Merayakan Hari Jazz Sedunia

“The earth has music for those who listen.”
– William Shakespeare

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, jazz secara resmi dirayakan di seluruh dunia tertanggal 30 April. Pengesahan untuk momen historis tersebut diberikan oleh UNESCO menjadi “International Jazz Day” yang akan diperingati setiap tahunnya.

Sebelum terwujud International Jazz Day, awalnya merupakan sebuah festival bulanan Jazz Appreciation Month saban April yang dimulai sejak 2001 oleh John Edward Hasse, kurator Smithsonian’s National Museum of American History untuk merekognisi jazz sebagai seni asli Amerika.

ade-brothers-international-jazz-day.jpg

Ide perihal International Jazz Day datang dari seorang ikon jazz Herbie Hancock yang tahun lalu ditunjuk menjadi Goodwill Ambassador UNESCO, sebagai program pertamanya. Misi untuk mendorong dialog lintas budaya serta pemahaman tentang jazz, lewat edukasi jazz terutama kepada anak-anak yang memiliki keterbatasan sarana belajar itu mendapat respons positif oleh 195 negara anggota yang menyetujui rancangan tersebut.

Disambut baik pula oleh Direktur-Jenderal UNESCO Irina Bokova yang turut mendukung International Jazz Day, ia berpendapat bahwa jazz memiliki kontribusi penting sebagai sarana komunikasi yang melampaui perbedaan dalam tataran global.

Maraton International Jazz Day bermula  27 April 2012 dengan sebuah perhelatan di Markas Besar UNESCO di Paris, meliputi sederet program edukasi dan konser malam harinya. Penampil antara lain Herbie Hancock, pianis muda berbakat asal Armenia Tigran Hamasyan, basis senior Marcus Miller, pula chanteuse Barbara Hendricks, Dee Dee Bridgewater, George Benson, berikut para musisi jazz setempat.

Sejatinya, semenjak kelahirannya di New Orleans akhir abad ke-19, jazz merupakan suatu ekspresi bunyi yang memiliki elemen plural; berakar dari tradisi musik Afrika namun juga terkandung preferensi musik tradisi Eropa – dibawa oleh para imigran waktu itu – yang kemudian menjadi sarana aktualisasi diri kaum kulit hitam yang tertindas oleh sistem perbudakan.

Hingga perkembangan dewasa ini, jazz dengan mudahnya berakulturasi dengan berbagai unsur musikal di penjuru dunia, jazz ialah melting pot besar yang terus berevolusi dan peka zaman. Memang, jazz berasal dan dibentuk oleh orang-orang kulit hitam di Amerika, tetapi kini musik yang berciri improvisasi sebagai nadinya tersebut, dimiliki oleh setiap orang di muka bumi. Siapapun, di manapun, dan kapanpun berhak untuk mengapresiasi jazz.

Pada hari perayaan 30 April 2012, kemeriahan itu diawali dengan berlangsungnya sunrise concert, dan tak ada tempat yang lebih tepat selain Congo Square, New Orleans, lokasi di mana jazz lahir. Di tempat lain; Rio De Janeiro, Cape Town, Carabobo (Venezuela), Malta, Budapest, dan sekurangnya lima puluh titik di penjuru dunia termasuk Jakarta ikut ambil bagian dalam International Jazz Day perdana.

Seremoni yang berjalan di Congo Square, berikut kata sambutan Herbie, Irina, juga Tom Carter selaku Presiden Thelonious Monk Institute of Jazz, yang berperan memfasilitasi acara sedari awal, serta Walikota New Orleans Mitch Landrieu, diwarnai performa insan-insan jazz lintas generasi; Ellis Marsalis, Terence Blanchard, Kermit Ruffins, Jeff ‘Tain’ Watts, dan lain-lain.

