bandung.

Halo-halo Bandung, Ibu Kota Periangan

Halo-halo Bandung, kota kenang-kenangan

Sudah lama beta, tidak berjumpa dengan kau

Sekarang telah menjadi Lautan Api

Mari bung rebut kembali

Itulah kisah bagaimana proses terciptanya lagu Halo-halo Bandung yang merupakan salah satu cara untuk memotivasi semangat para pejuang di Bandung. Semangat yang tak pernah pudar, meski tersingkir dari kotanya sendiri. Semangat demi sebuah kedaulatan hingga rela kotanya menjadi Lautan Api. Peristiwa yang patut dikenang, bukan saja oleh masyarakat kota Bandung namun kita semua sebagai sebuah bangsa yang besar. Bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

Sumber

Tony Iommi’s Legendary Black Sabbath

Tony Iommi is synonymous with heavy rock, his innovative, de-tuned, dark riffs are considered to be the blueprint for hundreds of bands that followed.

Tony-Iommi.jpg

Born on February 19, 1948, in Birmingham, England, left-handed Tony picked up the guitar after being inspired by the likes of Hank Marvin & the Shadows as a teenager. By 1967, he had played with several blues-based rock bands, one of which evolved into Polka Tulk (later Earth), with bassist Terry “Geezer” Butler, drummer Bill Ward, and singer John “Ozzy” Osbourne.

Iommi’s musical career was nearly derailed prematurely as he suffered a horrible accident at a sheet metal factory, when a machine sliced off the tips of the fingers on his right hand. Depressed and figuring that his guitar playing days were behind him, a friend turned him onto guitarist Django Reinhardt (who lost use of two fingers in a gypsy caravan campfire accident), inspiring Tony to give the six-string another go, with soft plastic tips attached to the ends of his fingers.

Shortly thereafter, Iommi received a tempting offer to join Jethro Tull’s band in 1968, which he reluctantly accepted. After only a single performance with Tull (miming the track “Song for Jeffrey” on the Rolling Stones’ never-aired TV special “Rock & Roll Circus”), Iommi split from Tull to return back to his pals in Earth.

With another band already playing around England by the name of Earth, Iommi & co. were forced to change their name, taking “Black Sabbath” from the American title of the classic Italian horror movie “I Tre Volti Della Paura”.

With the name switch came a change in musical direction — the band would explore dark lyrical subjects, while the music would be repetitive, plodding and heavy. In the process, Sabbath created the blueprint for heavy metal with such incredibly influential, all-time classic releases as their 1970 self-titled debut and Paranoid, 71’s Master of Reality, 1972’s Vol. 4, and 1973’s Sabbath Bloody Sabbath.  These albums lifted Black Sabbath to one of the world’s top hard rock bands in the process. Iommi’s guitar playing propelled such metal standards as “Black Sabbath,” “N.I.B.,” “Paranoid,” “Iron Man,” “War Pigs,” “Into the Void,” and “Children of the Grave,” which boast some of the most recognizable guitar riffs in rock history.

But by the mid- to late ’70s, constant touring and drug abuse began to fracture the band, leading to Osbourne’s exit in 1979.  However, like a Phoenix rising from the ashes, the Black Sabbath name was reborn with the inclusion of Ronnie James Dio (RIP) on vocals, then right out of Rainbow.  Ronnie brought a new and fresh angle to the gig, and from these sessions a masterpiece was born, the Heaven & Hell album.  The sound on this album was unlike anything that Black Sabbath had done to this point.  It contained a fresh new sound under the banner of Black Sabbath.  This album was part of the metal revival in 1980, and of course the revival of Black Sabbath itself.   The Heaven and Hell tour cost Black Sabbath its original drummer, Bill Ward, and Bill was replaced quite capably by Vinny Appice (then of Axis/Rick Derringer).  A couple of more albums with Ronnie and Vinny followed (Mob Rules, Live Evil), but the Sabbath lineup was not to stay stable for long after this.

After Ronnie & Vinny left to form the Dio band, Tony, Geezer, & Geoff Nicholls were tasked with putting together another incarnation of Black Sabbath.  After a few changes already, they decided they wanted some more stability, so Bill Ward was convinced to return to the band, and a search for a new vocalist ensued.  They eventually settled on former 70’s rival, Ian Gillan (Deep Purple) to handle vocals for the aptly named Born Again album.    The lineup wasn’t to stay the same, as Bill Ward bowed out from touring.  Old Brum friend and former ELO dummer Bev Bevan handled the skins for the Born Again Tour which lasted into the Spring of 1984.

1984 brought a season of change, as Ian Gillan left to pursue a reunion of Deep Purple, and Black Sabbath tried a few times to work with new singers (Dave Donato, Ron Keel), but nothing materialized from these sessions (which again included Bill Ward).   After this, it became just Tony when Geezer and Bill departed to pursue other options.

During this period the original Black Sabbath reunited for one day in Philadelphia on July 13, 1985.   This was to play the Live Aid benefit concert, along with a slew of other artists in Philadelphia and in London.   This was short lived, though, was just a reunion for that day.

Not long after that, Tony began work on a solo album initially using vocalist Jeff Fenholt, and later using several folks including long time pal Glenn Hughes on vocals, Eric Singer (Alice Cooper/Kiss) on drums, as well as others like Dave Spitz, as well as Sabbath stalwart Geoff Nicholls.   As the album neared completion, a struggle ensued with the record label.  The Seventh Star album was originally intended to be the first Tony Iommi solo album, but the label wanted a Black Sabbath album.  All this caused the released album to have the hybrid name of “Black Sabbath featuring Tony Iommi”.  The Seventh Star tour started off well, included a really nice stage set and show, but quickly it became obvious that a change in singer was needed.

