Fakta di Balik Habis Gelap Terbitlah Terang RA Kartini

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_10018776.jpg

Raden Ajeng Kartini, tentu tidak asing lagi di telinga kita, terutama bagi kaum wanita. Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini untuk mengenang jasa-jasa RA Kartini.

RA Kartini terkenal dengan kumpulan-kumpulan surat yang ditujukan kepada sahabat penanya, yang kemudian disusun oleh Mr. JH Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan Pemerintah Hindia-Belanda, menjadi sebuah buku berjudul “Door Duisternis Tot Licht, Gedachten van RA Kartini”.

Buku itu kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Konon judul itu diambil karena judul itu yang paling sering dipakai RA Kartini dalam surat-suratnya. Surat-suratnya sendiri memakai bahasa Belanda, dan dikirimkan ke sahabat-sahabat RA Kartini, yaitu Estella H Zeehandelaar, Nyonya Ovink-Soer, Nyonya RM Abendanon-Mandri, Tuan Prof Dr GK Anton dan Nyonya, Hilda G de Booij, dan Nyonya Van Kol.

4526775.jpg

Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu isi pemikiran Kartini yang dituangkan dalam surat-suratnya. Bahkan, tak banyak perempuan yang membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Selama ini, perayaan Hari Kartini selalu dirayakan dengan mengadakan lomba memakai konde dan kebaya saja. Karena itu, amat penting bila kaum perempuan mengetahui apa sebenarnya yang menjadi buah pikiran Kartini dalam surat-suratnya.

Lalu, ada apa di sebenarnya di balik buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” tersebut? Berikut fakta-faktanya seperti dilansir jadiBerita dari berbagai sumber.

Rupanya, satu hal yang jarang diungkapkan, bahkan terkesan disembunyikan dalam catatan sejarah, adalah usaha Kartini untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, serta bercita-cita agar Islam disukai. Simak suratnya yang dikirimnya kepada Ny. Van Kol, berikut ini :

”Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya (door duisternis Tot Licht). Namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya: Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”
-Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902)

Sosok Kartini bahkan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kampanye emansipasi yang menyalahi fitrah wanita, yakni mendorong kaum wanita agar diperlakukan sederajat dengan kaum pria, diperlakukan sama dengan pria, padahal kodrat pria dan wanita berbeda, demikian pula peran dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Yang kita salahkan adalah mereka yang menyalahartikan kemauan Kartini. Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya, yaitu “Door Duisternis Tot Licht” yang telanjur diartikan sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) mengartikan kalimat “Door Duisternis Tot Licht” sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang bahasa Arabnya adalah “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“. Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya membawa manusia dari kegelapan (jahiliyah) ke tempat yang terang benderang (hidayah atau kebenaran Ilahi).

Selain kemauan Kartini itu, surat-surat buatan Kartini rupanya juga menggambarkan kepribadian Kartini sendiri. Sajak “Jiwa”, misalnya, terasa sangat menyentuh, syahdu, dan romantis. “Bahagia nian bila bertemu jiwa yang sama,” tulis Kartini. Kata-kata yang disampaikan mewakili keinginan Kartini menemukan jiwa yang sama, yang seiring sejalan dengannya.

surat-kartini.jpeg

Kartini juga ternyata merupakan sosok yang riang. Surat pertamanya pada Stella menggambarkan suasana perkenalan dan gagasan Kartini akan emansipasi. Katanya, sudah lama sekali dia (Kartini) menginginkan kebebasan. Selama ini sebagai perempuan, dia merasa dikurung di dalam rumah. Titik terang hanyalah saat dia bisa membaca buku dan menuliskan surat pada teman-temannya.

“Hukum dan pendidikan hanya milik laki-laki belaka,” tutur perempuan yang lahir 21 April 1899 ini.

Kartini adalah orang yang penuh semangat, berseri-seri, dan berani berteriak lantang. “Tahukah kamu apa semboyan saya, ‘Saya Mau!’ Dua patah kata pendek itu sudah melalui bergunung-gunung rintangan,” soraknya.

Dari surat-suratnya, tertangkap jelas bahwa Kartini adalah sosok yang peka terhadap apa yang terjadi di lingkungannya, dan kaya akan buah pikiran.

Lalu benarkah sosok RA Kartini ini identik dengan emansipasi? Surat Kartini-lah yang akan menjawabnya, berikut ini:

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
-Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902-

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi.

Fakta menarik lainnya dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” ini adalah bukunya sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, seperti Melayu, Jawa, dan bahasa Sunda. Armijn Pane juga membagi kumpulan surat Kartini tersebut ke dalam 5 bahasan. Ia melakukan ini agar tahapan dan pemikiran Kartini dapat lebih terasa saat membaca buku ini. Bahkan ada versi lain dari buku ini, berjudul “Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya” yang diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisna.

Selain itu, Armijn Pane juga mengurangi jumlah surat dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi hanya 87 surat. Padahal pada buku asli “Door Duisternis Tot Licht”, surat Kartini jumlahnya bisa sampai ratusan. Alasan Armijn mengurangi jumlah surat itu adalah agar buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” dapat dibaca sebagai suatu roman. Pengurangan itu juga dapat membuat kisah hidup Kartini dalam buku ini lebih mudah dipahami.

Buku “Habis Gelap Terang Terbitlah Terang” menjadi buku yang sangat inspiratif bagi kaum wanita Indonesia. Semua pemikiran dan segala hal yang terjadi dalam hidup Kartini, ia tuangkan dalam surat-suratnya. Semoga wanita Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi, seperti sosok Kartini yang inspirasional. (tom)

Advertisements