Dari New Orleans menuju New York, beralih petang adalah puncak acara International Jazz Day. Bertempat di Markas Besar PBB, sunset concert merupakan pertunjukan yang bersejarah, menampilkan musisi-musisi jazz lintas benua, genre, dan usia. Quincy Jones membuka dengan pidato yang menegaskan bahwa jazz ialah musik kebanggan Amerika, dan harus selalu dikembangkan. Dari benua Afrika, Richard Bona, Angelique Kidjo, dan Hugh Masekala, Timur Tengah diwakilkan Eli Degibri dan Tarek Yamani, sedangkan Lang Lang, Hiromi, Zakir hussain, dan Shankar Mahadevan representasi daratan Asia.

Saksofonis senior Jimmy Heath (86) beraksi dengan kontrabasis Esperanza Spalding dari generasi kini, serta ketiga alumni Miles Davis Quintet yaitu Herbie Hancock, Ron Carter, dan Wayne Shorter juga Jack DeJohnette menggantikan drummer Miles, Tony Williams (1945-1997) begitu  fenomenal. Berakhir oleh kejutan dari Stevie Wonder bawakan lagu “As” dari album Songs in the Key of Life.

Di Indonesia, International Jazz Day turut dirayakan, lewat sebuah konser kecil namun menarik. Bertajuk “Celebrating International Jazz Day, Celebrating Life,” menampilkan Ade & Brothers di Pusat Kebudayaan Amerika Serikat – @america, Pacific Place Jakarta. Rencana awal untuk menghadirkan trio  M. Ade Irawan (piano), Donny Sundjojo (kontrabas), dan Sandy Winarta (drum) terpaksa berubah format menjadi duet piano-kontrabas karena sang drummer berhalangan hadir.

Meskipun hanya tampil berdua, Ade, pianis berbakat yang tuna netra sejak lahir mampu untuk memukau audiens bersama sajian atraktif Donny. Ade lahir di Colchester, Inggris 18 tahun lalu belajar musik secara otodidak dan mengandalkan pendengaran yang luar biasa. Menurut sang ibunda, Endang Irawan yang malam itu pula hadir, puteranya tersebut mulai menyentuh kibor waktu berusia 5 tahun kemudian pindah ke piano dua tahun setelahnya, dan berimprovisasi jazz sejak umur 9.

Menyajikan sederet nomor jazz standar dan komposisi orisinil, Ade dan Donny tampil santai dan komunikatif. Keduanya adalah musisi jazz muda terbaik di tanah air, Donny dengan jam terbang yang tinggi dan permainan memikat, pula Ade yang punya banyak pengalaman, di antaranya bermain pada Chicago Jazz Festival 2007, resital piano solo di Sydney Opera House, Australia yang mendapat banyak pujian kalangan internasional. Ditambah kesempatan untuk tampil bersama para musisi jazz dan blues terdepan di Chicago.

Sesuai dengan tema acara, merayakan International Jazz Day berarti pula merayakan kehidupan itu sendiri, seperti diteladani oleh Ade dan berbagai insan jazz di seluruh dunia. Dalam konteks kekinian, jazz adalah milik dunia, serta dapat memberi perubahan untuk masa depan yang lebih baik, dengan kaum muda sebagai agennya. Mengutip tagline Jazz Appreciation Month, “Jazz: Spontaneous. Never Ordinary. Completely Genuine.”

Happy Jazzday!

sumber

Fakta di Balik Habis Gelap Terbitlah Terang RA Kartini

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_10018776.jpg

Raden Ajeng Kartini, tentu tidak asing lagi di telinga kita, terutama bagi kaum wanita. Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini untuk mengenang jasa-jasa RA Kartini.

RA Kartini terkenal dengan kumpulan-kumpulan surat yang ditujukan kepada sahabat penanya, yang kemudian disusun oleh Mr. JH Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan Pemerintah Hindia-Belanda, menjadi sebuah buku berjudul “Door Duisternis Tot Licht, Gedachten van RA Kartini”.

Buku itu kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Konon judul itu diambil karena judul itu yang paling sering dipakai RA Kartini dalam surat-suratnya. Surat-suratnya sendiri memakai bahasa Belanda, dan dikirimkan ke sahabat-sahabat RA Kartini, yaitu Estella H Zeehandelaar, Nyonya Ovink-Soer, Nyonya RM Abendanon-Mandri, Tuan Prof Dr GK Anton dan Nyonya, Hilda G de Booij, dan Nyonya Van Kol.