Enter Ray Gillen (RIP), who took over early on in the Seventh Star tour.  Ray was a friend of Dave’s, and the tour finished well, played to crowds around the world.  But when the tour ended, thoughts turned to the next album, which ended up being “The Eternal Idol”.

The Eternal Idol turned out to be one the most tumultuous parts of Sabbath history.   Featuring two singers, two credited drummers, two bassists (three if you count music videos), two producers and studios; the album took quite a path to completion.  The live shows surrounding The Eternal Idol included Greece (then a first time Sabbath stop), South Africa, and mostly centered around Italy.  The tour was short lived, and save for a single charity show the following year, a restart was needed, given the mountain of management and record label problems.  It also marked the first time since the original Black Sabbath record contracts were signed in 1969 that the band was not on their usual label.  Tony Iommi signed Black Sabbath to a new label for the first time in the band’s history, this time I.R.S.

So in 1988, Tony and then singer Tony Martin embarked on getting some credible musicians in to bolster the lineup and bring some stability to the band, who had seen quite a number of people in and out in the previous five years.   Brought in on drums was long time friend, Cozy Powell.  Cozy was actually approached to play drums a few times in the past.  First when Bill Ward left in 1980, again in 1983 when Vinny Appice left, and again in the mid 80’s around the Seventh Star period.  Cozy finally agreed in 1988, and joined on.   Session man Laurence Cottle recorded the Headless Cross album, but was replaced for the tour and afterwards by Neil Murray.  This solidified the late 80’s/early 90’s Black Sabbath lineup of Tony Iommi / Tony Martin / Neil Murray / Cozy Powell / Geoff Nicholls.   The Headless Cross album and tour as well as the Tyr album and tour did very well in and around Europe.

However, towards the end of the Tyr tour, thoughts turned to the end of the Ronnie James Dio era.  After a few meetings, it was decided to reunite the Heaven & Hell / Mob Rules lineup of Black Sabbath.  Dio back, Geezer back, Vinny Appice back.  This lineup put together the Dehumanizer album and world tour.   Featuring tracks such as Computer God, TV Crimes, and the powerhouse “I”, the album was very well received by Sabbath fans who missed the chance to see Ronnie Dio singing with Sabbath the first time around.   A world tour followed, and lasted most of 1992.   The tour ended in Costa Mesa, CA where Black Sabbath played with Ozzy Osbourne, who at that time stated he wanted to retire – which didn’t happen of course, but the shows where Black Sabbath played for Ozzy marked the end of the Dio Era Mk II, as Rob Halford had to step in at the last minute and sing for Black Sabbath, creating one of the more unique lineups in the band’s history.

Following the Costa Mesa shows, thoughts turned to a new record, and given the departure of Dio, it was decided to bring Tony Martin back.  Cozy Powell was then unavailable, so Bobby Rondinelli was brought in to handle drums on the Cross Purposes album.  A world tour followed, which ended with the departure of Bobby.  To handle some gigs in South America, the band recruited Black Sabbath founding member Bill Ward to handle drums.   Some of these shows were televised in South America.

But again, the lineup changed for the next album, 1995’s Forbidden, which featured the return of the Headless Cross / Tyr lineup.  This album was not as well received as some of the previous efforts, and while there was a tour behind it, the tour had a lot of problems with canceled shows, and other related issues.  At the end of the tour, Tony put out a “Tony Martin” era Greatest Hits album on I.R.S., thereby ending that record label relationship.,

1996 saw a time of rest, to have a rethink, and recharge the batteries.  Tony & Black Sabbath next appeared in 1997, reunited with Ozzy Osbourne for the first tour since 1978, on Ozzfest ’97.   The live shows in the NEC in Birmingham were recorded, and later released in 1998 as the “Reunion” album.  From that album came Black Sabbath’s first Grammy award, for the track “Iron Man”.   It won the “Best Metal Performance” in 1999.

And although one of the  Sabbath albums from the ’80s could have arguably been considered a Tony Iommi solo album, Tony issued his first true solo release in the form of 2000’s “Iommi”. The ten-track disc, which was very warmly received by both the press and the public, featured many of rock’s top names lending their vocal talents including Henry Rollins, Dave Grohl, Billy Corgan, Phil Anselmo and Ozzy Osbourne, among others.

The following year Iommi returned to touring, with Black Sabbath as the headline act at 2001’s Ozzfest. The band earned a second Grammy nomination for the track “The Wizard” from the live album “Ozzfest 2001: The Second Millennium” that followed the tour.  The tour also premiered a then brand new Black Sabbath track “Scary Dreams”, which to this day remains unreleased officially.

On 3rd June 2002, he joined Ozzy to perform “Paranoid” in front of the Queen, the Royal Family and 12,000 members of the public  (plus millions of TV viewers) on the lawn of Buckingham Palace at a concert to celebrate the Queen’s Golden Jubilee.

As one of the writers of “Changes”, Tony received his first Ivor Novello nomination when the song competed in the category Best Selling UK Single following the 2003 cover released by Ozzy & Kelly Osbourne.

The early part of 2004 was spent in the studio working on solo projects, including putting the finishing touches to material recorded with Glenn Hughes in Birmingham in 1996, which was picked up by Sanctuary Records for an autumn release under the title “The 1996 DEP Sessions”. In between this, Tony and the 3 other members of the original Black Sabbath line-up reunited as the headline act for summer 2004’s Ozzfest in the USA.