4526775.jpg

Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu isi pemikiran Kartini yang dituangkan dalam surat-suratnya. Bahkan, tak banyak perempuan yang membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Selama ini, perayaan Hari Kartini selalu dirayakan dengan mengadakan lomba memakai konde dan kebaya saja. Karena itu, amat penting bila kaum perempuan mengetahui apa sebenarnya yang menjadi buah pikiran Kartini dalam surat-suratnya.

Lalu, ada apa di sebenarnya di balik buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” tersebut? Berikut fakta-faktanya seperti dilansir jadiBerita dari berbagai sumber.

Rupanya, satu hal yang jarang diungkapkan, bahkan terkesan disembunyikan dalam catatan sejarah, adalah usaha Kartini untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, serta bercita-cita agar Islam disukai. Simak suratnya yang dikirimnya kepada Ny. Van Kol, berikut ini :

”Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya (door duisternis Tot Licht). Namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya: Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”
-Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902)

Sosok Kartini bahkan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kampanye emansipasi yang menyalahi fitrah wanita, yakni mendorong kaum wanita agar diperlakukan sederajat dengan kaum pria, diperlakukan sama dengan pria, padahal kodrat pria dan wanita berbeda, demikian pula peran dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Yang kita salahkan adalah mereka yang menyalahartikan kemauan Kartini. Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya, yaitu “Door Duisternis Tot Licht” yang telanjur diartikan sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) mengartikan kalimat “Door Duisternis Tot Licht” sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang bahasa Arabnya adalah “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“. Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya membawa manusia dari kegelapan (jahiliyah) ke tempat yang terang benderang (hidayah atau kebenaran Ilahi).

Selain kemauan Kartini itu, surat-surat buatan Kartini rupanya juga menggambarkan kepribadian Kartini sendiri. Sajak “Jiwa”, misalnya, terasa sangat menyentuh, syahdu, dan romantis. “Bahagia nian bila bertemu jiwa yang sama,” tulis Kartini. Kata-kata yang disampaikan mewakili keinginan Kartini menemukan jiwa yang sama, yang seiring sejalan dengannya.

surat-kartini.jpeg

Kartini juga ternyata merupakan sosok yang riang. Surat pertamanya pada Stella menggambarkan suasana perkenalan dan gagasan Kartini akan emansipasi. Katanya, sudah lama sekali dia (Kartini) menginginkan kebebasan. Selama ini sebagai perempuan, dia merasa dikurung di dalam rumah. Titik terang hanyalah saat dia bisa membaca buku dan menuliskan surat pada teman-temannya.

“Hukum dan pendidikan hanya milik laki-laki belaka,” tutur perempuan yang lahir 21 April 1899 ini.

Kartini adalah orang yang penuh semangat, berseri-seri, dan berani berteriak lantang. “Tahukah kamu apa semboyan saya, ‘Saya Mau!’ Dua patah kata pendek itu sudah melalui bergunung-gunung rintangan,” soraknya.

Dari surat-suratnya, tertangkap jelas bahwa Kartini adalah sosok yang peka terhadap apa yang terjadi di lingkungannya, dan kaya akan buah pikiran.

Lalu benarkah sosok RA Kartini ini identik dengan emansipasi? Surat Kartini-lah yang akan menjawabnya, berikut ini:

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
-Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902-

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi.

Fakta menarik lainnya dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” ini adalah bukunya sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, seperti Melayu, Jawa, dan bahasa Sunda. Armijn Pane juga membagi kumpulan surat Kartini tersebut ke dalam 5 bahasan. Ia melakukan ini agar tahapan dan pemikiran Kartini dapat lebih terasa saat membaca buku ini. Bahkan ada versi lain dari buku ini, berjudul “Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya” yang diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisna.

Selain itu, Armijn Pane juga mengurangi jumlah surat dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi hanya 87 surat. Padahal pada buku asli “Door Duisternis Tot Licht”, surat Kartini jumlahnya bisa sampai ratusan. Alasan Armijn mengurangi jumlah surat itu adalah agar buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” dapat dibaca sebagai suatu roman. Pengurangan itu juga dapat membuat kisah hidup Kartini dalam buku ini lebih mudah dipahami.

Buku “Habis Gelap Terang Terbitlah Terang” menjadi buku yang sangat inspiratif bagi kaum wanita Indonesia. Semua pemikiran dan segala hal yang terjadi dalam hidup Kartini, ia tuangkan dalam surat-suratnya. Semoga wanita Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi, seperti sosok Kartini yang inspirasional. (tom)

HARI KESEHATAN DUNIA: Penelitian Ungkap jika Instagram Bisa Cegah Depresi pada Remaja

hari-kesehatan-dunia-penelitian-ungkap-jika-instagram-bisa-cegah-depresi-pada-remaja-7flwQqJPjw.jpg

DALAM era ketika teknologi sangat mendominasi kehidupan kita, mudah untuk mengatakan bahwa media sosial adalah berkat. Semakin mudah untuk merasa langsung terhubung dengan orang di seluruh dunia, baik melalui Facebook, Twitter atau Instagram.

Meski dampak efek dari media sosial selalu terpecah menjadi dua. Banyak penelitian telah menghubungkan jaringan sosial terhadap depresi dan isolasi sosial, serta memunculkan perasaan iri, rasa tidak aman dan kurang harga diri.

Namun, penelitian lain menunjukkan, situs media sosial dapat berdampak positif bagi orang-orang yang berjuang dengan kecemasan sosial dan depresi. Bertepatan pada Hari Kesehatan Sedunia 2017 yang mengangkat depresi sebagai tema, sebuah studi baru telah melakukan penelitian dampak media sosial terhadap individu depresi.

 

Studi menunjukkan bahwa Instagram benar-benar dapat memperkuat kedekatan persahabatan mereka yang pada akhirnya membantu gangguan mental. Dengan jutaan pengguna aktif dari seluruh dunia, Instagram memiliki keanggotan yang lebih besar dari kehidupan, termasuk selebriti terbesar di dunia.

Studi ini mengatakan, ”like” dan repost semua orang dapat memberikan dorongan untuk hubungan. Dengan demikian, hal ini dapat membantu dalam mencegah depresi.

“Kelompok usia remaja mungkin sangat berisiko terhadap dampak dari Instagram, mengingat meningkatnya popularitas Instagram pada masa remaja dan peningkatan gejala depresi selama tahap kehidupan. Tapi, studi ini menawarkan wawasan yang lebih besar hasil dari penggunaan Instagram pada remaja,” jelas peneliti Eline Frison dari University of Leuven di Belgia yang dikutip Zeenews, Jumat (7/4/2017).

Frison mendirikan sebuah studi skala besar untuk menyelidiki hubungan antara penggunaan situs jejaring sosial pada remaja dan kesejahteraan mereka dari 2013-2014. Para peserta mengisi survei untuk periode 6 bulan penggunaan media sosial.

Survei meminta siswa mengisi tentang penggunaan sistus jejaring sosial seperti Facebook, Snapchat, dan Instagram, serta kesejahteraan (gejala depresi, kepuasaan hidup, kesepian) mereka. Data analisis mengungkapkan, menggunakan Instagram pada satu titik itu terkait dengan peningkatan kedekatan dengan teman-teman (persepsi bahwa mereka dihargai dan dicintai oleh teman-teman mereka) 6 bulan kemudian. Pada akhirnya ini berhubungan dengan tingkat depresi yang lebih rendah.

Namun, para peneliti memperingatkan, jika penggunaan aplikasi berbagi foto tersebut gagal untuk merangsang perasaan kedekatan dengan teman-teman, maka bisa berbahaya dalam jangka panjang.

Sumber.

Hari Film Nasional

TANGGAL 30 mungkin bagi sebagian orang akan menjadi tanggal yang sangat berat untuk dilalui, karena ini akhir bulan dan biasanya keadaan dompet sudah sangat menipis. Tapi bagi insan perfilman naional, hari ini merupakan harinya mereka, hari dimana mereka merayakan Hari Film Nasional.