UoOHloZ.jpg

The touring continued in 2005, with a Black Sabbath tour of Europe starting in June (including a notable performance at the UK’s Download festival), and another headline slot at Ozzfest from July to September.  The Iommi solo album ‘Fused’ was also released in July 2005.  Featuring Glenn Hughes on vocals and Kenny Aronoff on drums, the album was recorded at Monnow Valley studios in Monmouth, Wales in late 2004 under the production skills of Bob Marlette who had produced Tony’s first solo album back in 2000.

Black Sabbath was inducted into the UK Music Hall of Fame in November 2005. The band was inducted by Queen guitarist Brian May, and performed ‘Paranoid’ at the ceremony at London’s Alexandra Palace. In March 2006, Metallica inducted Black Sabbath into the Rock & Roll Hall of Fame in New York. Throughout all of this, Tony was also working on his radio series ‘Black Sunday’ for the UK’s Planet Rock station.

In late 2006, Tony reunited with Ronnie James Dio, Geezer Butler and Vinny Appice to record three new songs for the CD “Black Sabbath: The Dio Years” which was released by Rhino in April 2007.  In the month leading up to the release, the foursome did a tour of Canada under the moniker ‘Heaven & Hell’ which ended with a special show at New York’s Radio City Music Hall, later released on CD and DVD.   A tour of the USA followed in April & May, followed by European summer shows, Australia, a second US run, Asia and finally a UK arena tour in November 2007, in total 98 shows in 9 months!

At the start of 2008 the band began working on a new Heaven & Hell studio album, for release in early 2009. During the summer this was put on hold while the guys played under the ‘Metal Masters’ banner with Judas Priest for 17 shows across the US. To coincide, Rhino Records released a re-mastered box set of the complete works with Ronnie James Dio (“The Rules of Hell”).

Picking up where they left off, the guys finished writing and went into the studio in the autumn to record the new album. Whilst track laying at Rockfield Studios the guys took time out to join Tony as he was awarded a star in the pavement at Birmingham’s Broad Street.

“The Devil You Know” was released in April 2009, and was greeted by rave reviews, the guys backed it up with a world tour that kicked off in South America and concluded some 47 shows later in Atlantic City, NJ USA. Along the way the band recorded a live DVD at the Wacken Festival in Germany. Unknown to everyone at the time, this video would have a huge significance as Ronnie’s health suddenly deteriorated and in the autumn of 2009 he was diagnosed with cancer. Despite putting up a tremendous battle he sadly passed away in May 2010, the DVD being a fitting tribute to a huge talent.

In October 2009, the Armenian government honoured Tony for his work on the “Rock Aid Armenia” charity that had taken place some 25 years earlier. He travelled to Armenia with Ian Gillan to receive the Medal of Honour and whilst there was taken to some of the areas that had been rebuilt. He and Ian were upset to find that a music school was the one institution still operating in temporary tin huts and they decided to get the facility re-built. A single “Out of My Mind” followed featuring Ian and Tony, plus Nicko McBrain, Jason Newsted, Jon Lord and Linde Linstrom. This had the effect of both raising funds and the profile of the project, and they subsequently released a full album entitled ‘WhoCares’ of rare recordings to further the cause.

2010 was largely spent in the studio writing new music, and working on his autobiography with writer TJ Lammers. A chance conversation with Sharon Osbourne resulted in the idea of the original Black Sabbath working together again and he met up with Ozzy at Christmas to discuss things. Geezer had already dropped by the studio and was also keen to give it a go so they all met up, including Bill Ward, in Los Angeles, January 2011 and spent some time together discussing the way forward.

Tony-Iommi.jpg

Most of 2011 he spent working on new material and the release of his autobiography “Iron Man” in October that went on to make the New York Times Bestseller list. It was after feeling unwell whilst undertaking promotion for the book that he went for a medical check-up. His concerns were well justified as the removal of a lymph node confirmed he had Follicular (non-Hodgkin) Lymphoma. Being his ever determined self, and despite undergoing both chemo and radio therapy, writing for the new Sabbath album continued at his home studio as Ozzy and Geezer came to the UK for an extended period, due to the tiring nature of the treatments.

Whilst unable to undertake the planned European tour, Tony had recovered sufficiently to play a hometown gig in Birmingham, along with headline appearances at Download Festival and Lollapalooza, the mighty Sabbath were back!

In the summer of 2012, Tony and Ian Gillan released a full album (a double album, actually) under the WhoCares name.  This album included numerous rare and b-side tracks from Black Sabbath, Deep Purple, a couple of extra tracks from the Fused album, and some of Ian’s other projects.  The proceeds from this album benefit the Armenian music school that the original WhoCares single did.

Recording of “13” started in September 2012 in Los Angeles with Tony returning home for treatment every 8 weeks. By the end of the year the album was in the can and ready for mixing which was finished in early 2013.

Defying his ongoing treatment, Tony and the guys set off for New Zealand, Australia and Japan in April, the first time they had been in these countries with Ozzy and it proved hugely successful.

Released on June 10th 2013 the album, titled ‘13’, has been a staggering success reaching number 1 in the US, amazingly the first Sabbath album to do so. It also got to the top in most countries around the world, in the UK setting a record for being a 40 year span between number 1’s, the longest ever!

Black Sabbath continued to play live gigs throughout the remainder of 2013, covering numerous countries and shows.  This was inbetween Tony’s returning home for treatments.   The band also made an appearance on the show “CSI: Crime Scene Investigation”, where they played the song “End of the Beginning”.

In January 2014, Black Sabbath made an appearance on the Grammy Awards show as presenters for Ringo Starr, and also winning a Grammy award in the “Best Metal Performance” category for the song “God is Dead?” from the “13” album.

The live shows shows carried on into 2014, with the gig in Hyde Park on July 4, 2014 being the final date on the “13” tour.

What comes next?