Hari Film Nasional memang ditetapkan pada 30 Maret 1962, tapi sebenarnya industri film nasional sendiri sudah ada sejak tahun 1926, dan terus berkembang sampai tahun 1942 meskipun kalah bersaing dengan film-film asing. Pada saat itu para pemilik perusahaan film lokal adalah orang-orang Cina & Belanda. Film nasional pertama yang hadir di Indonesia ialah film yang berjudul “Loetong Kasaroeng” pada tahun 1926, ini merupakan sebuah film bisu yang disutradarai oleh dua orang berkebangsaan Belanda yang bernama G. Krugers dan L. Heuveldorf. Film ini dibuat di Bandung dan para pemiannya orang-orang pribumi yang merupakan anak-anak dari bupati Bandung Wiranata Kusuma II.

Setelah berbagai film dibuat oleh sutradara dan perusahaan asing, akhirnya pada 30 Maret 1950 dilakukan syuting perdana film “Darah dan Doa” atau “Long March of Siliwangi” yang disutradarai dan diproduksi oleh orang asli Indonesia yakni Usmar Ismail melalui Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia). Film ini bercerita tentang seorang komando tentara yang terlibat cinta lokasi dengan seorang pengungsi wanita Indo-Belanda dalam sebuah perjalanan pengungsian.

Karena ini merupakan film pertama yang mencirikan Indonesia, maka tanggal 30 Maret yang merupakan hari pertama syuting film ini dijadikan sebagai hari lahirnya film nasional. Pengambilan keputusan tersebut diambil pada 11 Oktober 1962 oleh Dewan Film Nasional yang melakukan konferensi dengan organisasi perfilman.

15_darahdandoa.jpg

Memasuki tahun 1980an perfilman Indonesia bisa dibilang mencapai era keemasannya. Karena film Indonesia mampu menjadi raja di negeri sendiri. Namun memasuki akhir tahun 1990an, film Indonesia seperti terjun bebas. Bioskop-bioskop yang ada di kota besar selalu dipenuhi oleh film produksi Hollywood. Selain itu maraknya sinteron yang tayang di televisi nasioanal juga menurunkan tingkat kunjungan ke bioskop.

Baru pada tahun 2002, kehadiran film “Ada Apa Dengan Cinta” mampu menggairahkan perfilman Indonesia. Dan sejak itu para sineas film Indonesia seolah berlomba-lomba untuk menciptakan film yang berkualitas. Meski sempat diwarnai dengan ramainya film yang bertema komedi seks, tapi banyak juga film Indonesia yang berkualitas. Seperti “Laskar Pelangi”, “Negeri 5 Menara”, “5cm”, dan yang fenomenal ialah “The Raid”. Film ini sangat sukses di tingkat dunia dan telah memenangkan berbagai penghargaan seperti The Best Film sekaligus Audience Award di Jameson Dublin International Film Festival, dan masuk dalam jajaran 50 film action terbaik sepanjang masa versi imdb.com. Ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa sekaligus membanggakan bagi perfilman Indonesia.

Memang tak banyak di antara kita yang merayakan Hari Film Indonesia sebagai wujud kecintaan kita terhadap karya anak bangsa. Sebaiknya kita sebagai bangsa Indonesia juga ikut mendukung Hari Film Nasional ini dengan cara yang kita bisa, seperti dengan menonton film nasional ke bioskop. Agar industri film Indonesia bisa maju seperti India dengan Boolywood-nya dan Amerika dengan Hollywood-nya. Namun, tentunya hal itu harus dibarengi dengan peningkatan kualitan film dan partisipasi masyarakat untuk menontonnya. Semoga ke depannya, kita semua bisa menyaksikan tontonan berkualitas yang dihasilkan oleh anak bangsa sendiri.

Selamat Hari Film Indonesia!