Sumber

Joey Alexander Masuk Nominasi Grammy Awards 2017

alexander_joey_DSC_6627_frank_stewart__crop_767_431_0_0_0_90___8297.jpg

Pianis jazz muda asal Indonesia, Joey Alexander, kembali masuk nominasi Grammy Awards 2017. Nominasi Grammy Awards 2017 diumumkan pada Selasa (6/12/2016).

Joey Alexander masuk nominasi Best Improvised Jazz Solo dengan lagu “Countdown”, yang diambil dari album keduanya yang berjudul sama. Joey merilis album Countdown pada September 2016 lalu.

Dalam kategori itu, remaja berusia 13 tahun itu bersaing dengan musisi-musisi jazz yang jauh lebih senior, seperti Ravi Coltrane (In Movement), Fred Hersch (We See), Brad Mehldau (I Concentrate On You), dan John Scofield (I’m So Lonesome I Could Cry).

Nominasi Grammy bagi Joey ini langsung disambut tweet oleh halaman seni harian New York Times. Ada nada bangga dalam tweet itu karena pernah mewawancarai pianis yang menolak disebut “bocah ajaib” itu.

The 13-year-old Joey Alexander just recieved his third Grammy nomination. We interviewed the precocious pianist,” kata New York Times Arts.

13JOEYALEXANDERWEB1-master675-v4.jpg

Ini merupakan nominasi ketiga Joey Alexander dalam perjalanan karier musiknya yang masih muda. Pada Grammy 2016 lalu, remaja pemalu itu menjadi nomine pada kategori Best Improvised Jazz Solo dan Best Jazz Instrumental Album.

Dengan nominasi itu, Joey menjadi musisi termuda yang pernah menjadi nomine sepanjang sejarah penyelenggaraan Grammy Awards. Sekalipun tidak berhasil membawa pulang Grammy, Joey Alexander sudah memukau dunia musik, khususnya artis-artis musik ternama, dengan dua kali penampilannya di panggung Grammy.

Dalam dua kali penampilannya, dua kali pula Joey membawa para tamu malam puncak Grammy Awards 2016 berdiri untuk memberikan standing ovation kepadanya.

Sumber

Amatra Peduli “Gerakan Satu Pohon Sejuta Perubahan”

DSC0600_1.jpg

Seperti kita ketahui Pulau Bali yang memiliki keanekaragaman keunikan budaya dan adat serta tradisinya, juga menyimpan banyak potensi sumber daya yang melimpah. Sayangnya potensi itu, kurang mendapat perhatian karena tenggelam oleh gemerlapnya daya tarik wisata di Bali selatan. Namun di mata salah satu Wakil Rakyat Bali di tingkat pusat yang kini menjabat Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, A.A. Bagus Adhi Mahendra Putra, M.H kesan tersebut mulai berubah. Amatra sapaan akrab Politisi asal Kerobokan, Badung itu mulai menggerakan generasi muda di seluruh Bali untuk menaman pohon apa saja, salah satunya bibit buah unggul dengan memamaafkan potensi lahan kosong atau tanah yang tidak pernah dimamfaatkan, sehingga bisa menambah penghasilan masyarakat sekitarnya.

Cita-cita lewat Program Amatra Peduli itu, juga bertujuan untuk mengembalikan keasrian alam dan lingkungan di Bali yang tertuang dalam “Gerakan Satu Pohon Sejuta Perubahan” sekaligus mengajak seluruh generasi muda di Bali, diantaranya anggota Sekehe Teruna Teruni (STT) maupun Karang Taruna dan perkumpulan pemuda lainnya, agar kembali terketuk hatinya untuk terus menjaga alam dan lingkungan agar bisa menjadi warisan anak cucunya kelak. Untuk itu, tepat di penghujung tahun 2016, Amatra Peduli bersama warga dan anggota STT setempat kembali menggelar Gerakan Satu Pohon Sejuta Perubahan dengan optimalisasi lahan untuk kesejahteraan rakyat di sekitar kawasan Desa Wisata Pancoran Solas, Desa Guliang Kangin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Sabtu (31/12).

 

Kehadiran Amatra langsung disambut para pemangku, pengglingsir dan krama desa beserta pengurus STT di Desa Guliang Kangin. Pada saat itu, Bendesa Adat Guliang Kangin, Ngakan Putu Suarsana sangat mengapresisi dukungan Amatra yang mengajak generasi muda bersama warga untuk ikut Gerakan Satu Pohon Sejuta Perubahan, sehingga dapat mengembalikan kepedulian terhadap alam dan lingkungan di Desa Wisata Guliang Kangin. “Program Amatra Peduli di desa wisata ini patut dicontoh oleh semua lapisan masyarakat. Kita sangat apresiasi kepedulian Pak Gung Adhi (Amatra, red) yang langsung turun menggerakan generasi muda yang sejak awal selalu berbuat untuk masyarakat. Bahkan sekarang juga ikut gerakan menaman bersama para pemuda untuk menjaga lingkungan sebagai garda terdepan menjalankan adat dan budaya,” ungkapnya.

Dikatakan sebelumnya, Amatra juga pernah menyerahkan bantuan bale kulkul di Desa Guliang. Kepedulian Amatra itu berlanjut dengan memberikan perhatian lebih kepada generasi muda, karena banyak pengaruh negatif yang bisa menjerumuskan generasi muda seperti dampak negatif medsos dan pergaulan bebas. Sehingga dari awal kegiatan penanam pohon seperti yang digencarkan Amatra Peduli terus dilakukan seperti gerakan menanam pohon cempaka yang sudah berjalan selama setahun. “Kita sangat mendukung gerakan menanam dari Amatra Peduli, karena kita tidak ingin desa wisata hanya jadi label saja. Program ini selanjutnya akan didukung Gerakan Sapta Pesona dan Sadar Wisata. Terkait kebersihan juga terus digalakan dengan sistem bank sampah sesuai tradisi dan budaya. Apalagi sebelumnya juga pernah dibantu jembatan dan akses jalan ke Pancoran Solas sehingga menjadi desa wisata yang unik,” katanya.

Gerakan Satu Pohon Sejuta Peruhanan dari Amatra Peduli ini, ternyata langsung mematik kembali semangat generasi muda disekitar kawasan Desa Wisata Pancoran Solas yang kompak datang bersama-sama Amatra untuk menanam satu persatu bibit pohon buah unggul, berupa ratusan bibit manggis dan durian. Rasa lelah menanam bibit pohon di medan yang berat dan cukup curam tersebut nampaknya terhapuskan dengan semangat dan rasa bangga mereka, jika kelak bisa merawat dan memetik hasil buah yang ditanam saat pergantian tahun 2016 menuju 2017. “Terima kasih atas dukungan Pak Gung Mahendra (Amatra, red) kepada generasi muda untuk mengembangkan desa wisata agar dikenal masyarakat luas. Usai menanam, kita akan programkan pembersihan pohon yang ditanam di Pancoran Solas. Kita harapkan Amatra Peduli bisa terus mendukung kegiatan kami di desa wisata ini,” ucap Ketua STT Eka Budi Dharma, I Made Gede Gita Adiyana.

Usai gerakan menanam tersebut, Amatra mengaku sempat prihatin dengan Bendesa Adat Guliang Kangin yang menanggung beban berat menyandang desa wisata, karena harus terus menjaga desa tetap asri, baik dari sisi adat dan budaya maupun alam serta lingkungannya. Namun dengan semangat bersama warga dan generasi muda tersebut, nantinya desa wisata ini malah bisa dikembangkan menjadi desa spiritual. “Kita menyerahkan bibit pohon buah-buahan di wilayah Pancoran Solas, sehingga adik-adik STT harus terus peduli lingkungan. Bibit yang ditanam juga unggul bersertifikat tidak bibit sembarangan, sehingga harus dijaga dan dirawat dengan baik. Ini bisa menjadi pendapatan yang tidak diduga. Selama 3 tahun bisa berbuah dan bisa menjadi penghasilan. Saya serahkan bibit manggis 100 dan durian 50 bibit. Coba dihitung berapa penghasilan dari buah yang dihasilkan nantinya. Karena itu mari sekarang rawat pohon itu lewat Gerakan Satu Pohon Sejuta Perubahan,” jelas Ketua Pemenangan Pemilu Bali Nusra DPP Partai Golkar itu.

Selain itu, Amatra juga merasa bangga bersama generasi muda dan masyarakat setempat telah berbuat untuk alam. “Makanya ulian liang di Guliang, tiang selalu tersentak untuk berbuat lebih banyak, dikarenakan masyarakatnya yang sangat menjaga pesidikaran dengan kuat. Mungkin itu karena titah Ida Bhatara, sehingga saya minta generasi muda ikut bergerak menjaga alam tanpa melihat apapun partainya,” tegas Ketua Jaringan Sosial Swadiri Bali (JSSB) ini, seraya mengaku akan segera membantu bale pesandekan di Pancoran Solas yang diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar Rp60 juta. Selain itu Amatra juga menyerahkan sarana peralatan olah raga untuk persiapan pertandingan bola volly di Desa Guliang.

sumber

Jimi Hendrix – Sang Dewa Gitar Dunia

Johnny Allen Hendricks atau Jimi Hendrix lahir di King Country Hospital, Seattle, Washington pada 27 November 1942, Ia putra sulung pasangan Alex Hendricks yang Afro-Amerika Meksiko dan Lucille, seorang Indian Cherokee. Nama itu merupakan pemberian ibunya, yang kemudian diubah oleh sang ayah menjadi James Marshall Hendricks pada saat Hendrix kecil berusia 4 tahun. Kedua orangtuanya kemudian berpisah saat Jimi berumur tiga tahun. Ayahnya Alex yang bekerja sebagai tukang sapu, menghidupi keluarganya dengan susah payah.

Jimi kecil pun sering membantu ayahnya menyapu, dan dengan sapu itulah ia pertama kali bergaya bak seorang gitaris. Ia sering menirukan gaya duckwalk khas Chuck Berry. Sang ayah ternyata sering memperhatikan sikap puteranya. Pada 1952, saat Jimi berusia 10 tahun, sang ibu wafat. Hal ini membuat Jimi sangat terpukul dan menjadi anak yang pemurung. Alex sebagai seorang penganut agama yang taat, mengajarinya untuk tabah. Ia sering mengajak Jimi ke gereja dan ikut dalam paduan suara. Tetapi itu rupanya belum cukup untuk menghibur Jimi.

Karena kasihan melihat Jimi yang tak kunjung berhenti bersedih, ayahnya membelikan Jimi sebuah gitar akustik sebagai hadiah ulang tahun ke-12. Gitar itu dibeli dari seorang kawan ayahnya itu seharga 5 dollar. Gitar itu kemudian dibalik susunan senarnya oleh Jimi yang kidal, sehingga ia dapat memainkan gitarnya dengan tangan kiri memetik senar, sedangkan yang kanan menari di atas fretboard. Dengan bermain gitar, Jimi mulai dapat melupakan kepedihan ditinggal ibunya. Apalagi tiga bulan kemudian, Jimi dibelikan lagi sebuah gitar listrik Supro Ozark 160S oleh Alex. Eksplorasi musiknya pun menjadi lebih luas dengan gitar tersebut dan Jimi membentuk bandnya yang pertama Velvetone.