 

“Halo-halo Bandung”, Kisah Heroik di Balik Lautan Api

Tanggal 24 Maret 1946 mungkin sudah hilang atau tidak pernah menjadi ingatan kolektif kita bangsa Indonesia, namun menjadi memori yang selalu dikenang masyarakat kota Bandung khususnya mereka yang menjadi saksi hidup saat itu.

monumen-bandung-lautan-api-dari-seven7-years.blogspot.com_.jpg

Saat itulah Bandung menjadi Lautan Api, sebuah peristiwa heroik dalam perspektif yang berbeda. Tidak seperti perjuangan arek-arek Suroboyo yang mengorbankan ribuan nyawa, masyarakat kota Bandung rela meninggalkan rumah dan harta bendanya karena mengikuti jejak para pejuang yang diharuskan mundur ke arah selatan kota Bandung. Mereka rela meninggalkan bahkan turut membakar kota yang didiami sejak lahir karena tidak rela diduduki oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) -Pemerintahan Sipil Hindia Belanda- yang “diboncengi” Inggris paska kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Sulit untuk dibayangkan apakah kita generasi sekarang mampu dan iklas melakukan itu semua.

Rasa nasionalisme yang tinggi membuat masyarakat kota Bandung mendukung seratus persen niat TKR Divisi III di bawah komando Letkol A. H. Nasution yang ingin membumihanguskan kota Bandung. Hubungan rakyat dan tentara saat itu sangat erat, tidak seperti sekarang yang sering diwarnai bentrokan karena sikap aparat yang represif dan arogan sejak era Orde Baru.

Euforia kemerdekaan serta dukungan masyarakat kota Bandung membuat semangat para pejuang berkobar-kobar. Meski terjadi kekacauan pada awal dimulainya aksi Lautan Api -kesepakatan peledakan pertama pukul 24.00 tapi pukul 20.00 sudah terjadi ledakan sehingga memicu kepanikan para pejuang yang membuat banyak gedung tidak terbakar- namun semangat para pejuang untuk bergerilya tidak pernah surut. Serangan-serangan sporadis terus dilakukan ke pemukiman Eropa di Bandung Utara, begitu juga dengan jalur logistik pasukan Inggris dan Belanda. Saat-saat heroik ini menorehkan nama Mohammad Toha yang berhasil meledakkan gudang amunisi Belanda meski harus mengorbankan nyawanya. Aksi Mohammad Toha juga banyak dilakukan oleh para pejuang lainnya.

Jika kita memahami dengan perspektif yang berbeda maka peristiwa Bandung Lautan Api layak disejajarkan dengan peristiwa-peristiwa heroik lainnya seperti 10 November, Serangan Umum 1 Maret, Palagan Ambarawa atau Medan Area, meskipun dikecam oleh Panglima Jenderal Sudirman karena tidak mengikuti instruksi untuk tetap mempertahankan tiap jengkal tanah.

Para pejuang Bandung lebih realistis karena 100 pucuk senjata yang dimiliki tidak mungkin melawan ribuan pasukan Inggris dan Belanda yang bersenjata lengkap dan terlatih, oleh karena itu praktek bumihangus adalah cara yang terbaik. Saya sangat kagum dengan manunggalnya pejuang dan rakyat kota Bandung dalam kurun waktu tersebut. Itulah kesan saya ketika membaca buku “Saya Pilih Mengungsi, Pengorbanan Rakyat Bandung Untuk Kedaulatan” karya Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (2002).

Banyak kisah unik di balik peristiwa Bandung Lautan Api yang terungkap di dalam buku yang banyak menggunakan data primer ini. Salah satu kisah yang menurut saya menarik dan relevan dengan semangat Bandung Lautan Api adalah awal terciptanya lagu “Halo-halo Bandung”. Selama ini yang kita ketahui lagu Halo-halo Bandung diciptakan oleh Ismail Marzuki, ternyata ada versi lain yang mengatakan bahwa lagu ini lahir dan tercipta oleh para pejuang di Bandung yang multi etnis.

unnamed.jpg

Terciptanya Lagu “Halo-halo Bandung”