Sepanjang masa remaja itulah Jimi terus berlatih memainkan gitar. Ia sempat dikeluarkan dari sekolahnya Garfield High School gara-gara kebandelannya mengganggu para ceweq. Setelah putus sekolah, ia malah bisa lebih konsen membantu sang ayah. Dan tentunya ia juga lebih banyak mempunyai waktu untuk mengulik gitar. Jimi punya kegemaran mendengarkan album milik musisi blues beken seperti B.B. King, Elmore James dan Muddy Waters, ataupun para rock n’ roller seperti Chuck Berry dan Eddie Cochran. Lagu ‘Rock And Roll Music’ dari Chuck Berry termasuk lagu yang paling sering dibawakan Hendrix. Bahkan kemudian B.B. King memberi penghormatan kepadanya dengan mengabadikan nama ibu Hendrix, Lucille pada gitar Gibsonnya.

Jimi mulai berkarir di musik tahun 1960, saat ia menjadi anggota sebuah band bernama Rocking Kings dan mulai sering manggung di tempat konser seputar Seattle. Walaupun sudah mulai menarik perhatian para pencinta musik, ia tampaknya belum bisa menunjukkan totalitasnya karena setahun kemudian ia malah kena wajib militer dan bergabung dengan angkatan darat di Fort Ord, California. Kemudian ia ditempatkan di 101st Airborne Paratroopers di Fort Campbell, Kentucky sebagai pasukan penerjun. Saat inilah ia bertemu dengan Billy Cox, seorang pemain bass berkulit hitam yang cukup disegani di kalangan musisi blues pada saat itu. Mereka sempat bermain di dalam band angkatan.

Celebrity-Image-Jimi-Hendrix-15823.jpg
Dikarenakan cedera pergelangan kaki saat penerjunan yang ke- 26 kalinya, Hendrix kemudian diminta meninggalkan angkatan. Hikmah dari kejadian ini —seperti kemudian dikemukakan Hendrix — adalah ia jadi tidak perlu ikut dalam perang Vietnam yang meletus beberapa tahun kemudian. Saat itulah ia kembali bergabung dengan bekas teman-teman bandnya dan membentuk Bob Fisher & The Barnevilles. Mereka kemudian menjadi band pembuka untuk beberapa musisi untuk tour Amerika sebelum Hendrix kemudian pindah ke Vancouver, Kanada.

Tahun 1963, Hendrix pindah lagi ke Tennessee, dan di kampungnya Elvis Presley ini, ia bermain dengan sederet nama top waktu itu seperti Little Richard, Hank Ballard dan The Supremes. Ia juga ikutan di dua single-nya Lonnie Youngblood. Sayang, ia tidak sempat membuat kerja sama dengan Elvis. Tetapi ia sering menampilkan hit dari sang raja itu, yaitu ‘Hound Dog’ dan bahkan sempat pula merekamnya. Tentunya dengan versinya sendiri yang penuh teriakan dan geraman terutama di bagian chorus-nya.

Merasa kurang bisa mengembangkan karirnya, Hendrix pindah lagi dan kali ini ke New York. Di kota Big Apple itu, ia bermain bersama dengan Isley Brothers, sepanjang tahun 1964, termasuk untuk rekamannya di studio. Ia juga berkolaborasi dengan penyanyi soul Curtis Knight. Knight kemudian menulis lagu ‘Ballad Of Jimi’ yang ditulisnya pada 1965, setelah Jimi berkata padanya bahwa ia (Jimi) akan mati lima tahun lagi. Tahun itu juga Hendrix menjadi anggota band pendamping Little Richard dan sering berkeliling di panggung- panggung seputar New York, salah satunya adalah Paramount Theater.

Sebagai musisi pendukung, tentu saja Hendrix kurang dapat mengekspos kemampuannya bermain gitar secara maksimal. Bahkan Little Richard pernah menyuruhnya melepas pakaiannya yang dinilai terlalu mencolok. Dan menggantinya dengan pakaian yang sudah dipersiapkan bagi musisi pengiring. Menjadi orang kedua tentunya bukanlah harapan Hendrix. Tidak bisa menonjolkan diri dan dengan bayaran kecil membuatnya tertekan. Suatu ketika ia berjalan-jalan bersama pacarnya Jeannette Jacobs, ia menunjuk pada baju-baju bagus di etalase sebuah toko. Ia bilang pada Jeannette, ”Jika saya terkenal nanti, saya akan belikan kamu baju seperti itu.” Jeannette tersenyum, tidak yakin hal itu akan jadi kenyataan. Karena saat itu Jimi sendiri hanya memiliki dua potong kemeja, dua celana dan sepasang sepatu butut.

Pada tahun berikutnya 1966, Hendrix mulai menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Ia membangun bandnya sendiri, Jimmy James & The Blue Flames. Saat main di Café Wha! di Greenwich Village, New York pada bulan Juni, penampilannya dikagumi oleh Linda Keith. Linda yang pacar gitaris Rolling Stones, Keith Richards itu, tak lama kemudian mempertemukannya dengan bassis grup Inggris The Animals, Chas Chandler. Chandler pula yang mengusulkan mengganti nama Hendricks menjadi Hendrix. Ia kemudian mengajak Hendrix mengembangkan karir di London.