Kota Bandung yang telah lama ditinggalkan dan sebelumnya menjadi Lautan Api menginspirasi para pejuang untuk menciptakan sebuah lagu yang membangkitkan semangat. Dikisahkan bahwa penciptaan lagu Halo-halo Bandung berproses dalam candaan para pejuang yang memiliki aneka ragam budaya. Kata “Halo” merupakan sapaan khas pemuda Medan karena terinspirasi dari film cowboy yang marak saat itu. Para pemuda Medan sering menggunakannya untuk menyapa kota Bandung tercinta yang nampak di kejauhan. Sapaan ini terus diucapkan berulang kali sehingga terciptalah kalimat “Halo-halo Bandung” yang akhirnya memiliki irama seperti saat ini.

Kalimat ini tidak langsung terangkai menjadi sebuah lagu karena pada malam hari para pejuang sibuk bergerilya ke dalam kota. Siang hari baru mereka memiliki waktu santai sambil menunggu malam tiba. Saat itulah irama Halo-halo Bandung yang sudah tercipta dibahas lagi. Para pejuang mencari inspirasi lirik berikutnya dan kebetulan ketika itu Bandung menjadi Ibu Kota Keresidenan Priangan sehingga tercipta lirik “Ibu Kota Periangan”. Lirik berikutnya merupakan ungkapan sebuah kenangan karena kota Bandungyang sudah lama ditinggalkan menjadi kenangan bagi para pejuang, maka terbentuk syair “kota kenang-kenangan”.

Lirik-lirik tersebut mengalir dalam obrolan para pejuang. Pertemuan dengan para pemuda Ambon yang tergabung dalam Pemuda Indonesia Maluku (PIM) memberikan inspirasi baru karena pemuda Ambon yang lama tidak bertemu dengan pejuang lain celetuk berkata “cukimai! sudah lama beta tidak bertemu dengan kau!”. Sapaan ini akhirnya dijadikan syair berikutnya “sudah lama beta, tidak berjumpa dengan kau”.

Kota Bandung yang telah dijadikan Lautan Api dan gerilya yang sering dilakukan pejuang di malam hari dengan tujuan menyingkirkan NICA dari kota tersebut membuat para pejuang yang multi etnis itu menutup lagu ini dengan lirik “sekarang telah menjadi Lautan Api, mari bung rebut kembali”. Maka jadilah lagu Halo-halo Bandung.

Halo-halo Bandung, Ibu Kota Periangan

Halo-halo Bandung, kota kenang-kenangan

Sudah lama beta, tidak berjumpa dengan kau

Sekarang telah menjadi Lautan Api

Mari bung rebut kembali

Itulah kisah bagaimana proses terciptanya lagu Halo-halo Bandung yang merupakan salah satu cara untuk memotivasi semangat para pejuang di Bandung. Semangat yang tak pernah pudar, meski tersingkir dari kotanya sendiri. Semangat demi sebuah kedaulatan hingga rela kotanya menjadi Lautan Api. Peristiwa yang patut dikenang, bukan saja oleh masyarakat kota Bandung namun kita semua sebagai sebuah bangsa yang besar. Bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

Sumber

Hewan Dan Tumbuhan Langka Yang Hampir Punah

Bunga-Rafflesia.jpg
Hewan dan tumbuhan langka yang hampir punah – Kita semua telah mengetahui bersama jika pada dasarnya ada banyak sekali jenis hewan dan juga tumbuhan yang ada di muka bumi ini. Selain manusia, hewan dan juga tumbuhan juga merupakan jenis makhluk hidup yang tinggal di bumi ini. Pada saat anda duduk dibangku sekolah mungkin anda sudah banyak belajar tentang hewan dan juga tumbuhan. Saya sangat yakin jika anda sudah pernah mendengar istilah hewan dan tumbuhan langka dan hampir punah.

Yah, sama seperti yang sudah saya jelaskan tadi diatas, jika sebetulnya ada banyak sekali jenis hewan dan juga tumbuhan yang hidup di dunia ini, namun satu hal yang harus anda ketahui, jika tidak semua hewan yang ada di dunia ini memiliki jumlah yang banyak, sebab ada beberapa jenis hewan dan juga tumbuhan yang hanya memiliki jumlah sedikit dan hampir mengalami kepunahan. Karena jumlahnya yang sedikit itulah yang menyebabkan jenis dari hewan dan tumbuhan tersebut diketegorikan ke dalam jenis hewan dan tumbuhan langka.

hewan dan tumbuhan langka, berkaitan dengan hewan yang hampir punah. Kenapa dikatakan demikian? Karena hewan dan juga tumbuhan yang dikategorikan ke dalam jenis yang langka itu karena jumlahnya yang cukup sedikit dan bisa dikatakan hampir punah. Maka dari itu antara langka dan punah sebetulnya saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Meskipun, tidak semua jenis hewan dan juga tumbuhan yang langka itu hampir punah. Nah, untuk lebih jelasnya mari kita simak penjelasan di bawah.

Hewan langka dan tumbuhan langka

Tahukah anda jika di dunia ini sebetulnya ada banyak sekali jenis hewan dan tumbuhan langka. Nah, karena jumlahnya yang tidak sedikit tersebut, membuat saya tidak mungkin untuk menyebutkannya satu persatu. tapi, anda tidak perlu khawatir karena saya tetap akan memberika beberapa contoh jenis hewan dan tumbuhan yang dikatakan langka. Berikut adalah contoh hewan dan juga tumbuhan tersebut :

  1. Tumbuhan rafflesia. Tumbuhan rafflesia merupakan jenis tumbuhan langka, karena jumlahnya yang saat ini sudah sangat sedikit.
  2. Tumbuhan bunga bangkai. Populasi dari bunga bangkai yang mulai menurun, menyebabkan bunga bangkai menjadi bagian dari anggota tumbuhan yang langka.
  3. Tumbuhan kantong semar. Karena jumlahnya yang mulai sedikit, kantong semar dikategorikan ke dalam jenis tumbuhan yang langka.
  4. Hewan anoa. Jumlah dari hewan anoa dari tahun ke tahun semakin menurun populasinya, maka dari itu hewan anoa dimasukan ke dalam jenis hewan langka.
  5. Hewan badak. Badak adalah jenis hewan langka, sebab populasinya saat ini sudah sangat sedikit.
  6. Hewan elang jawa. Elang jawa memiliki populasi yang sangat sedikit, untuk itu dimasukan dalam jenis hewan langka.

141140_200957_elang_jawa.jpg

Hewan dan tumbuhan yang hampir punah

Hewan dan tumbuhan langka juga bisa dikategorikan ke dalam jenis hewan dan tumbuhan yang hampir punah, sebab hewan dan juga tumbuhan dikatakan sebagai hewan yang langka itu karena jumlah populasinya yang semakin tahun semakin sedikit. Dan keberadaannya semakin susah untuk ditemukan, karena jumlahnya yang sangat sedikit. Beberapa contoh hewan dan tumbuhan langka diatas yang telah saya sebutkan, itu juga termasuk ke dalam jenis hewan dan tumbuhan yang semakin punah. Maka dari itu jika anda mempelajari tentang hewan dan tumbuhan langka, maka secara otomatis anda juga sudah belajar tentang hewan dan juga tumbuhan yang hampir punah.

Anniversary Serenata PMC

index.jpg

HAPPY BIRTHDAY SPMC!!!
7 Tahun sudah Serenata Private Music Course menjembatani adik adik yang ingin belajar musik..masih sangat muda…semoga ke depannya semakin sukses…semakin jaya…murid2 semakin pandai dan enjoy dalam bermusik! (^^)

Jangan lupa yaa, di tanggal 4 Maret 2017 nanti Serenata PMC dan La Alfabeta akan mengadakan kegiatan sosial yang bertajuk Anniversary Celebration Serenata PMC & La Alfabeta.

Akan ada banyak kegiatan juga loh nanti, salah satu nya akan ada Art Short Course dari La Alfabeta dan Vocal Course dari Serenata PMC. See you There ^^