Ke Inggris? Tempat para jawara gitar itu? Hendrix sempat ragu. Selain Keith Richards, di Inggris bercokol para gitaris hebat seperti George Harrison (The Beatles), Pete Townsend (The Who) dan tiga gitaris jebolan Yardbirds: Jimmy Page (Led Zeppelin), Jeff Beck dan Eric Clapton (Cream). Hendrix minder untuk bertemu dengan Richards dan yang lainnya. Tetapi bilang pada Chandler ia ingin juga bertemu dengan Clapton. “Tidak ada masalah dengan Richards,” kata Chandler. “Pacarnya sendiri yang merekomendasi kamu,” tambahnya. “Dan jika Clapton mendengarkan permainan kamu, maka dialah yang ingin bertemu kamu.” Chandler meyakinkan Hendrix. Dan walaupun membutuhkan waktu lima minggu untuk berpikir, ia pun akhirnya setuju. Maka, setelah mengurus berbagai macam keperluan, berangkatlah keduanya ke London.

jimi-hendrix-live-wallpaper-desktop-1.jpg
Setiba di London pada 24 September 1966, Hendrix yang sebenarnya masih ragu, diajak Chandler ke kafenya Zoot Money. Di kafe yang merupakan tempat nongkrong para musisi itu, Hendrix sempat ber-jam session dengan pemusik setempat. Akhirnya — setelah bermain sekitar dua jam — Hendrix menemukan kepercayaan dirinya dan merasa akan cocok berkarir di Inggris. Chandler kemudian mengajak Hendrix berkeliling dari tempat satu ke tempat lainnya. Ia yang cukup ngetop bersama The Animals, banyak kenal dengan para musisi dan pemilik klab. Hal ini banyak membantu Jimi mendapatkan kesempatan untuk manggung. Di klab Blaises tempat Hendrix bermain, ia dilihat oleh Johnny Hallyday yang saat itu merupakan
penyanyi top di Perancis. Ia kemudian bernegosiasi dengan Chandler membicarakan kemungkinan kerja sama. Akhirnya diperoleh kesepakatan yaitu, Hendrix akan membuka konser Johnny. Tetapi Hendrix merasa harus memiliki band sendiri.

Di London, Chandler lalu mencarikan Hendrix dua ‘pengawal’ tangguh untuk posisi drums dan bass. Ia mendengar bahwa penggebuk drum Mitch Mitchell (lahir John Mitchell, 9 Juni 1947) keluar dari Georgie Fame’s Blue Flames. Maka direkrutlah Mitchell mengisi posisi tersebut. Tinggal posisi pembetot bass yang masih lowong. Saat itulah, Noel Redding (lahir David Redding, 25 Desember 1945) yang mengikuti audisi untuk jadi gitaris The Animals, ditawari jadi pemain bass bersama Hendrix. Karena posisi gitaris dalam The Animals sudah terisi, dan menyadari persaingan sebagai pemain gitar terlalu ketat, ia setuju untuk jadi pemain bass dan menerima tawaran tersebut.

Mitchell merupakan seorang aktor cilik untuk iklan TV, sebelum memutuskan menjadi musisi pada saat remaja. Ia sangat menyukai permainan drum dari Buddy Rich dan Gene Kruppa. Sedangkan Redding yang jebolan sekolah seni, pernah bermain dengan Modern Jazz Group dan Loving Kind. Pada September inilah Hendrix sebenarnya baru ikutan mengubah namanya dari Jimmy menjadi lebih sederhana, Jimi.

Mereka bertiga membuat band Jimi Hendrix Experience yang kemudian melegenda. Itu terjadi pada Oktober 1966. Saat di mana karir Hendrix yang sesungguhnya baru dimulai. Penampilan pertama mereka adalah ketika menjadi band pembuka dari penyanyi Perancis Johnny Hallyday yang manggung di Paris Olympia pada tanggal 18 bulan yang sama. Tetapi demi penampilannya di Paris, Hendrix membutuhkan peralatan yang lebih hebat. Ia memerlukan ampli yang lebih besar dengan daya lebih kuat. Maka, Chandler pun menjual dua buah bass-nya — Fender Precision dan Gibson EB —untuk membeli Marshall Supro yang kemudian menjadi trademark-nya Hendrix.

Sebulan kemudian mereka — untuk pertama kali sejak bertrio — masuk studio. Mereka merekam lagu ‘Stone Free’ ciptaan Hendrix dan ‘Hey Joe’ karya Billy Roberts dan pernah dinyanyikan oleh Tim Rose. Kedua lagu tersebut digarap di De Lane Lea Studio, London. Sayang ketika itu mereka masih sepi tawaran manggung. Sedangkan mereka harus membiayai hidup dan sewa studio. Sekali lagi Chandler harus merelakan koleksi bass-nya. Kali ini sebuah Fender Jazz Bass dan sebuah Fender Precision dilego. Ia pun bertekad, pengorbanan ini harus menghasilkan sesuatu yang hebat di kemudian hari.

Harapan itu sedikit demi sedikit mulai terwujud. Pada November mereka bermain selama empat hari di Big Apple Club, Munich, Jerman. Mendapat bayaran 300 pounds, mereka mulai bisa membiayai hidup. Dan Chandler terus berusaha agar Jimi Hendrix Experience bisa lebih diliput oleh pers. Hendrix cs. mendapat kesempatan jumpa pers pertama pada tanggal 25 bulan itu juga. Bertempat di klab Bag O’ Nails, London, mereka menampilkan repertoar yang biasa mereka bawakan. Termasuk tentu saja ‘Hey Joe’ dan ‘Stonefree’. Kalangan pers menanggapi positif penampilan mereka.

JIMI-HENDRIX4.jpg
Memasuki Desember, Hendrix menandatangani kontrak empat tahun dengan Yameta Company, suatu perusahaan manajemen artis. Akhirnya single pertama ‘Hey Joe’ dirilis oleh Polydor setelah sebelumnya ditolak oleh Decca. Mereka bertiga lalu tampil di acara TV untuk pertama kalinya di penghujung tahun 1966 itu. Sayang pada malam Tahun Baru 1967, mereka tidak mendapat tawaran panggung. Untungnya, Redding mempunyai gagasan bagus. Ia mengajak Hendrix dan Mitchell bermain di kampung halamannya, Folkestone, sebuah kota kecil dekat London. Dan ia yang memiliki banyak kerabat di kota itu tanpa banyak kesulitan mendapatkan job.

Mereka berangkat naik kereta di dalam cuaca dingin. Tetapi hal itu tidak membekukan semangat mereka tampil di kafe Tofts. Apalagi orangtua Noel juga menyediakan tempat menginap bagi mereka plus sang manajer. Penampilan mereka di kafe Tofts itu paling tidak cukup untuk menghibur diri mereka sendiri. Memasuki Januari 1967 keadaan sudah mulai membaik. Walaupun sempat ‘terpaksa’ bermain di klab-klab kecil seperti Ram Jam dan Ricky Tick, mereka ma-sih sering mendapat kesempatan tampil di Scotch of St.Thomas dan 7 ½ Club. Bahkan kadang di klab yang terletak di White Horse Street, Mayfair, London itu, penampilannya ditonton oleh musisi terkenal seperti Paul McCartney, Pete Townsend dan Mick Jagger.

Bintang-bintang top itu ternyata menyukainya. Mereka sering bilang pada pers, bahwa mereka kagum pada penampilan Hendrix. Dan hal itu tentunya merupakan keuntungan publikasi yang besar bagi Hendrix dan dua sohibnya. Karena kala itu, penyataan dari para personel The Beatles, The Who dan Rolling Stones merupakan ‘santapan wajib’ yang harus diyakini oleh para pencinta musik di seluruh dunia. Akhir bulan itu, Jimi Hendrix Experience tampil di Saville Theater, London sebagai grup pembuka The Who. Kesempatan ini diperoleh juga atas permintaan Townsend. Tentu saja hal ini tidak disia-siakan. Dan Hendrix pun membuktikan bahwa mereka memang patut untuk diperhitungkan.

Pete Townsend yang kala itu merupakan gitaris dengan aksi panggung yang hebat, malam itu mendapat ‘saingan berat’. Tahu bahwa Townsend akan melakukan atraksi khasnya seperti memutar gitar di udara, Hendrix melakukan atraksi yang lebih hebat. Tetap dengan cirinya seperti memetik senar pakai gigi, menggesekkan senar ke punggung atau menendang-nendang gitar. Tapi kali ini dengan gaya lebih agresif. Pada bulan Februari, single ‘Hey Joe’ mendaki di nomor enam pada chart Inggris. Hendrix pun semakin terkenal dengan gayanya yang liar.

Pers juga sering mengekspos hal tersebut. Sementara itu mereka bertiga masuk studio lagi untuk menyelesaikan penggarapan album penuh. Album itu dikerjakan di Olympic Studios, Barnes, London. Sepanjang bulan Maret tahun itu, mereka mengadakan pertunjukan keliling Eropa. Dimula di Twenty Club di Mouscron, Belgia dan 20 Club, Lille, Perancis lalu dilanjutkan ke klab legendaris yang juga melahirkan Beatles, Star Club di Hamburg, Jerman.

Balik ke Inggris, Jimi Hendrix Experience tampil pada acara “Top Of The Pops”di BBC1-TV. Saat tour kelling Inggris itu, mereka sempat sepanggung dengan Cat Steven, Walker Brothers dan Engelbert Humperdinck. Gaya agresif Jimi sempat membuatnya celaka. Waktu ia membakar gitarnya, tangannya ikutan terbakar. Ia pun dilarikan ke rumah sakit.

Kejadian lain yang tidak mengenakkan adalah ketika mereka habis bermain di New Century Hall, Manchester. Mereka menjadi korban salah sasaran dari oknum polisi setempat yang sedang razia anak di bawah umur. Ketika mau masuk ke dalam sebuah klab, mereka ditolak. Noel dan Mitch sempat ditarik polisi, mereka melawan dan mendapat beberapa pukulan. Jimi terhindar dari perlakuan tersebut karena memperlihatkan paspor Amerika. Untunglah keadaan bisa diatasi karena turun tangan sang manajer.

Tidak berapa lama Hendrix sembuh dari luka bakarnya pada bulan Mei, single ‘Purple Haze’ dilepas ke pasar. Sempat menduduki tangga ketiga pada chart, single tersebut segera disusul oleh album pertamanya, Are You Experienced? Album ini segera menyita perhatian pencinta musik dunia dan nangkring di posisi kedua pada chart selama 33 minggu. Jimi Hendrix Experience mengadakan tour Eropa dimulai di Neue Welt, Berlin, Jerman. Walaupun sempat kaget terhadap respon penonton Jerman yang kalem, mereka terkesan dengan pengetahuan publik Jerman tentang mereka. Dan tour pun berlanjut ke Denmark, Belanda, Perancis dan negara-negara Skandinavia.

Setelah masa awal dengan irama blues yang kental –seperti Satisfaction karya Stones yang pada prinsipnya adalah blues, kata Keith Richard– berkembanglah musik rock yang memadukan musik dan seni pertunjukan. Aliran diawali dengan seniman pop dunia, Andy Warhol, yang berkolaborasi dengan The Velvet Underground. Dan yang sering disebut puncak dalam masa ini –yang juga dikenal sebagai art rock– adalah The Wall karya Pink Floyd, berupa pertunjukan teater rock. Jimi Hendrix kemudian meninggal di London, Inggris, 18 September 1970 pada umur 27 tahun.